Refleksi Hari Penerjemahan Internasional, 30 September
Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI
Sebuah buku dapat ditulis ribuan kilometer dari rumah kita, tetapi gagasannya dapat hadir di ruang keluarga karena diterjemahkan. Pengetahuan kedokteran, teknologi, pendidikan, agama, dan kebudayaan dapat melintasi batas negara karena ada orang yang memindahkan makna dari satu bahasa ke bahasa lainnya.
Kita sering melihat terjemahan hanya sebagai penggantian kata. Padahal di baliknya terdapat proses yang lebih besar: membuka akses terhadap ilmu dan mempertemukan manusia yang berbeda bahasa dan budaya.
Hari Penerjemahan Internasional (International Translation Day) diperingati setiap 30 September. Peringatan ini telah dipromosikan komunitas penerjemah internasional sejak 1991. Pada 24 Mei 2017, Majelis Umum PBB melalui Resolusi 71/288 secara resmi menetapkan 30 September sebagai Hari Penerjemahan Internasional (United Nations General Assembly, 2017).
PBB menegaskan bahwa profesi bahasa berperan menghubungkan bangsa, memfasilitasi dialog dan pemahaman, mendorong pembangunan, serta memperkuat perdamaian (United Nations, 2026).
Bagi keluarga, penerjemahan mempunyai makna yang dekat: bahasa menentukan seberapa luas pintu pengetahuan dapat dibuka bagi anggota keluarga.
Ketika Ilmu Menyeberangi Batas Bahasa
Tidak semua ilmu lahir dalam bahasa yang kita kuasai. Tanpa penerjemahan, banyak pengetahuan hanya dapat dinikmati kelompok yang memahami bahasa sumbernya.
PBB menempatkan bahasa sebagai unsur penting bagi identitas, komunikasi, integrasi sosial, pendidikan, dan pembangunan. Multilingualisme turut mendukung pendidikan, dialog antarbudaya, masyarakat pengetahuan yang inklusif, serta penyebaran manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi (United Nations, 2026).
Dalam sejarah peradaban Islam, penerjemahan juga mempunyai kedudukan penting. Pada masa Abbasiyah, karya dari berbagai tradisi keilmuan diterjemahkan ke bahasa Arab. Pengetahuan itu tidak hanya disalin, tetapi dipelajari, dikritisi, dan dikembangkan sehingga ikut mendorong kemajuan ilmu.
Artinya, penerjemahan bukan akhir perjalanan ilmu. Ia sering menjadi awal lahirnya pengetahuan baru.
Islam Menghargai Keragaman Bahasa
Al-Qur’an menempatkan keragaman bahasa sebagai salah satu tanda kebesaran Allah:
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu…”
(QS. Ar-Rūm [30]: 22).
Perbedaan bahasa bukan alasan manusia saling menjauh. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku “agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13).
Penerjemahan dapat menjadi salah satu sarana ta‘āruf: memungkinkan manusia memahami ilmu, pengalaman, dan pandangan orang lain tanpa kehilangan identitasnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”
(HR. al-Bukhari No. 3461).
Hadis ini bukan perintah khusus tentang penerjemahan, tetapi menunjukkan pentingnya menyampaikan pengetahuan dengan benar. Dalam masyarakat yang berbeda bahasa, penerjemahan menjadi salah satu jalan agar ilmu dapat dipahami penerimanya.
Keluarga sebagai Rumah Pertama Bahasa
Bahasa pertama kali hidup bukan di ruang konferensi, melainkan di rumah.
Melalui bahasa, orang tua mengenalkan nama benda, perasaan, nilai, doa, cerita, sejarah keluarga, bahkan cara memahami dunia. Karena itu, kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan komunikasi, tetapi juga perkembangan anak.
Hoff (2013) menunjukkan bahwa perkembangan bahasa anak bilingual berkaitan dengan kuantitas dan kualitas paparan bahasa serta lingkungan keluarga. Meta-analisis Van Dijk et al. (2022), yang melibatkan 750 anak bilingual dari 26 studi eksperimental dan 17 kombinasi bahasa, menemukan adanya pengaruh lintas bahasa yang signifikan dalam perkembangan bilingual.
Temuan tersebut mengingatkan bahwa mengenalkan bahasa lain tidak harus berarti menghilangkan bahasa ibu. Keluarga dapat menumbuhkan kemampuan menjangkau dunia lebih luas sambil menjaga bahasa sebagai bagian dari identitas.
Orang tua dapat membacakan buku terjemahan, mengenalkan istilah asing beserta maknanya, atau mengajak anak memahami bahwa satu gagasan dapat disampaikan melalui bahasa berbeda.
Menerjemahkan Bukan Sekadar Mengganti Kata
Di era kecerdasan artifisial, menerjemahkan semakin mudah. Kalimat panjang dapat dialihkan ke bahasa lain dalam hitungan detik. Namun kemudahan teknologi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap pemahaman manusia.
Bahasa membawa konteks, budaya, emosi, nilai, dan nuansa. Satu kata dapat mempunyai arti berbeda menurut situasi. Karena itu, hasil terjemahan—termasuk dari mesin dan AI—tetap perlu diperiksa, terutama untuk informasi agama, kesehatan, hukum, dan pendidikan.
Ini sekaligus menjadi pendidikan literasi bagi anak: teknologi dapat membantu memahami bahasa, tetapi manusia tetap bertanggung jawab terhadap makna yang disampaikan.
Bahasa dalam Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah
Penerjemahan dapat mendukung berbagai tujuan maqāṣid al-syarī‘ah. Akses terhadap ilmu mendukung ḥifẓul ‘aql, yaitu pemeliharaan akal. Penerjemahan ilmu agama dapat membantu pemahaman yang mendukung ḥifzud dīn, sedangkan informasi kesehatan yang dapat dipahami masyarakat dapat mendukung ḥifẓun nafs.
Dalam keluarga, pewarisan bahasa, nilai, pengetahuan, dan identitas antargenerasi dapat dikaitkan dengan ḥifẓun nasl.
Dengan demikian, bahasa bukan hanya alat berbicara. Ia dapat menjadi jalan menjaga ilmu, nilai, kehidupan, dan keberlanjutan generasi.
Dari Iṣlāḥut Tarbiyah Menuju Iṣlāḥul Ummah
Semangat penerjemahan juga dekat dengan Ishlahuts Tsamaniyah PUI.
Dalam Iṣlāḥut Tarbiyah, keluarga perlu membangun iklim pendidikan yang mempersiapkan generasi menghadapi perkembangan zaman. Kemampuan bahasa dan akses terhadap pengetahuan global menjadi bagian penting dari bekal tersebut.
Ia bertemu dengan Iṣlāḥul ‘Āilah. Bahasa bukan hanya tentang berapa banyak bahasa asing yang dikuasai, tetapi bagaimana bahasa digunakan untuk membangun komunikasi sehat dalam keluarga. Anak belajar berbicara santun, mendengar sebelum menjawab, dan berusaha memahami orang lain.
Selanjutnya, Iṣlāḥul Ādah dapat diwujudkan melalui kebiasaan membaca, belajar, mencari arti kata yang tidak dipahami, dan tidak merasa cukup dengan informasi dangkal.
Dari keluarga, manfaat itu bergerak menuju Iṣlāḥul Mujtama‘ dan Iṣlāḥul Ummah. Kemampuan memahami bahasa dan perspektif orang lain membantu membangun masyarakat yang terbuka terhadap ilmu sekaligus tetap menjaga identitas dan nilai.
Bahasa yang Menghubungkan Generasi
Hari Penerjemahan Internasional bukan hanya milik penerjemah profesional. Peringatan ini mengajak keluarga menyadari betapa bahasa telah membuka banyak pintu kehidupan.
Buku yang kita baca, ilmu yang kita pelajari, penelitian yang kita pahami, bahkan berbagai pengetahuan agama yang sampai kepada masyarakat sering melewati kerja penerjemahan.
Karena itu, keluarga perlu menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa: menjaga bahasa ibu, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, mempelajari bahasa lain, serta mengajarkan anak menghormati keragaman bahasa.
Bahasa yang berbeda tidak harus memisahkan manusia. Ketika diterjemahkan dengan ilmu, amanah, dan ketepatan, bahasa justru menjadi jembatan yang mempertemukan manusia dengan manusia, generasi dengan generasi, dan ilmu dengan peradaban.
Dari Iṣlāhut Tarbiyah dan Iṣlāḥul ‘Āilah menuju Iṣlāḥul Mujtama‘ dan Iṣlāḥul Ummah, keluarga dapat menjadi tempat pertama lahirnya generasi yang mampu berbicara kepada dunia, belajar dari dunia, sekaligus mengetahui dari mana akar nilai dan identitasnya berasal.
