Refleksi One Health Day, 3 November 2026
Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI
Sebuah keluarga membersihkan rumah setiap hari, menyediakan makanan bergizi, dan mengajarkan anak mencuci tangan. Namun, air di lingkungannya tercemar, udara dipenuhi asap, dan nyamuk berkembang biak di saluran yang tidak terawat. Ketika anak jatuh sakit, pantaskah seluruh kesalahan dibebankan kepada orang tuanya?
Pertanyaan tersebut membongkar anggapan bahwa kesehatan sepenuhnya merupakan hasil kedisiplinan pribadi. Penyakit tidak mengenal pagar rumah. Udara, air, pangan, hewan, dan lingkungan menghubungkan keselamatan satu keluarga dengan keluarga lainnya.
Setiap 3 November, One Health Day mengingatkan pentingnya keterhubungan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan ekosistem (One Health Commission, t.t.). Pendekatan One Health merupakan kerangka ilmiah lintas sektor, bukan ajaran agama. Namun, bagi keluarga Muslim, keterhubungan tersebut menghadirkan pertanyaan moral: apakah keimanan hanya membimbing manusia menjaga dirinya, atau juga menuntut kepedulian terhadap keselamatan sesama?
Iman Tidak Menghapus Ikhtiar
Allah menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan menurut ukuran (QS. Al-Qamar [54]: 49). Ayat ini menegaskan kekuasaan Allah, bukan menjelaskan mekanisme biologis penularan penyakit. Bagaimana patogen menyebar dan lingkungan memengaruhi kesehatan tetap harus dipelajari melalui penelitian ilmiah.
Rasulullah ﷺ melarang seseorang memasuki wilayah yang dilanda wabah tha’un dan melarang penduduknya keluar untuk melarikan diri dari wabah tersebut (al-Bukhari, no. 5728; Muslim, no. 2218).
Hadis tersebut menunjukkan pentingnya kehati-hatian. Penerapan teknis pengendalian wabah masa kini tetap memerlukan ilmu epidemiologi dan kebijakan kesehatan masyarakat.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari, ketika membahas hadis wabah, menguraikan persoalan takdir dan ikhtiar menghindari bahaya. Tawakal bukan pembenaran untuk mengabaikan risiko yang dapat dicegah.
Keimanan seharusnya menguatkan kesungguhan menjaga keselamatan, bukan melemahkannya. Menerima ketetapan Allah tidak berarti menolak pengetahuan mengenai sebab-sebab penyakit.
Rumah Bersih, Lingkungan Belum Tentu Sehat
WHO dan UNICEF (2025) memperkirakan 2,1 miliar penduduk dunia belum memiliki layanan air minum yang dikelola secara aman pada 2024. Sebanyak 3,4 miliar orang juga belum menikmati sanitasi yang dikelola secara aman.
Data tersebut menunjukkan keterbatasan nasihat kesehatan yang hanya menekankan perilaku individu. Bagaimana keluarga dapat menjaga kebersihan secara optimal ketika akses air aman dan sanitasi memadai tidak tersedia?
Keluarga yang tinggal di lingkungan tercemar dapat menghadapi risiko lebih besar meskipun berusaha hidup sehat. Menyalahkan mereka tanpa memahami kondisi perumahan, penghasilan, dan infrastruktur berarti mengabaikan ketimpangan kesempatan untuk sehat.
Persoalan ini memperlihatkan bahwa pendidikan kesehatan tidak cukup berhenti pada nasihat mencuci tangan. Masyarakat juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan nasihat tersebut dilaksanakan.
Ancaman yang Tidak Bisa Ditangani Sendirian
Rencana Aksi Bersama One Health 2022–2026 dari WHO, FAO, UNEP, dan WOAH menekankan kolaborasi menghadapi penyakit zoonotik, resistansi antimikroba, keamanan pangan, serta ancaman lingkungan (WHO et al., 2022).
Pada Agustus 2026, keempat organisasi tersebut mengumumkan perpanjangan pelaksanaan rencana aksi hingga 2029 (WHO, 2026). Perkembangan ini memperlihatkan bahwa keterhubungan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tetap menjadi perhatian internasional.
Resistansi antimikroba memberikan contoh nyata. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada manusia maupun hewan dapat mendorong berkembangnya mikroorganisme resisten. Dampaknya tidak berhenti pada pengguna obat, melainkan dapat mengancam keberhasilan pengobatan masyarakat.
Pencegahannya memerlukan pelayanan kesehatan bermutu, penggunaan obat secara bertanggung jawab, pengawasan peternakan, serta kebijakan publik yang efektif.
Perubahan suhu, curah hujan, dan kondisi habitat juga dapat memengaruhi penyebaran sebagian vektor penyakit. Namun, besarnya risiko berbeda menurut wilayah sehingga keputusan pencegahan harus berdasarkan data lokal, bukan ketakutan atau generalisasi.
Amanah yang Melampaui Pagar
Allah menyatakan bahwa manusia diberi tanggung jawab memakmurkan bumi (QS. Hud [11]: 61). Al-Qur’an juga mengingatkan kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia (QS. Ar-Rum [30]: 41).
Kedua ayat tersebut memberikan landasan etis untuk menjaga kehidupan. Namun, keduanya tidak boleh dijadikan alasan menuduh bahwa setiap orang sakit sedang menerima hukuman Allah. Penyebab penyakit harus diperiksa berdasarkan bukti, bukan prasangka moral.
Rasulullah ﷺ mengajarkan prinsip, “Tidak boleh membahayakan dan saling membahayakan” (Ibnu Majah, no. 2340).
Membuang limbah ke sungai, mengabaikan sumber pencemaran, atau menyebarkan informasi kesehatan yang menyesatkan dapat merugikan keluarga lain. Kesalehan pribadi kehilangan dimensi sosial ketika keselamatan tetangga diabaikan.
Dalam al-Mustasfa, al-Ghazali menjelaskan lima kepentingan pokok yang dijaga syariat: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Dalam penerapan kontemporer, perlindungan jiwa berkaitan dengan pencegahan penyakit; perlindungan keturunan dengan keselamatan anak; dan perlindungan harta dengan pengurangan beban ekonomi akibat sakit. Ini merupakan penerapan kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, bukan klaim bahwa al-Ghazali membahas One Health secara langsung.
Islahuts Tsamaniyah dan Tanggung Jawab Keluarga
Pedoman PUI memuat delapan bidang perbaikan dalam Islahuts Tsamaniyah, meliputi akidah, ibadah, pendidikan, keluarga, adat istiadat, perekonomian, masyarakat, dan umat (PUI, t.t.).
Dalam konteks kesehatan, perbaikan akidah menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan merupakan amanah Allah. Perbaikan pendidikan membentuk kemampuan memahami informasi kesehatan. Perbaikan keluarga membiasakan perilaku bertanggung jawab, sedangkan perbaikan masyarakat memperluas kepedulian melampaui rumah sendiri.
Pengaitan tersebut merupakan penerapan nilai PUI pada persoalan kesehatan kontemporer, bukan pernyataan bahwa PUI merumuskan teori One Health.
Anak yang diajarkan bahwa alam merupakan ciptaan Allah perlu melihat keteladanan nyata: menjaga air, tidak membuang sampah sembarangan, memperlakukan hewan dengan baik, dan mencari pertolongan medis ketika diperlukan.
Namun, tanggung jawab kesehatan tidak boleh hanya dibebankan kepada ibu. Ayah, masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah memiliki kewajiban sesuai perannya.
Allah memerintahkan keadilan dan kebajikan (QS. An-Nahl [16]: 90). Karena itu, perlindungan kesehatan harus memperhatikan keluarga rentan, bukan hanya mereka yang mampu membeli keamanan.
Dari Kebersihan Rumah Menuju Keadilan Kesehatan
Kebaruan sudut pandang ini terletak pada kritik terhadap ilusi kemandirian kesehatan keluarga. Rumah bersih belum tentu aman ketika lingkungan bersama dibiarkan sakit.
Kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pilihan pribadi, tetapi juga oleh tersedianya kesempatan untuk menjalankan pilihan yang sehat. Menuntut keluarga bertanggung jawab tanpa memperbaiki kondisi yang membahayakannya dapat berubah menjadi ketidakadilan.
Karena itu, keberhasilan menjaga kesehatan keluarga tidak cukup dinilai dari kebiasaan individu, tetapi juga dari keadilan akses, kualitas lingkungan, dan perlindungan masyarakat paling rentan.
Keluarga muslih tidak berhenti pada perlindungan penghuninya. Ia memahami bahwa perilakunya dapat memperbesar atau mengurangi risiko bagi orang lain.
Pada One Health Day 2026, pertanyaan terpenting bukan hanya, “Apakah rumah kita sudah sehat?” melainkan, “Apakah tindakan dan keputusan kita membantu keluarga lain hidup lebih aman?”
Pagar membatasi tanah, tetapi tidak membatasi udara, air, maupun risiko penyakit. Menjaga amanah Allah berarti berikhtiar melindungi kehidupan, termasuk kehidupan orang yang tidak pernah memasuki rumah kita.
