Kemerdekaan yang Menguatkan Persatuan dan Kolaborasi Bangsa

Oleh: H. Raizal Arifin

Setiap 17 Agustus, kita tidak sekadar memperingati sebuah tanggal. Kita sedang mengingat kembali sebuah keberanian: keberanian bangsa Indonesia menyatakan dirinya merdeka pada 17 Agustus 1945.

Kemerdekaan bukan hadiah. Ia lahir dari perjuangan panjang, pengorbanan para pendahulu, persatuan lintas suku, agama, daerah, dan golongan, serta keberanian para pemimpin bangsa mengambil keputusan besar pada saat yang penuh ketidakpastian.

Kini, 81 tahun setelah Proklamasi, Indonesia telah menempuh perjalanan yang panjang. Tentu masih banyak persoalan yang harus kita selesaikan. Namun, terlalu mudah jika kita hanya melihat kekurangan dan melupakan capaian yang telah dibangun oleh para pemimpin bangsa dari satu periode ke periode berikutnya.

Setiap Generasi Pemimpin Memberikan Warisannya

Sejak era Presiden Soekarno, bangsa ini telah meletakkan fondasi negara dan identitas kebangsaan. Pancasila, UUD 1945, persatuan Indonesia, serta politik luar negeri yang bebas dan aktif menjadi fondasi penting bagi perjalanan republik.

Pada masa Presiden Soeharto, Indonesia membangun stabilitas politik dan ekonomi serta menjalankan pembangunan infrastruktur dan industrialisasi dalam skala besar. Pembangunan jalan, bendungan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga peningkatan produksi pangan menjadi bagian dari transformasi Indonesia sebagai negara berkembang.

Era reformasi kemudian membawa perubahan besar dalam kehidupan demokrasi. Presiden B.J. Habibie membuka ruang reformasi politik dan memperkuat fondasi demokratisasi. Presiden Abdurrahman Wahid memperluas ruang kebebasan dan pluralisme. Presiden Megawati Soekarnoputri memperkuat konsolidasi kelembagaan negara pascareformasi.

Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, memperkuat demokrasi, memperluas jaminan sosial, dan semakin aktif dalam diplomasi internasional. Indonesia juga mampu melewati berbagai guncangan ekonomi global.

Kemudian, pada era Presiden Joko Widodo, pembangunan infrastruktur dilakukan secara masif. Jalan tol, pelabuhan, bandara, bendungan, kawasan industri, hingga konektivitas antarwilayah menjadi bagian penting dari agenda pembangunan. Transformasi digital dan hilirisasi sumber daya alam juga semakin mendapatkan perhatian.

Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia memasuki fase baru dengan penekanan pada kemandirian nasional, ketahanan pangan dan energi, pembangunan sumber daya manusia, hilirisasi, industrialisasi, serta penguatan posisi Indonesia dalam percaturan global.

Setiap kepemimpinan tentu memiliki tantangan, pilihan kebijakan, kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan: Indonesia yang kita nikmati hari ini adalah akumulasi kerja keras banyak generasi.

Karena itu, memperingati kemerdekaan seharusnya tidak menjadi momentum untuk saling meniadakan jasa antargenerasi. Justru sebaliknya, kita perlu melihat perjalanan bangsa secara lebih dewasa: mengambil pelajaran dari keberhasilan masa lalu, memperbaiki kekurangan, dan meneruskan pekerjaan yang belum selesai.

Kemerdekaan Harus Menghasilkan Kedaulatan

Makna kemerdekaan hari ini juga semakin luas.

Jika pada 1945 kemerdekaan berarti membebaskan bangsa dari penjajahan fisik, maka pada abad ke-21 kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi kemampuan bangsa menentukan masa depannya sendiri.

Kita harus merdeka secara pangan. Merdeka secara energi. Merdeka secara teknologi. Merdeka dalam penguasaan pengetahuan. Merdeka dalam industri. Dan yang tidak kalah penting, merdeka dalam membangun manusia Indonesia yang berkarakter, berilmu, produktif, dan berdaya saing.

Kemerdekaan tidak cukup diukur dari berkibarnya Merah Putih. Kemerdekaan harus terasa dalam kehidupan rakyat.

Anak-anak Indonesia harus memperoleh pendidikan bermutu. Anak muda harus mendapatkan kesempatan bekerja dan berwirausaha. Petani harus semakin sejahtera. Nelayan harus semakin berdaya. Industri nasional harus semakin kuat. Pelayanan publik harus semakin baik. Dan hukum harus semakin memberikan rasa keadilan.

Dengan kata lain, tugas generasi hari ini adalah mengubah kemerdekaan politik menjadi kemerdekaan ekonomi dan kemerdekaan peradaban.

Tantangan Kita Tidak Lagi Sederhana

Dunia yang kita hadapi berbeda dengan dunia 1945.

Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat. Artificial intelligence atau kecerdasan buatan akan mengubah cara manusia bekerja, belajar, berproduksi, bahkan mengambil keputusan.

Persaingan antarnegara semakin tajam. Perubahan geopolitik, perang dagang, krisis energi, perubahan iklim, ketahanan pangan, disrupsi teknologi, hingga kompetisi mendapatkan talenta terbaik menjadi tantangan nyata.

Indonesia juga menghadapi persoalan domestik: kualitas pendidikan, produktivitas, ketimpangan, lapangan kerja, korupsi, kualitas birokrasi, serta kesenjangan pembangunan antarwilayah.

Tantangan sebesar ini tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah sendirian.

Inilah saatnya kita menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam bentuk yang lebih modern: kolaborasi nasional.

Pemerintah harus bekerja bersama dunia usaha. Dunia usaha harus bergandengan tangan dengan perguruan tinggi. Perguruan tinggi harus terhubung dengan industri. Organisasi masyarakat harus menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan sosial. Pesantren dan sekolah harus menjadi pusat pengembangan manusia. Generasi muda harus diberi ruang untuk menjadi bagian dari solusi.

Kita membutuhkan ekosistem pembangunan, bukan sekadar program pemerintah.

Berbeda Pilihan, Bersatu untuk Indonesia

Salah satu kekuatan terbesar Indonesia adalah kemampuannya hidup dalam keberagaman.

Kita boleh berbeda pilihan politik. Berbeda organisasi. Berbeda latar belakang sosial. Berbeda cara pandang. Bahkan berbeda dalam memilih pemimpin.

Tetapi setelah kontestasi politik selesai, kita tetap satu bangsa.

Demokrasi tidak boleh membuat persaudaraan kebangsaan kehilangan tempat. Perbedaan pilihan politik jangan sampai berubah menjadi permusuhan sosial.

Karena Indonesia terlalu besar untuk dibangun dengan semangat saling menjatuhkan.

Kita membutuhkan kritik, tetapi kritik yang membangun. Kita membutuhkan oposisi, tetapi oposisi yang konstruktif. Kita membutuhkan pemerintah yang kuat, tetapi juga pemerintah yang terbuka terhadap koreksi.

Demokrasi yang sehat bukan tentang siapa yang paling keras berdebat, melainkan tentang bagaimana perbedaan dapat menghasilkan keputusan terbaik bagi rakyat.

Saatnya Menyatukan Energi Bangsa

Pada usia 81 tahun, Indonesia membutuhkan energi baru.

Energi itu bukan hanya energi pemerintah, tetapi energi seluruh anak bangsa.

Kita perlu mengubah budaya saling menyalahkan menjadi budaya saling menguatkan. Dari competition without collaboration menjadi collaboration for national competitiveness.

Kita perlu membangun Indonesia dengan prinsip sederhana: yang baik dari masa lalu kita lanjutkan, yang kurang kita perbaiki, dan yang baru kita ciptakan.

Jangan habiskan energi bangsa untuk mempertentangkan masa lalu. Gunakan masa lalu sebagai pelajaran untuk memenangkan masa depan.

Para pendiri bangsa telah memberikan kemerdekaan. Generasi setelahnya membangun negara. Kini tugas generasi kita adalah membangun peradaban Indonesia.

Peradaban yang maju ekonominya, unggul pendidikannya, kuat industrinya, berdaulat teknologinya, berkeadilan sosial, matang demokrasinya, dan kokoh moral serta kebudayaannya.

Pada akhirnya, kemerdekaan bukanlah garis akhir. Kemerdekaan adalah amanah.

Dan amanah itu harus kita teruskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik daripada ketika kita menerimanya.

Dirgahayu Republik Indonesia.

Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan. Merdeka adalah kemampuan sebuah bangsa untuk berdiri tegak, menentukan masa depannya sendiri, dan membangun peradaban yang bermartabat.

Indonesia bersatu, Indonesia berdaulat, Indonesia maju.

H. Raizal Arifin
Ketua Umum DPP Persatuan Ummat Islam (PUI)

Exit mobile version