Kemanusiaan Tidak Boleh Berhenti di Perbatasan

Gaza dan Ujian Kemanusiaan untuk kita

Refleksi World Humanitarian Day, 19 Agustus

Oleh: Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita Persatuan Ummat Islam

 

Setiap 19 Agustus, dunia memperingati World Humanitarian Day atau Hari Kemanusiaan Sedunia. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengingat masyarakat yang terdampak perang, bencana, pengungsian, dan berbagai krisis, sekaligus menghormati para pekerja kemanusiaan yang mempertaruhkan keselamatan untuk menolong sesama.

Namun, kemanusiaan bukan sekadar sebuah peringatan. Kemanusiaan adalah tentang manusia. Tentang seorang ibu yang ingin anaknya tetap hidup. Tentang seorang ayah yang berusaha mendapatkan makanan untuk keluarganya. Tentang seorang anak yang hanya ingin tidur tanpa rasa takut. Tentang sebuah keluarga yang ingin memiliki rumah dan masa depan.

Karena itu, ketika berbicara tentang kemanusiaan hari ini, sulit bagi kita untuk tidak mengingat Gaza.

 

Penderitaan Gaza Tidak Dimulai pada 7 Oktober 2023

Sejarah Palestina telah berlangsung jauh lebih panjang. Pada 1947, PBB mengusulkan pembagian wilayah Mandat Palestina menjadi negara Arab dan negara Yahudi. Pada 1948, Israel memproklamasikan kemerdekaannya dan perang terjadi. Perang tersebut disertai pengungsian dan kehilangan besar warga Palestina yang dikenal sebagai Nakba, atau malapetaka. PBB mencatat bahwa peristiwa tersebut menyebabkan perpindahan massal dan perampasan rumah serta tanah warga Palestina.

Pada 1967, perang kembali terjadi dan Israel menduduki Tepi Barat, Yerusalem Timur, serta Jalur Gaza. Pendudukan, permukiman, pengungsi, dan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri kemudian menjadi persoalan internasional yang terus berlangsung. Berbagai upaya perdamaian pernah dilakukan, termasuk proses Oslo pada 1990-an. Namun penyelesaian permanen tidak tercapai.

Pada 2007, Israel memberlakukan blokade yang berlangsung bertahun-tahun. Kehidupan masyarakat Gaza kemudian berada dalam kondisi ekonomi dan kemanusiaan yang sangat berat. Bahkan sebelum Oktober 2023, Gaza bukanlah wilayah yang hidup dalam keadaan normal. Bertahun-tahun blokade, konflik berulang, pembatasan pergerakan, kerusakan infrastruktur, dan tingginya ketergantungan pada bantuan telah membuat masyarakat sipil hidup dalam tekanan yang panjang.

Karena itu, 7 Oktober 2023 harus dilihat sebagai bagian dari rentetan sejarah, bukan sebagai titik awal tunggal yang terjadi setelah puluhan tahun konflik, pendudukan, blokade Gaza, perluasan permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki, kekerasan berulang, dan kegagalan proses politik mencapai penyelesaian yang adil. Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza dengan tujuan yang dinyatakan untuk menghancurkan Hamas dan membebaskan para sandera.

Namun, dampaknya terhadap masyarakat sipil sangat luas. Rumah-rumah hancur. Fasilitas kesehatan dan pendidikan rusak. Masyarakat mengalami pengungsian berulang. Akses terhadap makanan, air, obat-obatan, dan kebutuhan dasar menjadi persoalan serius. Perang itu juga tidak berhenti dalam hitungan minggu. Hampir tiga tahun telah berlalu. Bagi dunia, tiga tahun mungkin hanya angka. Tetapi bagi seorang anak di Gaza, tiga tahun adalah masa kanak-kanak yang dihabiskan dalam ketakutan. Bagi seorang ibu, tiga tahun dapat berarti hidup tanpa kepastian apakah keluarganya akan selamat. Bagi sebuah keluarga, tiga tahun dapat berarti kehilangan rumah, anggota keluarga, pendidikan, dan masa depan.

Ini Genosida

Karena itu, kita perlu berani menyebut apa yang terjadi dengan jelas. Ini adalah genosida. Pada September 2025, Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Komisi tersebut menyatakan menemukan tindakan-tindakan yang memenuhi unsur genosida berdasarkan Konvensi Genosida 1948. Ini bukan sekadar istilah emosional. Genosida merupakan kejahatan internasional yang memiliki makna hukum sangat serius.

Perempuan: Menahan Luka, Menjaga Kehidupan

Dalam setiap krisis, perempuan dan anak perempuan menghadapi kerentanan khusus. Tetapi perempuan bukan hanya korban. Di tengah kehancuran, perempuan tetap merawat anak, menjaga anggota keluarga yang sakit, mengatur makanan dan air yang terbatas, dan berusaha mempertahankan kehidupan keluarga. Kadang perempuan menangis diam-diam agar anaknya tidak ikut takut. Perempuan bukan hanya penerima bantuan. Perempuan adalah penjaga kehidupan. Karena itu, pengalaman dan suara perempuan harus menjadi bagian penting dalam respons kemanusiaan dan pemulihan keluarga.

Kemanusiaan dalam Perspektif Islam

Islam menempatkan kehidupan manusia dalam kedudukan yang sangat tinggi.

Allah berfirman: “Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.”
(QS. Al-Mā’idah [5]: 32)

Ketika seorang anak menangis karena kehilangan rumah, air matanya tidak memiliki kewarganegaraan. Ketika seorang ibu kehilangan anaknya, rasa kehilangan itu tidak mengenal batas negara. Kemanusiaan seharusnya tidak bertanya terlebih dahulu, “Dia siapa?”

Pertanyaan pertama adalah:
“Apa yang bisa kita lakukan?”

 

Apa yang Bisa Dilakukan Keluarga Indonesia?

Gaza mungkin jauh secara geografis. Tetapi jarak tidak harus menjadi jarak hati. Keluarga Indonesia dapat mengajarkan anak untuk tidak mati rasa: mendoakan korban, peduli terhadap penderitaan manusia, berbagi pendidikan kemanusiaan dimulai dari rumah. Anak yang melihat orang tuanya peduli sedang belajar bahwa dunia tidak hanya berisi “aku”, tetapi juga “kita.”

 

Gaza dan Cermin untuk Kita

World Humanitarian Day seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia mengajak kita bertanya: Masihkah penderitaan orang lain mampu menggerakkan hati kita? Di era ketika penderitaan muncul di layar setiap hari, bahaya terbesar bukan hanya banyaknya tragedi. Bahaya yang lebih dalam adalah ketika kita terbiasa melihat penderitaan. Gaza mengingatkan kita bahwa di balik angka ada manusia. Di balik berita ada keluarga. Di balik gambar ada seseorang yang mungkin sedang kehilangan orang yang dicintainya. Kita menolak pendudukan, blokade, penghancuran kehidupan sipil, dan genosida terhadap rakyat Palestina.

Kemanusiaan dimulai ketika kita melihat penderitaan orang lain dan berkata: “Itu manusia. Itu keluarga seseorang. Itu anak seseorang. Dan hidupnya berharga.” Pada World Humanitarian Day ini, mari kita tegaskan: Ini genosida.

Dan ketika genosida terjadi di depan mata dunia, memilih untuk peduli adalah keharusan. Memilih untuk peduli adalah memilih untuk tetap menjadi manusia.

Wanita PUI percaya, menjaga kemanusiaan berarti menjaga kehidupan, menjaga keluarga, dan menjaga masa depan generasi. Kemanusiaan tidak boleh berhenti di perbatasan.

Exit mobile version