Kabar DaerahWanita PUI

Ketum Wanita PUI: Pentingnya Perempuan Mendidik dan Berdakwah Via Media Sosial

PUI.OR.ID, JAKARTA – Alhamdulillah, pada Sabtu 20 Januari 2024, Dewan Pengurus Pusat Wanita Persatuan Ummat Islam (DPP WPUI) menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) bertemakan “Peneguhan Narasi Positif Ketahanan Keluarga Sebagai Dakwah dan Pendidikan PUI Di Media Digital Untuk Kemajuan Indonesia”. Acara ini bertempat di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta Timur.

Sebagai pembukaan, penyampaian sambutan dari Ketua Umum PP Wanita PUI, Dra.Hj. Iroh Siti Zahroh, M.Si. Beliau menyampaikan sangat bersyukur dan berterima kasih pada panitia dan peserta yang telah meluangkan waktu meninggalkan keluarga untuk ber-amaliyah dan tolabul ilmi. Hal ini merupakan tantangan yang tidak mudah, karena sebagai perempuan memiliki tugas istimewa di keluarga dalam mendidik, mengelola keluarga hingga membesarkan anak.

Selanjutnya Ibu Iroh, beliau biasa disapa, menyampaikan saat ini PUI telah memasuki usia 106 tahun, sebuah usia matang, sehingga harus maju dan dirasakan manfaatnya oleh umat. “Selain itu dalam era digital yang memiliki fungsi ibarat dua mata pisau, satu sisi bermanfaat sisi lainnya ada mudharat, dengan demikian kita harus cerdas menggunakannya,” ujar Ibu Iroh. Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa tentang Pedoman Bermuamalah di Medsos, menjadi acuan bagaimana menggunakan media digital sebagai media komunikasi yang efektif. “Jadi, mari kita gunakan medsos tersebut untuk dimanfaatkan dalam dakwah juga Pendidikan,” pesannya.

Selain itu, Ketum Wanita PUI lebih lanjut mengingatkan dalam tahun politik ini masyarakat akan melaksanakan Pemilihan Umum (Pemilu) antara lain pemilihan Calon Presiden (Capres), Calon Wakil Presiden (Cawapres), anggota legislatif dan DPD RI, agar dalam ber-muamalah tidak terpancing hal negatif dalam dukung mendukung.

 

“Jadi walaupun berbeda pilihan harus tetap jaga persatuan. Karena terlalu mahal bila kita rusak silaturahmi, hubungan dan lainnya sehingga persatuan terkoyak di NKRI ini,” ujar Ibu Iroh.   Beliau juga menegaskan bahwa ada ijtima fatwa MUI yang menyampaikan bahwa kita tidak boleh golput dalam pemilu, karena akan berpengaruh pada kebijakan masa depan bangsa, selain itu juga bida disalahgunakan untuk kecurangan.

PUI dalam hal ini memiliki prinsip bebas aktif dalam memilih pemimpin sesuai hati nurani. “Tentunya harapan kita selain memiliki sikap amanah, sidiq, fathonah dan tablig, juga yang care terhadap ketahanan keluarga. Karena ketahanan keluarga sebagai ujung tombak baik atau buruknya generasi muda ke depan dan memengaruhi peradaban,” lanjut Bu Iroh. Dalam PUI, salah satu implementasi dari Itslahul Tsamaniyah adalah perbaikan ai’lah juga umat, sehingga hablul minallah dan hablul minannas seiring harus terjaga.

Pada sesi akhir, Ketum Wanita PUI mengutip Al Qur’an surat Al Zalzalah ayat 7-8 yang intinya “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. Pesan dalam ayat tersebut terkait bahwa dalam ber-medsos jari kita sebagai pengganti mulut, jadi apa yang disebarluaskan itu yang akan diminta pertanggung jawabannya. Oleh karena itu, Ibu Iroh mengingatkan agar kita harus hati-hati, dan mengajak kita semua bersama-sama membanjiri narasi positif dalam konten di media digital, baik melalui akun organisasi masyarakat (ormas), akun struktur profesi, manapun akun pribadi.

“Yang penting ‘Saring sebelum Sharing’, pikirkan manfaat/mudharat atau penting tidaknya materi dan berita yang akan disampaikan,” ujarnya. Di akhir sambutan, Ibu Iroh mengingatkan agar kita menjadi netizen yang bijak mulai dari diri sendiri, dari materi yang sederhana tetapi istikomah dalam berdakwah lewat media digital. (ISZ)

Related Articles

Back to top button