Refleksi Hari Guru Sedunia, 5 Oktober 2026
Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI
Setiap 5 Oktober, dunia memperingati Hari Guru Sedunia (World Teachers’ Day). Tahun 2026 mempunyai arti khusus karena menandai 60 tahun ILO/UNESCO Recommendation concerning the Status of Teachers yang diadopsi pada 5 Oktober 1966. UNESCO mengangkat tema “Standing with teachers: 60 years of protecting the profession, advancing its status and shaping our futures.” Tema ini mengajak dunia bukan hanya berterima kasih kepada guru, tetapi melindungi, menghargai, dan memperkuat profesi yang ikut menentukan masa depan manusia.
Namun enam puluh tahun setelah dunia berbicara tentang kedudukan guru, pendidikan menghadapi perubahan yang mungkin tidak pernah dibayangkan pada 1966.
Hari ini seorang anak dapat bertanya kepada kecerdasan buatan tentang matematika, sejarah, bahasa, bahkan meminta sebuah esai disusun dalam hitungan detik. Informasi yang dahulu harus dicari berjam-jam kini tersedia dalam genggaman.
Lalu, ketika mesin semakin pandai menjawab, apakah guru semakin tidak diperlukan?
Justru sebaliknya.
Guru Bukan Sekadar Pemberi Jawaban
UNESCO pernah menggunakan kalimat menarik: “Teachers cannot be coded.” Di tengah berkembangnya AI, UNESCO menegaskan bahwa guru membangun hubungan manusia yang tidak dapat direplikasi perangkat serta membantu peserta didik mengembangkan pemikiran kritis, pertimbangan etis, kecerdasan emosional, dan rasa memiliki secara sosial.
Perubahan zaman menggeser pertanyaan pendidikan. Persoalannya bukan lagi sekadar “Apakah anak mengetahui jawabannya?”, melainkan “Apakah anak mampu menilai jawaban itu?”
AI dapat memberikan informasi, tetapi anak tetap membutuhkan manusia untuk belajar membedakan fakta dan manipulasi, ilmu dan kebijaksanaan, kemampuan dan tanggung jawab.
Guru karena itu bukan mesin pemindah pengetahuan. Guru adalah salah satu manusia yang menemani proses terbentuknya manusia lain.
Islam telah memberikan kedudukan tinggi kepada ilmu. Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. al-Mujādilah [58]: 11)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud no. 3641)
Dalam hadis lain beliau bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. al-Bukhari no. 5027)
Mengajar dengan demikian bukan sekadar pekerjaan menyampaikan materi. Di dalamnya terdapat amanah pewarisan ilmu dan pembentukan peradaban.
Ketika Dunia Kekurangan Guru
Ironisnya, ketika teknologi pendidikan berkembang sangat cepat, dunia justru menghadapi kekurangan manusia yang mengajar.
Global Report on Teachers UNESCO dan International Task Force on Teachers for Education 2030 memperkirakan dunia masih membutuhkan 44 juta tambahan guru pendidikan dasar dan menengah pada 2030 untuk mencapai pendidikan dasar dan menengah universal. Laporan tersebut juga menunjukkan tingkat keluarnya guru sekolah dasar secara global hampir berlipat ganda, dari 4,6 persen pada 2015 menjadi sekitar 9 persen pada 2022.
Indonesia pun mempunyai pekerjaan rumah. Kemendikdasmen pada Juni 2026 menyebut tantangan yang masih dihadapi meliputi ketimpangan kesejahteraan, beban administrasi berlebihan, distribusi guru yang belum merata, dan kesenjangan akses pengembangan kompetensi. Sekitar 800.000 guru aktif juga belum mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Pada sisi peserta didik, dokumen UNICEF mencatat hanya 70,6 persen siswa sekolah dasar mencapai kompetensi minimum literasi dan 62,6 persen mencapai kompetensi minimum numerasi.
Angka-angka itu mengingatkan bahwa masa depan pendidikan tidak cukup diselesaikan dengan menyediakan aplikasi yang semakin canggih. Teknologi dapat membantu pendidikan, tetapi kualitas manusia tetap menjadi pusatnya.
Guru Tidak Bisa Mendidik Sendirian
Hari Guru Sedunia perlu dibaca pula dari perspektif ketahanan keluarga.
Kita berharap guru membuat anak disiplin, santun, jujur, gemar membaca, kritis, dan bijak menggunakan gawai. Tetapi berapa banyak nilai tersebut disaksikan anak di rumah?
Sekolah dapat mengajarkan literasi beberapa jam sehari, tetapi rumah menentukan apakah membaca menjadi kebiasaan. Guru mengajarkan adab berbicara, tetapi rumah memperlihatkan bagaimana orang dewasa berbicara ketika marah. Sekolah mengajarkan kejujuran, tetapi anak memahami maknanya melalui perilaku manusia yang hidup bersamanya.
Karena itu, hubungan keluarga dengan guru tidak seharusnya bersifat transaksional: kami menyerahkan anak, sekolah mendidiknya.
Pendidikan adalah kemitraan tarbiyah.
Guru tidak menggantikan orang tua. Orang tua pun tidak dapat menyerahkan seluruh pendidikan kepada guru. Ketika rumah dan sekolah saling menunggu siapa yang bertanggung jawab, anak berada di tengah kekosongan pendidikan.
Guru dalam Mīzān Ishlahuts Tsamaniyah
Dalam perspektif PUI, persoalan guru dapat dibaca secara utuh melalui Ishlahuts Tsamaniyah.
- Iṣlāḥ al-‘Aqīdah memberikan orientasi tauhid kepada ilmu.
- Iṣlāḥ al-‘Ibādah menghubungkan pengetahuan dengan penghambaan dan integritas.
- Iṣlāḥ at-Tarbiyah menempatkan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia, bukan sekadar mengejar angka.
- Iṣlāḥ al-‘Āilah mempertemukan keluarga dan guru sebagai mitra pendidikan anak.
- Iṣlāḥ al-‘Ādah membangun budaya membaca, disiplin, tabayyun, adab, serta kebiasaan menggunakan teknologi secara sehat.
- Iṣlāḥ al-Iqtiṣād mengingatkan bahwa kesejahteraan dan penghargaan layak terhadap profesi guru merupakan bagian penting keberlanjutan pendidikan.
- Iṣlāḥ al-Mujtama‘ menempatkan guru sebagai pembentuk kualitas masyarakat, sedangkan
- Iṣlāḥ al-Ummah mengarahkan pendidikan untuk melahirkan generasi yang membawa kemaslahatan bagi umat dan peradaban.
Perspektif ini beririsan dengan maqāṣid al-syarī‘ah. Pendidikan terutama menjaga sekaligus mengembangkan ḥifẓ al-‘aql (akal), tetapi juga menopang ḥifẓ al-dīn melalui nilai dan iman, ḥifẓ al-nafs melalui lingkungan pendidikan yang aman, ḥifẓ al-nasl melalui kualitas generasi, serta ḥifẓ al-māl melalui kemampuan manusia menjalani kehidupan secara produktif dan bertanggung jawab.
Berdiri Bersama Guru Dimulai dari Rumah
Tema Hari Guru Sedunia 2026 mengajak dunia standing with teachers. Bagi keluarga, berdiri bersama guru tidak cukup diwujudkan melalui ucapan selamat pada 5 Oktober.
Ia dapat dimulai dengan tindakan sederhana: jangan merendahkan guru di depan anak. Jangan menyerahkan seluruh pendidikan karakter kepada sekolah. Jangan selalu menjadikan guru pihak pertama yang disalahkan ketika anak menghadapi persoalan. Bangun komunikasi dan hadir sebagai mitra pendidikan.
Pada zaman ketika mesin mampu menghasilkan jawaban dalam beberapa detik, anak justru semakin membutuhkan manusia yang mengajarinya bagaimana mencari kebenaran, mencintai kebaikan, memperbaiki kesalahan, dan bertanggung jawab atas ilmu yang dimilikinya.
Teknologi boleh berubah. Cara manusia belajar boleh berubah. Ruang kelas bahkan mungkin berubah.
Tetapi pendidikan akan selalu membutuhkan manusia yang bersedia membimbing manusia lainnya.
Itulah guru. Dan pendidikan seorang anak selalu menjadi lebih kuat ketika guru di sekolah dan guru pertamanya di rumah berjalan bersama.
