Refleksi Hari Olahraga Nasional, 9 September
Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI
Ada pemandangan baru di kota-kota Indonesia. Pagi hari, jalan dipenuhi pelari dengan sepatu dan jam pintar. Akhir pekan, fun run bermunculan. Lapangan padel semakin ramai. Media sosial dipenuhi catatan jarak lari, medali, raket, hingga foto setelah berolahraga.
Ini kabar baik.
Olahraga tidak lagi hanya berlangsung di stadion atau lapangan sekolah. Ia masuk ke komunitas, kawasan bisnis, media sosial, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup. Orang tidak hanya menonton olahraga, tetapi mulai ingin menjadi bagian di dalamnya.
Fenomena itu semakin terasa sepanjang 2026. Pendaftaran Merdeka Run 8.0K yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Agustus 2026, misalnya, dilaporkan habis hanya dalam dua jam. Kementerian Pemuda dan Olahraga melihat antusiasme tersebut sebagai bagian dari semakin kuatnya lari sebagai gaya hidup masyarakat (Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia [Kemenpora], 2026a).
Padel pun berkembang pesat. Fearless Padel Festival di Jakarta pada 14–16 Agustus 2026 memperlihatkan bagaimana olahraga bertemu dengan hiburan, komunitas, musik, dan gaya hidup (Fearless Padel Festival, 2026).
Padel, lari, dan tren olahraga baru bukan masalah yang perlu dikhawatirkan. Popularitas tersebut justru merupakan modal untuk membuat lebih banyak orang tertarik bergerak.
Menjelang Hari Olahraga Nasional (Haornas) 9 September, pertanyaannya adalah: bagaimana membuat antusiasme itu bertahan setelah tren berganti?
Kesenjangan Visibilitas–Aktivitas
Pertanyaan tersebut membawa kita pada fenomena yang dalam tulisan ini dapat disebut kesenjangan visibilitas–aktivitas: jarak antara seberapa besar olahraga terlihat di ruang publik dan digital dengan seberapa konsisten aktivitas fisik menjadi kebiasaan masyarakat.
Di Jawa Barat, Agustus 2026 menghadirkan kompetisi selancar di Cimaja, Batukaras Surf Festival di Pangandaran, hingga Bandung QRIS Run (Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, 2026). Di Ibu Kota Nusantara, Porsentara 2026 menghadirkan berbagai cabang olahraga dan permainan, sementara Merdeka Night Run menarik lebih dari 3.000 pendaftar (Otorita Ibu Kota Nusantara, 2026).
Olahraga memperoleh panggung semakin besar. Tantangannya bukan mengecilkan panggung itu, melainkan menghubungkan panggung dengan kebiasaan.
Sebuah race yang membuat seseorang mulai rutin berlari adalah keberhasilan. Padel yang membuat orang yang sebelumnya jarang bergerak menjadi rutin bermain juga keberhasilan.
Pertanyaannya bukan apakah olahraga perlu viral, melainkan apa yang tersisa setelah viralitas berlalu.
Tubuh yang Memiliki Hak
Dalam perspektif Islam, tubuh bukan sekadar instrumen untuk bekerja dan beribadah. Tubuh juga memiliki hak yang harus ditunaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu.”
(al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Ṣawm, no. 1975).
Hadis tersebut disampaikan dalam konteks menegur sikap berlebihan dalam ibadah hingga mengabaikan kebutuhan tubuh. Prinsipnya penting: merawat kondisi fisik bukan sesuatu yang berada di luar kehidupan beragama.
Dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, menjaga kebugaran dapat ditempatkan dalam ḥifzun nafs—pemeliharaan jiwa dan kehidupan. Al-Qur’an pun mengingatkan, “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS. al-Baqarah [2]: 195).
Menjaga tubuh agar sehat, kuat, dan mampu menjalankan tanggung jawab kehidupan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah jasmani.
Ketika Olahraga Menjadi Lifestyle
Menjadi gaya hidup justru dapat memberi keuntungan besar bagi olahraga. Lari kini memiliki ekosistem sepatu, pakaian, jam pintar, aplikasi, race organizer, komunitas, hingga wisata olahraga. Padel menghadirkan lapangan, raket, pelatih, turnamen, dan ruang pergaulan baru.
Teknologi juga membantu. Jam pintar dapat mengingatkan seseorang bergerak, aplikasi mencatat kemajuan, sedangkan komunitas membantu menjaga konsistensi.
Karena itu, lifestyle dan olahraga tidak perlu dipertentangkan. Yang perlu dijaga adalah agar gaya hidup olahraga berjalan seiring dengan kebiasaan bergerak berkelanjutan.
Pintunya pun harus tetap luas. Orang yang tidak memiliki jam pintar tetap dapat berjalan kaki. Anak dapat bermain bola. Lansia dapat melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuannya. Olahraga modern boleh berkembang, tetapi semangat dasarnya tetap inklusif: setiap orang mempunyai kesempatan untuk bergerak.
Dari FOMO Menuju Kontinuitas
Tren olahraga mempunyai kekuatan: fear of missing out atau FOMO. Ketika teman mulai berlari, seseorang tertarik mencoba. Ketika padel ramai di media sosial, orang penasaran memegang raket.
Tidak masalah seseorang mulai berolahraga karena tren. Yang penting adalah apa yang terjadi setelahnya.
Apakah tiga bulan kemudian ia masih berlari? Apakah setelah rasa penasaran terhadap padel terpenuhi ia tetap aktif?
Inilah tantangan sebenarnya: mengubah viralitas menjadi kontinuitas.
Islam pun memberi nilai besar pada kontinuitas. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit (al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 6464; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 783).
Hadis tersebut berbicara tentang amal ibadah, bukan dalil khusus olahraga. Namun prinsip konsistensinya relevan: kebiasaan kecil yang bertahan sering lebih bermakna daripada semangat besar yang segera menghilang.
Dalam bahasa Haornas: viralitas boleh menjadi awal, tetapi kontinuitaslah yang membentuk budaya.
Ketika Tubuh Bergerak, Relasi Mendekat
Budaya bergerak juga berhubungan dengan ketahanan keluarga. Dalam kehidupan yang semakin dipenuhi layar, aktivitas fisik bersama menyediakan sesuatu yang semakin langka: kehadiran nyata.
Orang tua dan anak dapat berjalan pagi, bersepeda, atau bermain bersama. Mereka bergerak, berbicara, tertawa, dan mengalami sesuatu bersama.
Olahraga tidak hanya membuat tubuh bergerak. Ia juga dapat membuat relasi bergerak mendekat.
Menjaga kebugaran anggota keluarga karena itu menjadi pertemuan antara ḥifzun nafs dan ketahanan keluarga: tubuh dijaga agar kehidupan keluarga dapat dijalani secara sehat, produktif, dan berkualitas.
Haornas dan After-Event Movement
Indonesia membutuhkan atlet hebat, kompetisi, medali, rekor, dan prestasi internasional. Namun pembangunan olahraga juga membutuhkan masyarakat yang menjadikan aktivitas fisik bagian dari kehidupan sehari-hari.
Padel dapat menjadi pintunya. Lari dapat menjadi pintunya. Bulu tangkis, pencak silat, bersepeda, berjalan kaki, dan permainan tradisional juga dapat menjadi pintunya.
Tetapi setiap pintu membutuhkan jalan lanjutan.
Kita membutuhkan after-event movement: keberlanjutan aktivitas fisik setelah sebuah event, tren, atau momentum olahraga selesai. Energi pada hari perlombaan tidak berhenti ketika garis finis dilalui, medali dibawa pulang, atau unggahan media sosial selesai dibuat.
Event adalah pemantik, bukan tujuan akhir.
After-event movement terjadi ketika peserta fun run tetap berlari setelah tidak ada race, keluarga tetap berjalan pagi setelah Haornas berlalu, dan orang yang mengenal olahraga melalui tren akhirnya menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
Konsep ini menjembatani kesenjangan visibilitas–aktivitas. Olahraga yang semakin terlihat menghasilkan partisipasi; partisipasi kemudian perlu dijaga hingga menjadi kebiasaan.
Karena itu, ukuran keberhasilan Haornas tidak cukup dilihat pada 9 September.
Lihatlah 10 September dan hari-hari setelahnya.
Apakah orang masih berlari ketika tidak ada race? Apakah keluarga masih berjalan ketika tidak ada tantangan jumlah langkah? Apakah masyarakat tetap aktif ketika tren media sosial berganti?
Mungkin itulah pertanyaan terpenting Haornas:
Apa yang tersisa ketika viralitas berakhir?
Jika jawabannya lebih banyak orang yang tetap aktif bergerak, viralitas bukan ancaman bagi budaya olahraga. Ia justru menjadi jembatan dari tren menuju kebiasaan, dari visibilitas menuju aktivitas, dan dari momentum menuju after-event movement—hingga akhirnya melahirkan kontinuitas.
Sebuah ikhtiar merawat tubuh yang telah diamanahkan Allah kepada manusia, bukan hanya ketika olahraga sedang ramai, tetapi juga ketika panggung telah sepi.
