KH Ahmad Heryawan: PUI Harus Rangkul 52% Umat Islam yang Belum Berorganisasi dengan Strategi “Scientific Da’wah” dan “Taisir”

MAJALENGKA – Ketua Majelis Masyayikh PUI, Dr. KH. Ahmad Heryawan, Lc., M.Si. (Kang Aher), yang juga bertindak sebagai narasumber, memaparkan materi strategis bertajuk “Roadmap Kebangkitan PUI: Sinergi Struktural dan Kultural dalam Membangun Kedaulatan Jam’iyyah di Kancah Nasional” dalam forum Mudzakarah Dakwah PUI 2026. Dalam penyampaiannya, Kang Aher menekankan pentingnya PUI melakukan ekspansi dakwah yang inklusif untuk merangkul kelompok masyarakat yang selama ini belum terafiliasi dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam manapun.

Beliau menyoroti sebuah data krusial yang menunjukkan bahwa sekitar 52% umat Islam di Indonesia belum berafiliasi atau merasa memiliki ikatan dengan ormas Islam manapun. Menurut Kang Aher, kelompok besar ini adalah “ladang hijau” yang harus digarap secara serius oleh PUI. “Kita tidak boleh hanya sibuk berebut pengaruh di dalam kolam yang sudah penuh. PUI harus hadir dengan wajah Islam yang Syumuliyah (komprehensif) namun tetap memudahkan (At-Taisir). PUI harus menjadi rumah yang nyaman bagi mereka, tanpa membuat mereka merasa terhakimi oleh label-label keagamaan yang kaku,” ujar mantan Gubernur Jawa Barat tersebut.

Lebih lanjut, Kang Aher memperkenalkan konsep Scientific Da’wah atau dakwah berbasis data dan pendekatan ilmiah sebagai kunci kebangkitan PUI di kancah nasional. Beliau mendorong adanya “revolusi istilah” dalam menyapa masyarakat, salah satunya dengan mengganti penyebutan kelompok “Abangan” menjadi Muqtashid (kelompok pertengahan). Menurutnya, perubahan diksi ini bukan sekadar permainan kata-kata, melainkan strategi psikologis dan teologis untuk mendekatkan nilai-nilai Islah kepada seluruh lapisan masyarakat agar mereka merasa diterima dan dirangkul.

Kader PUI pun didorong untuk memiliki mentalitas Yukhalitunnasa atau berbaur secara aktif dengan masyarakat dalam berbagai strata sosial. Kang Aher menegaskan bahwa dakwah PUI tidak boleh lagi eksklusif di dalam masjid atau lingkaran internal saja, tetapi harus melakukan penetrasi ke pasar, birokrasi, komunitas hobi, hingga dunia digital dengan membawa misi perbaikan. Dengan pendekatan yang merangkul dan tidak konfrontatif, PUI diyakini mampu menjadi magnet bagi umat yang merindukan narasi Islam yang sejuk dan solutif.

“Kebangkitan PUI di masa depan sangat bergantung pada kemampuan kita mensinergikan kekuatan struktural organisasi dengan gerakan kultural di akar rumput. Kita harus masuk ke semua lini kehidupan dengan tetap membawa identitas Islah. Jika kita mampu mengelola potensi 52% umat yang belum berorganisasi ini dengan manajemen yang profesional dan berbasis data, maka kedaulatan jam’iyyah PUI akan tegak secara alami dan disegani di tingkat nasional,” tegas Kang Aher menutup materinya dengan penuh optimisme.

Exit mobile version