Sukabumi — Di tengah persiapan matang menyambut Apel Akbar bersama Kapolri dan kehadiran sejumlah tokoh nasional, Kemah Nasional Pramuka PUI Tahun 2026 di Selabintana Camping Ground, Sukabumi, Jawa Barat, juga akan diwarnai sisi yang tak kalah penting: rangkaian tausyiah dan qiyamul lail yang akan menghadirkan empat penceramah secara bergantian sepanjang perkemahan berlangsung, 2–4 September 2026.
Berdasarkan rundown resmi kegiatan, setiap malam penyelenggaraan Kemah Nasional akan diisi dua momen spiritual utama. Selepas Ishoma malam hari, peserta akan mengikuti tausyiah, kemudian menjelang dini hari peserta kembali dibangunkan untuk Qiyamul Lail, shalat Subuh berjamaah, tausyiah kedua, serta dzikir Misbahul Falah yang akan dipimpin oleh Pondok Pesantren Syamsul Ulum.
Pada malam pertama, tausyiah ba’da Ishoma akan disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Syura PUI, KH. Drs. M. Iding Bahrudin, M.M.Pd, dilanjutkan menjelang Subuh oleh Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PUI, KH. Nur Ihsan Zaidi, M.M. Pada malam kedua, giliran Ketua Umum DPD PUI Kota Sukabumi, KH Baden Badrudin akan mengisi tausyiah malam, sebelum diteruskan oleh Kabid BRPA DPW PUI Jawa Barat, Ust. Ia Mufti Hidayat, M.Pd pada sesi Qiyamul Lail dan Subuh.
KH Iding menekankan bahwa sebelum peserta menempa fisik dan kepemimpinan selama Kemah Nasional, bekal spiritual harus dikuatkan terlebih dahulu, sehingga seluruh peserta dapat memulai rangkaian kegiatan dengan niat yang lurus dan kesiapan hati. Ia berharap momen tausyiah malam pertama ini akan menjadi pengingat bahwa Pramuka PUI bukan hanya mencetak pemimpin yang tangguh secara fisik, tetapi juga calon-calon ulama dan pemimpin umat yang kokoh keimanannya. Lebih jauh, KH Iding mengingatkan bahwa kebersamaan yang terjalin sejak malam pertama perkemahan adalah pondasi ukhuwah yang akan terus dibawa peserta bahkan setelah Kemah Nasional usai.
Susunan ini menunjukkan bahwa Kemah Nasional Pramuka PUI tidak dirancang semata sebagai kegiatan kepanduan dan seremoni kebangsaan, tetapi juga sebagai ruang tarbiyah ruhiyah yang akan konsisten dijaga setiap malam — jauh sebelum peserta bangun untuk apel pagi maupun rotasi kegiatan lapangan.
Ketua Umum DPP PUI, H Raizal Arifin, M.Sos, sebelumnya menegaskan bahwa penguatan spiritual menjadi salah satu fondasi utama kaderisasi dalam Kemah Nasional ini.
“Kemah Nasional Pramuka PUI bukan sekadar kegiatan berkemah, tetapi bagian dari ikhtiar kaderisasi untuk melahirkan generasi muda yang berkarakter, memiliki jiwa kepemimpinan, kokoh spiritualitasnya, cinta Indonesia, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.”
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai kepanduan yang ditanamkan PUI tidak lepas dari penguatan ruhiyah peserta.
“Pramuka bukan hanya tentang kegiatan di alam terbuka. Di dalamnya ada pendidikan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, persaudaraan, kecintaan kepada lingkungan, dan semangat pengabdian. Nilai-nilai inilah yang ingin terus kami hidupkan dalam pembinaan generasi muda PUI.”
Selain rangkaian tausyiah malam dan dini hari, nuansa spiritual juga akan hadir melalui prosesi Ulang Janji Pramuka serta bimbingan keagamaan yang akan dikoordinasikan langsung oleh Divisi Kegamaan sepanjang acara berlangsung.
Dengan pola dua sesi tausyiah setiap malam ini, Kemah Nasional Pramuka PUI 2026 diharapkan menegaskan bahwa kaderisasi generasi muda PUI dibangun di atas dua kaki sekaligus: ketangguhan fisik dan kepanduan di siang hari, serta kedalaman spiritual yang dijaga sepanjang malam.
