Refleksi Pekan Literasi Media dan Informasi Global, 29 Oktober 2026
Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI
Seorang ayah membaca berita melalui media daring. Ibu memperoleh penjelasan berbeda dari komunitas yang diikutinya. Anak menemukan pandangan lain melalui media sosial. Ketiganya membicarakan persoalan yang sama, tetapi memiliki kesimpulan berbeda.
Percakapan berubah menjadi perdebatan. Ayah merasa kewibawaannya dipertanyakan. Ibu merasa pendapatnya diabaikan. Anak akhirnya memilih diam karena khawatir dianggap tidak menghormati orang tua.
Mereka tetap tinggal serumah, makan bersama, dan menjalankan kegiatan keluarga. Namun, perlahan berkurang sesuatu yang sangat berharga: keberanian menyampaikan pendapat, kesediaan mendengarkan, dan rasa aman untuk berbeda pandangan.
Bagaimana mungkin keluarga yang hidup dalam satu rumah justru kehilangan ruang untuk saling memahami?
Persoalan ini memperlihatkan bahwa ketahanan keluarga tidak cukup dibangun melalui kedekatan fisik. Keluarga membutuhkan kemampuan mempertahankan hubungan ketika anggotanya memiliki pemahaman berbeda.
Ketika Perbedaan Menjadi Ancaman
Dalam komunikasi digital dikenal istilah echo chamber, yaitu lingkungan komunikasi yang cenderung memperkuat keyakinan melalui interaksi dengan pandangan serupa.
Namun, perbedaan pendapat dalam keluarga tidak semata-mata disebabkan teknologi. Pengalaman hidup, pendidikan, nilai, dan lingkungan sosial turut membentuk cara seseorang memahami persoalan.
Masalah muncul ketika ketidaksetujuan dianggap sebagai penolakan pribadi. Kritik terhadap pendapat ditafsirkan sebagai penghinaan. Percakapan akhirnya berubah menjadi persaingan mempertahankan harga diri.
Padahal, ketidaksepakatan tidak selalu berarti keretakan hubungan. Dua orang dapat memiliki kesimpulan berbeda tanpa kehilangan penghormatan dan kasih sayang.
Persoalan sesungguhnya bukan mengapa keluarga berbeda pandangan, melainkan mengapa perbedaan sering dianggap mengancam hubungan.
Apa Kata Penelitian?
Warner, Colaner, dan Park (2021) meneliti 833 responden di Amerika Serikat mengenai perbedaan pandangan politik dan komunikasi keluarga.
Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan pandangan dan polarisasi afektif berkaitan dengan berkurangnya penyesuaian komunikasi, yang selanjutnya berhubungan dengan melemahnya identitas bersama keluarga. Penghormatan terhadap nilai yang berbeda merupakan strategi penting untuk mempertahankan hubungan.
Penelitian tersebut tidak dapat langsung digeneralisasi kepada seluruh keluarga Indonesia. Namun, temuannya memperlihatkan pentingnya cara anggota keluarga memperlakukan perbedaan.
Itzchakov dan kolega (2024), melalui empat eksperimen, menemukan bahwa mendengarkan secara berkualitas dapat mengurangi sikap defensif dan membantu menurunkan polarisasi pandangan.
Mendengarkan berkualitas mencakup perhatian, pemahaman, dan niat positif. Keterampilan tersebut memungkinkan seseorang mempertimbangkan kembali pandangannya tanpa merasa diserang.
Temuan ini menawarkan pelajaran penting: keberhasilan dialog tidak selalu ditandai berubahnya pendapat, tetapi juga meningkatnya kemampuan memahami alasan orang lain.
Islam Mengajarkan Adab Perbedaan
Allah SWT berfirman:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 53).
Dalam QS. Āli ‘Imrān [3]: 159, Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ bersikap lembut dan bermusyawarah. Ayat tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak meniadakan kebutuhan mendengarkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhārī No. 6018; Muslim No. 47).
Imam al-Nawawī dalam Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, pada penjelasan hadis tentang berkata baik atau diam, menguraikan pentingnya mempertimbangkan kebaikan perkataan sebelum mengucapkannya.
Prinsip tersebut tidak berarti anggota keluarga harus membungkam pendapat berbeda. Sebaliknya, setiap pendapat perlu disampaikan dengan alasan yang bertanggung jawab dan bahasa yang menjaga kehormatan.
Anak berkewajiban menghormati orang tua, tetapi penghormatan tidak meniadakan kesempatan bertanya. Orang tua memiliki tanggung jawab mendidik, tetapi kewenangan tersebut harus dijalankan dengan hikmah.
Ketahanan Dialog sebagai Ukuran Baru
Keluarga harmonis sering dibayangkan sebagai keluarga yang jarang berdebat. Padahal, ketiadaan perdebatan belum tentu menunjukkan saling pengertian.
Sebagian anggota keluarga mungkin memilih diam karena takut disalahkan. Keheningan demikian tidak selalu mencerminkan kedamaian.
Karena itu, diperlukan konsep ketahanan dialog keluarga, yakni kemampuan mempertahankan penghormatan, kepercayaan, dan komunikasi ketika menghadapi perbedaan pandangan.
Konsep ini merupakan gagasan pengembangan pendidikan ketahanan keluarga, bukan instrumen ilmiah yang telah tervalidasi.
Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, ketahanan dialog mendukung ḥifẓ al-‘aql melalui penalaran, pertimbangan bukti, dan keterbukaan terhadap koreksi. Sementara itu, ḥifẓ al-nafs berkaitan dengan perlindungan martabat dan keselamatan psikologis anggota keluarga.
Al-Syāṭibī dalam Al-Muwāfaqāt, melalui pembahasan kemaslahatan dan tujuan syariat, memberikan kerangka untuk mempertimbangkan akibat tindakan terhadap kehidupan manusia. Penerapannya pada komunikasi keluarga merupakan pengembangan analisis kontemporer.
Dengan demikian, cara mempertahankan pendapat juga perlu dinilai berdasarkan manfaat dan akibatnya terhadap hubungan keluarga.
Ishlahuts Tsamaniyah dan Pendidikan Dialog
Bagi Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI, ketahanan dialog berkaitan dengan empat dimensi Ishlahuts Tsamaniyah.
Iṣlāḥ al-‘Aqīdah (perbaikan akidah) menanamkan kesadaran bahwa setiap perkataan mengandung tanggung jawab moral di hadapan Allah.
Iṣlāḥ at-Tarbiyah (perbaikan pendidikan) membentuk kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi, menerima koreksi, dan menghormati perbedaan.
Iṣlāḥ al-‘Āilah (perbaikan keluarga) memperkuat musyawarah, kasih sayang, kepercayaan, dan kesempatan menyampaikan pendapat dalam keluarga.
Iṣlāḥ al-Mujtama‘ (perbaikan masyarakat) memperluas budaya dialog beradab dari rumah menuju kehidupan masyarakat.
Keempat dimensi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dialog bukan sekadar keterampilan berbicara, melainkan bagian dari pembentukan akhlak dan penguatan ketahanan keluarga.
Gebrakan: MIMBAR KELUARGA
LKK DPP Wanita PUI dapat menggagas MIMBAR KELUARGA — Musyawarah untuk Memahami Perbedaan dalam Keluarga
Program ini berupa latihan dialog terstruktur selama 20 menit setiap pekan, dengan prinsip memahami sebelum menanggapi.
Setiap anggota keluarga bergiliran menyampaikan pendapat mengenai satu persoalan. Anggota lainnya tidak langsung membantah, tetapi terlebih dahulu mengulangi inti pendapat yang didengarnya.
Pemilik pendapat memastikan apakah penjelasan tersebut sudah tepat. Setelah tercapai pemahaman, tanggapan baru disampaikan.
Pertemuan ditutup dengan mengidentifikasi kesepakatan, perbedaan yang masih ada, dan tindakan bersama yang dapat dilakukan.
Keberhasilannya dievaluasi melalui empat indikator: kesempatan berbicara tanpa interupsi, ketepatan memahami pendapat pihak lain, kemampuan menyampaikan ketidaksetujuan tanpa penghinaan, serta kesediaan melanjutkan dialog.
Keempat indikator dapat dicatat secara sederhana sebelum dan setelah empat pertemuan. Hasilnya digunakan untuk memperbaiki komunikasi, bukan memberi label buruk kepada anggota keluarga.
Program ini dapat diperkenalkan melalui majelis ilmu, pendidikan keluarga, dan pembinaan kader PUI, dengan penyesuaian terhadap usia serta kondisi keluarga.
Berbeda Tanpa Kehilangan Persaudaraan
UNESCO mengangkat tema Pekan Literasi Media dan Informasi Global 2026, “We All Play a Part – Media and Information Literacy for the People”, atau “Kita Semua Berperan—Literasi Media dan Informasi untuk Masyarakat” (UNESCO, 2026).
Tema tersebut menegaskan tanggung jawab bersama dalam membangun literasi informasi. Bagi keluarga, tanggung jawab itu juga mencakup kemampuan mempertahankan hubungan ketika menghadapi perbedaan pemahaman.
Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan kesepakatan. Tidak setiap pendapat harus dimenangkan. Namun, penghormatan, kasih sayang, dan kesediaan mendengarkan harus tetap dipelihara.
Keluarga tangguh bukan keluarga yang selalu sepakat, melainkan keluarga yang mampu berbeda tanpa kehilangan persaudaraan.
