DakwahOpini

Akar yang Dalam, Langit yang Tinggi: Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka

Oleh: Ahmad Gabriel

Waketum PP Pemuda PUI

Setiap kali melihat sebatang pohon yang tumbuh kokoh, perhatian kita biasanya tertuju pada apa yang tampak: batang yang menjulang, dahan yang melebar, daun yang rindang, dan buah yang dapat dipetik.

Kita jarang memikirkan bagian yang justru paling menentukan kehidupannya: akar yang bekerja dalam gelap.

Padahal, pohon tidak pernah tumbuh hanya ke satu arah. Ia tumbuh ke bawah sekaligus ke atas. Akarnya menghunjam ke dalam tanah, sementara batang dan cabangnya menjulang menuju langit. Dua arah yang tampak berlawanan, tetapi sesungguhnya merupakan satu kesatuan pertumbuhan.

Barangkali, di situlah kita dapat belajar tentang Indonesia.

Sebuah bangsa yang ingin tumbuh tinggi harus memiliki akar yang dalam.

Indonesia telah 81 tahun merdeka. Delapan puluh satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang itu, generasi demi generasi telah lahir, tumbuh, bekerja, dan mewariskan cita-cita tentang Indonesia yang merdeka, bersatu, adil, dan sejahtera.

Namun, setiap peringatan kemerdekaan semestinya tidak hanya menjadi kesempatan untuk melihat seberapa jauh kita telah berjalan. Ia juga menjadi momentum untuk menoleh sejenak: dari mana kita berasal, nilai apa yang membuat kita berdiri, dan ke mana sebenarnya kita hendak menuju?

Sebab bangsa yang lupa akarnya dapat tumbuh tinggi, tetapi mudah kehilangan arah.

Akar yang Bekerja dalam Gelap

Akar tumbuh dalam kesunyian. Ia menembus tanah yang keras, mencari air, mendesak batu, dan bertahan di ruang yang tidak pernah mendapatkan tepuk tangan.

Tidak ada yang melihat perjuangannya. Tidak ada yang memotretnya. Tidak ada yang memberinya penghargaan.

Namun justru dari sanalah pohon memperoleh kekuatan untuk berdiri.

Begitu pula Indonesia.

Kemerdekaan tidak lahir dari ruang kosong. Di balik Proklamasi 17 Agustus 1945 terdapat perjalanan panjang yang dibangun oleh keberanian, pengorbanan, pendidikan, perjuangan para ulama dan tokoh bangsa, perlawanan rakyat, serta doa orang-orang yang bahkan tidak pernah tercatat dalam buku sejarah.

Ada mereka yang gugur tanpa sempat menikmati kemerdekaan. Ada mereka yang kehilangan harta. Ada keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Ada guru yang mendidik di tengah keterbatasan. Ada rakyat biasa yang mempertahankan tanah air dengan apa pun yang mereka miliki.

Mereka adalah akar-akar bangsa.

Sebagian besar tidak pernah menjadi nama besar. Tetapi seperti akar, mereka bekerja dalam sunyi agar pohon Indonesia dapat berdiri.

Karena itu, memperingati kemerdekaan bukan hanya mengenang mereka sebagai bagian dari masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibangun oleh pengorbanan yang tidak semuanya dapat kita lihat.

Maka jangan sampai kita menikmati teduhnya pohon kemerdekaan sambil melupakan siapa yang menanamnya.

Langit yang Tinggi

Namun pohon tidak cukup hanya memiliki akar.

Ia juga harus tumbuh ke atas.

Batang dan cabangnya mencari cahaya, menembus ruang terbuka, menghadapi angin, hujan, bahkan petir. Semakin tinggi sebuah pohon, semakin besar pula kemungkinan ia diterpa badai.

Ketinggian bukan jaminan keselamatan.

Justru semakin tinggi ia berdiri, semakin besar tantangan yang harus dihadapinya.

Demikian pula sebuah bangsa.

Indonesia tidak boleh berhenti hanya karena telah mencapai kemerdekaan. Kemerdekaan adalah titik awal untuk membangun peradaban.

Kita harus berani menatap langit yang lebih tinggi: pendidikan yang lebih maju, ekonomi yang lebih berkeadilan, teknologi yang lebih berdaulat, masyarakat yang lebih beradab, pemerintahan yang lebih bersih, serta kehidupan berbangsa yang semakin matang.

Kita boleh memiliki cita-cita besar.

Bahkan kita harus memiliki cita-cita besar.

Tetapi semakin tinggi cita-cita itu, semakin dalam pula akar yang harus kita miliki.

Sebab kemajuan tanpa nilai dapat kehilangan arah. Modernitas tanpa karakter dapat melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa moral dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan. Dan pertumbuhan ekonomi tanpa keadilan dapat membuat sebagian orang semakin tinggi sementara sebagian lainnya semakin tertinggal.

Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya bertanya, “Seberapa tinggi kita telah tumbuh?”

Kita juga harus bertanya:

“Seberapa dalam akar kita?”

Apakah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

Di sinilah makna kemerdekaan menjadi lebih dalam.

Secara sejarah dan ketatanegaraan, Indonesia telah merdeka. Kita tidak lagi berada di bawah penjajahan bangsa lain.

Tetapi kemerdekaan bukanlah pekerjaan yang selesai pada 17 Agustus 1945.

Kemerdekaan adalah ikhtiar yang terus-menerus.

Selama masih ada anak bangsa yang tidak memperoleh pendidikan yang layak, masih ada rakyat yang kesulitan mendapatkan kehidupan yang bermartabat, masih ada ketidakadilan, kemiskinan, ketimpangan, korupsi, dan berbagai bentuk keterbelakangan, maka cita-cita kemerdekaan masih memiliki pekerjaan rumah.

Bukan berarti kita belum merdeka.

Tetapi berarti kemerdekaan harus terus diisi.

Kita telah bebas dari penjajahan bangsa lain, tetapi jangan sampai kita justru menjadi tawanan keserakahan, kebodohan, korupsi, intoleransi, fanatisme kelompok, atau kepentingan diri sendiri.

Kita telah merdeka secara politik, tetapi tugas kita adalah menghadirkan kemerdekaan dalam kehidupan nyata: ketika setiap anak memiliki kesempatan belajar, setiap keluarga dapat hidup bermartabat, setiap warga memperoleh keadilan, dan setiap orang memiliki kesempatan untuk bertumbuh.

Kemerdekaan yang sejati bukan hanya tentang siapa yang memerintah, tetapi tentang bagaimana manusia yang diperintah dan dilayani dapat hidup dengan bermartabat.

Pohon yang Tidak Menunggu Sempurna untuk Memberi

Ada satu lagi yang dapat kita pelajari dari pohon.

Ia memberi jauh sebelum dirinya sempurna.

Ketika masih kecil, ia sudah memberi udara. Ketika mulai rindang, ia memberi keteduhan. Ketika berbunga, ia memberi kehidupan bagi lebah dan serangga. Ketika berbuah, hasilnya dinikmati burung, tupai, manusia, dan berbagai makhluk lainnya.

Bahkan ketika batangnya terluka, luka itu dapat menjadi tempat hidup bagi makhluk lain.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya. (HR. Bukhari).

Betapa indahnya pelajaran itu.

Pertumbuhan sejati bukan hanya tentang menjadi lebih besar, tetapi tentang menjadi lebih bermanfaat.

Maka ukuran kemajuan Indonesia seharusnya tidak berhenti pada gedung-gedung tinggi, jalan-jalan yang panjang, teknologi yang semakin canggih, atau angka-angka pertumbuhan ekonomi.

Semua itu penting.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar:

  • Apakah kemajuan itu membuat rakyat semakin sejahtera?
  • Apakah pendidikan semakin mencerdaskan?
  • Apakah yang lemah semakin terlindungi?
  • Apakah desa-desa semakin hidup?
  • Apakah anak-anak Indonesia tumbuh dengan karakter yang kuat?
  • Apakah hukum semakin menghadirkan keadilan?
  • Apakah kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat?

Sebab pohon yang tinggi tetapi tidak berbuah pada akhirnya hanya menjadi pemandangan.

Bangsa yang besar pun demikian.

Kebesaran harus menghasilkan kemanfaatan.

Akar, Batang, dan Buah Indonesia

Al-Qur’an memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang pohon yang baik:

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya.”
(QS. Ibrahim [14]: 24–25)

Ada tiga hal yang menarik dari perumpamaan ini: akar yang kuat, cabang yang menjulang, dan buah yang terus diberikan.

Barangkali demikian pula perjalanan Indonesia.

Kita membutuhkan akar yang dalam, agar tidak kehilangan jati diri.

Kita membutuhkan langit yang tinggi, agar berani bermimpi besar dan mengambil tempat terhormat dalam pergaulan dunia.

Dan kita membutuhkan buah yang nyata, agar kemerdekaan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi hadir sebagai manfaat yang dirasakan rakyat.

Karena itu, pada HUT RI ke-81 ini, pertanyaan kita seharusnya bukan hanya:

“Apa yang telah Indonesia capai?”

Tetapi juga:

“Apa yang telah kita berikan kepada Indonesia?”

Sebab kemerdekaan bukan hanya warisan.

Kemerdekaan adalah amanah.

Generasi sebelum kita telah menanam. Generasi kita menikmati teduhnya. Maka tugas kita bukan sekadar duduk di bawah pohon kemerdekaan sambil menikmati buahnya.

Tugas kita adalah merawatnya.

Memperkuat akarnya.

Menegakkan batangnya.

Menumbuhkan cabang-cabangnya.

Dan memastikan buahnya dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Tumbuh ke Atas Tanpa Kehilangan Akar

Kita mungkin tidak akan selalu dikenang.

Nama kita mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah. Sebagian besar pekerjaan kita mungkin berlangsung seperti akar: sunyi, tidak terlihat, dan jauh dari sorotan.

Tetapi bukankah memang demikian seharusnya sebuah pengabdian?

Akar tidak iri kepada daun karena terlihat indah.

Akar tidak marah kepada buah karena dipuji.

Ia bekerja di dalam tanah agar seluruh pohon dapat berdiri dan memberi.

Begitulah seharusnya kita memaknai Indonesia.

Ada yang bekerja di panggung, ada yang bekerja di belakang layar. Ada yang menjadi pemimpin, ada yang menjadi guru. Ada yang menjaga perbatasan, ada yang membangun desa. Ada yang menulis, mendidik, berdagang, bertani, mengasuh anak, menjaga keluarga, dan melakukan ribuan kebaikan yang tidak pernah masuk berita.

Semuanya dapat menjadi bagian dari pertumbuhan bangsa.

Karena Indonesia tidak dibangun hanya oleh mereka yang namanya kita kenal.

Indonesia juga dibangun oleh jutaan orang yang bekerja dalam kesunyian.

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, barangkali inilah saatnya kita belajar kembali kepada pohon:

Tumbuhlah ke atas tanpa kehilangan akar.

Bermimpilah setinggi langit tanpa melupakan tanah tempat kita berpijak.

Jadilah besar tanpa berhenti memberi.

Dan berdirilah tegak bukan untuk menaungi diri sendiri, melainkan untuk menghadirkan teduh bagi sebanyak mungkin orang.

Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sekadar mampu tumbuh tinggi.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang akarnya dalam, batangnya kokoh, cita-citanya setinggi langit, dan buahnya dapat dinikmati oleh generasi-generasi yang bahkan belum lahir.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Merdeka adalah kesanggupan untuk terus bertumbuh, berdiri tegak, dan menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.

Related Articles

Back to top button