Ketua Majelis Syura PUI: Ramadhan Momentum Menstabilkan Hati, Pikiran, dan Jasad

JakartaKetua Majelis Syura Persatuan Ummat Islam (PUI), KH. Nurhasan Zaidi, menegaskan bahwa bulan suci Ramadhan merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk memperkuat ketakwaan sekaligus menyeimbangkan kehidupan spiritual, intelektual, dan fisik.

Hal tersebut disampaikan beliau dalam kegiatan Itikaf Ramadhan Pengurus dan Anggota PUI yang diikuti sekitar 130 peserta di Masjid Jami Al Ikhlas, Menteng Dalam, Jakarta, pada Kamis (12/3/26).

Dalam sambutannya, KH. Nurhasan Zaidi terlebih dahulu menyampaikan apresiasi kepada pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang telah menyediakan tempat untuk kegiatan ibadah tersebut.

“Kami ucapkan terima kasih kepada pengurus DKM masjid yang telah menyediakan tempat yang mulia ini untuk kegiatan ibadah bersama,” ujarnya.

Beliau kemudian mengingatkan bahwa tujuan utama ibadah puasa adalah membentuk ketakwaan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

“Kita berpuasa untuk menjadikan kita bertakwa. Dengan takwa semua urusan akan beres dan selalu ada jalan keluar. Allah berfirman, ‘Kutiba ‘alaikumush shiyam kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la‘allakum tattaqun’,” jelasnya.

Menurutnya, Ramadhan juga menjadi waktu untuk mengisi ulang (recharge) keimanan setelah sebelas bulan manusia sibuk dengan berbagai aktivitas duniawi.

“Mudah-mudahan kita bisa men-charge iman kita di bulan Ramadhan ini, setelah sebelas bulan lainnya kita beraktivitas dalam berbagai urusan kehidupan,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menjadikan berbagai momentum perjuangan sebagai sarana penguatan iman dan spiritualitas.

Selain itu, KH. Nurhasan Zaidi menekankan bahwa ibadah puasa tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan.

“Dalam hadis disebutkan, ‘Shuumuu tashihhuu’, berpuasalah kalian agar kalian sehat,” tuturnya.

Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya dan menghadirkan keseimbangan dalam kehidupan manusia.

Karena itu, Ramadhan menurutnya merupakan momentum untuk menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan manusia.

“Ramadhan ini adalah momentum untuk menstabilkan hati, pikiran, dan jasad kita. Hati dicas dengan ibadah, pikiran diisi dengan keilmuan, dan jasad diisi dengan makanan yang halal dan baik,” ujarnya.

Beliau menutup sambutannya dengan harapan agar Ramadhan tahun ini menjadi bulan yang penuh keberkahan bagi seluruh umat Islam.

“Mudah-mudahan Ramadhan ini menjadi Ramadhan yang penuh berkah bagi kita semua, dan bukan menjadi Ramadhan terakhir bagi kita,” pungkasnya.

Exit mobile version