KETIKA MERAWAT KELUARGA DIANGGAP BUKAN PEKERJAAN

Mengakui Nilai Pengasuhan, Membagi Tanggung Jawab, dan Memperkuat Ketahanan Keluarga

Refleksi Hari Perawatan dan Dukungan Internasional, 29 Oktober 2026

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI

Seorang ibu menjawab, “Saya hanya ibu rumah tangga,” ketika ditanya pekerjaannya. Padahal, sejak pagi ia menyiapkan makanan, mendampingi anak belajar, mengatur pengeluaran, dan merawat orang tua yang sakit. Kata “hanya” membuat pengabdiannya seolah tidak bernilai.

Mengapa pekerjaan yang memungkinkan anggota keluarga lain bersekolah, bekerja, dan menjalani kehidupan sering dianggap bukan pekerjaan? Persoalannya bukan menghitung kasih sayang dengan uang, melainkan menghargai pengasuh.

Ketahanan keluarga tidak hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan orang yang dirawat. Keluarga juga perlu memastikan orang yang merawat tetap sehat, dihargai, dan memperoleh kesempatan beristirahat.

Pekerjaan yang Menopang Kehidupan

Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 29 Oktober sebagai Hari Perawatan dan Dukungan Internasional melalui Resolusi A/RES/77/317 tahun 2023. Peringatan tersebut mengakui pekerjaan perawatan berbayar maupun tidak berbayar, termasuk pengasuhan anak, disabilitas, dan lansia (United Nations, 2023).

Tema PBB tahun 2026, “Building sustainable care and support systems through decent work”, menekankan pembangunan sistem perawatan berkelanjutan melalui pekerjaan layak. Pesannya melampaui penghargaan simbolis: pengasuh dan pekerja perawatan membutuhkan kondisi yang memungkinkan mereka menjalankan tanggung jawab secara bermartabat (United Nations, 2026).

International Labour Organization memperkirakan 748 juta orang berusia 15 tahun ke atas berada di luar angkatan kerja pada 2023 karena tanggung jawab perawatan: 708 juta perempuan dan 40 juta laki-laki. Ini estimasi global, bukan angka khusus Indonesia (ILO, 2024).

Angka tersebut memperlihatkan hubungan antara tanggung jawab perawatan dan kesempatan ekonomi. Namun, memilih mengurus keluarga sepenuh waktu tetap merupakan pilihan bermartabat. Persoalan muncul ketika kontribusinya diremehkan, kebutuhan pengasuh diabaikan, atau ketergantungan ekonomi berlangsung tanpa perlindungan.

Seseorang dapat bekerja karena anggota keluarga lain memastikan anak diasuh dan orang sakit didampingi. Kontribusi perawatan nyata tanpa gaji. Nilainya tidak bergantung pada gaji.

Islam Memuliakan Pengabdian

Allah SWT mengingatkan pengorbanan ibu: “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah” (QS. Luqmān [31]: 14). Penghormatan kepada ibu bukan alasan menyerahkan seluruh pekerjaan keluarga kepadanya.

Aisyah RA menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ biasa melayani kebutuhan keluarganya; ketika waktu salat tiba, beliau keluar menunaikan salat (HR. al-Bukhari, no. 676). Keterlibatan laki-laki dalam urusan rumah merupakan akhlak terpuji.

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. al-Bukhari, no. 7138). Amanah keluarga menuntut tanggung jawab nyata sesuai kewajiban dan kemampuan masing-masing.

Imam al-Syāṭibī dalam Al-Muwāfaqāt membahas pemeliharaan kemaslahatan sebagai tujuan syariat. Dalam penerapannya, perawatan mendukung ḥifẓ al-nafs melalui kesehatan, ḥifẓ al-nasl melalui pengasuhan, ḥifẓ al-‘aql melalui pendidikan, dan ḥifẓ al-māl melalui pengelolaan sumber daya. Melindungi pengasuh turut menjaga keberlanjutan kemaslahatan tersebut.

Beban yang Tidak Terlihat

Memasak dan mencuci mudah terlihat. Namun, siapa mengingat jadwal pengobatan, merencanakan kebutuhan sekolah, memantau persediaan makanan, dan memastikan lansia memperoleh bantuan tepat waktu?

Allison Daminger (2019), dalam The Cognitive Dimension of Household Labor, mengidentifikasi empat unsur kerja kognitif domestik: mengantisipasi kebutuhan, mengenali pilihan, mengambil keputusan, dan memantau pelaksanaan. Penelitiannya berdasarkan 70 wawancara dengan anggota 35 pasangan; temuannya tidak otomatis mewakili seluruh keluarga.

Beban mental tetap berlangsung tanpa pekerjaan fisik. Karena itu, pembagian tanggung jawab bukan sekadar berkata, “Bilang kalau perlu bantuan.” Anggota keluarga perlu ikut berinisiatif, merencanakan, melaksanakan, dan menyelesaikan tugas.

Pembagian adil tidak harus identik; kesehatan, usia, pekerjaan, kemampuan, dan musyawarah perlu dipertimbangkan. Ketidakadilan muncul bukan hanya ketika pekerjaan menumpuk pada satu orang, melainkan ketika seluruh kewajiban memikirkan kebutuhan keluarga juga dibebankan kepadanya.

Ishlahuts Tsamaniyah dan Ketahanan Keluarga

Pedoman Amaliah PUI, Ishlahuts Tsamaniyah, memberi kerangka perbaikan menyeluruh. Iṣlāḥ al-‘Aqīdah (perbaikan akidah) meneguhkan amanah kepada Allah; Iṣlāḥ al-‘Ibādah (perbaikan ibadah) menguatkan keikhlasan tanpa menghapus hak pengasuh. Iṣlāḥ at-Tarbiyah (perbaikan pendidikan) membiasakan anak bertanggung jawab sesuai usia; Iṣlāḥ al-‘Āilah (perbaikan keluarga) menghidupkan musyawarah keluarga.
Iṣlāḥ al-‘Ādah (perbaikan budaya) memperbaiki kebiasaan meremehkan pekerjaan domestik. Iṣlāḥ al-Iqtiṣād (perbaikan ekonomi) mengakui kontribusi perawatan terhadap produktivitas serta pentingnya perlindungan ekonomi. Iṣlāḥ al-Mujtama‘ (perbaikan masyarakat) menumbuhkan kepedulian antarkeluarga, sedangkan Iṣlāḥ al-Ummah (perbaikan umat) memperluas tanggung jawab sosial kepada pemberi maupun penerima perawatan (PUI, Risalah Intisab).

Delapan dimensi tersebut menunjukkan bahwa pengasuhan berkaitan dengan akhlak, pendidikan, ekonomi, solidaritas, dan keberlanjutan generasi. Ketahanan keluarga tidak dibangun dengan menuntut satu anggota terus berkorban sementara anggota lain terbebas dari tanggung jawab.

Merawat Mereka yang Merawat

Pendampingan pasien pascastroke, anak dengan disabilitas, atau lansia yang kehilangan kemandirian membutuhkan waktu, keterampilan, dan koordinasi dengan tenaga kesehatan. Tanpa dukungan, pengasuh dapat mengalami kelelahan fisik maupun psikologis yang mengganggu kesejahteraan dan kesinambungan perawatan.

Keluarga perlu mengenali batas kemampuan, membagi tugas, menyediakan waktu istirahat, dan mencari bantuan profesional ketika diperlukan. Kerabat serta tetangga dapat membantu transportasi atau pendampingan dengan menghormati persetujuan, privasi, dan martabat penerimanya.

Allah SWT berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa” (QS. Al-Mā’idah [5]: 2). Solidaritas tidak berarti memindahkan seluruh amanah kepada perempuan, anak perempuan, atau kerabat yang dianggap paling sabar.

Ada perbedaan antara memuliakan pengorbanan dan menjadikan pengorbanan tanpa batas sebagai kewajiban. Ketika ibu sakit tetapi tetap harus mengurus semuanya, atau ayah merawat orang tuanya tanpa kesempatan beristirahat, keluarga menghadapi persoalan ketahanan yang nyata.

Perawatan tidak selalu selesai pada sore hari. Bayi menangis malam hari; pasien membutuhkan obat; lansia memerlukan bantuan mendadak. Pembagian tanggung jawab mesti memperhitungkan gangguan tidur dan kesempatan memulihkan tenaga, bukan hanya jumlah pekerjaan yang terlihat.

Anak dapat dilibatkan melalui tugas sesuai usia tanpa menggantikan kewajiban orang dewasa. Kesepakatan keluarga perlu ditinjau ketika kesehatan, pekerjaan, atau kebutuhan anggota berubah. Musyawarah memungkinkan penyesuaian tanpa menyalahkan orang yang meminta pertolongan.

Keikhlasan merupakan nilai ibadah, tetapi tidak boleh dijadikan alasan mengabaikan kebutuhan pengasuh. Ia berhak menyampaikan kelelahan tanpa dianggap kurang sabar. Anggota keluarga lain berkewajiban mendengar, bukan sekadar memuji ketabahannya.

Satu pertanyaan layak diajukan dalam musyawarah keluarga: siapa yang selalu mengalah ketika kebutuhan bertabrakan? Jawabannya membantu menemukan beban tersembunyi dan membuka kesempatan memperbaiki pembagian amanah tanpa merendahkan pilihan hidup siapa pun.

Pengakuan sejati tidak berhenti pada pujian. Ia tampak ketika tugas dibagi, pendapat pengasuh didengar, waktu istirahat dihormati, dan bantuan diberikan sebelum kelelahan berubah menjadi krisis.

Bagi Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI, keluarga tangguh bukan keluarga yang membanggakan pengorbanan tanpa batas. Keluarga tangguh menjaga kebutuhan penerima perawatan sekaligus kesehatan, martabat, dan kemampuan orang yang merawat9

Merawat keluarga adalah kemuliaan. Merawat mereka yang merawat merupakan wujud keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama.

Exit mobile version