Refleksi Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru, 7 September
Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI
Setiap hari kita membuat banyak keputusan untuk melindungi keluarga. Kita memilih makanan sehat, memeriksa tanggal kedaluwarsa, memastikan air minum bersih, dan mengingatkan anak mencuci tangan. Sebagian keluarga bahkan membaca kandungan gula, garam, lemak, dan bahan tambahan pada kemasan.
Namun ada sesuatu yang dikonsumsi seluruh anggota keluarga jauh lebih sering daripada makanan dan minuman: udara.
Kita dapat memilih makanan atau mengganti air minum. Tetapi manusia tidak dapat berhenti bernapas ketika udara di sekitarnya buruk. Kita sangat berhati-hati terhadap apa yang masuk ke mulut keluarga, tetapi belum tentu terhadap apa yang masuk ke paru-paru mereka.
Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru (International Day of Clean Air for blue skies) diperingati setiap 7 September. Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkannya melalui Resolusi A/RES/74/212 pada 2019 dan peringatan pertamanya dilaksanakan pada 2020 (United Nations, 2019).
Momentum ini mengajak kita melihat udara bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi sebagai infrastruktur kehidupan yang tidak terlihat.
Ketika Udara Bersih Tidak Terlihat Nilainya
Udara mudah diabaikan. Ia gratis dan biasanya tidak terlihat. Kita baru menyadarinya ketika asap memenuhi jalan, bau pembakaran sampah masuk rumah, atau langit berubah kelabu. Padahal polusi berbahaya tidak selalu terlihat.
World Health Organization (WHO) mengaitkan gabungan polusi udara luar ruang dan rumah tangga dengan sekitar 6,7 juta kematian prematur setiap tahun. WHO juga melaporkan bahwa 99 persen populasi dunia menghirup udara yang melampaui batas pedoman kualitas udara WHO (WHO, 2024; 2025).
Udara bersih bukan kemewahan lingkungan. Ia kebutuhan dasar kesehatan.
Ketahanan Keluarga Dimulai dari Tarikan Napas
Ketahanan keluarga biasanya dibicarakan melalui ekonomi, pendidikan, kesehatan, pengasuhan, spiritualitas, relasi suami-istri, dan kemampuan menghadapi krisis. Namun ada fondasi yang mendahuluinya: lingkungan yang memungkinkan keluarga hidup sehat.
Apa artinya mempunyai tabungan, pendidikan baik, dan rumah nyaman jika setiap hari keluarga terus terpapar udara yang merusak kesehatan?
Kita dapat memperkenalkan ketahanan respiratorik keluarga, yaitu kemampuan keluarga menjaga kualitas hidup melalui lingkungan pernapasan yang sehat.
Dalam perspektif Islam, persoalan ini bersinggungan dengan ḥifzun nafs—menjaga jiwa dan kehidupan. Al-Qur’an mengingatkan:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”
(QS. al-A‘rāf [7]: 56)
Ayat ini tidak secara khusus berbicara tentang PM2.5, kendaraan, atau emisi industri. Namun prinsipnya relevan: manusia tidak diberi kebebasan merusak lingkungan yang menopang kehidupan.
Rasulullah ﷺ juga mewariskan prinsip:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.”
(Ibn Mājah, Sunan Ibn Mājah, Kitāb al-Aḥkām, no. 2340).
Jika asap rokok, pembakaran sampah, emisi, atau pencemaran menghadirkan mudarat bagi orang lain, persoalannya tidak lagi sekadar pilihan pribadi, tetapi tanggung jawab untuk tidak membahayakan sesama.
Dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, al-Syāṭibī menempatkan ḥifzun nafs sebagai bagian dari al-ḍarūriyyāt, kebutuhan mendasar yang harus dipelihara (al-Muwāfaqāt). Menjaga jiwa bukan hanya bertindak setelah bahaya terjadi, tetapi juga mencegah sebab yang mengancam kesehatan dan kehidupan. Menjaga udara bersih dengan demikian merupakan ikhtiar preventif ḥifzun nafs.
Polusi Ternyata Bisa Tinggal Bersama Kita
Polusi udara tidak hanya berasal dari kendaraan, industri, atau kemacetan. Ia dapat berada di dalam dan sekitar rumah.
WHO memperkirakan sekitar 2,1 miliar orang masih memasak menggunakan api terbuka atau kompor tidak efisien berbahan bakar minyak tanah, biomassa, dan batu bara. Polusi udara rumah tangga diperkirakan menyebabkan sekitar 2,9 juta kematian per tahun berdasarkan estimasi 2021 (WHO, 2025).
Rumah sehat bukan hanya rumah yang lantainya bersih atau sampahnya dibuang. Asap rokok, pembakaran sampah, ventilasi buruk, dan sumber energi berpolusi juga merupakan persoalan kesehatan keluarga.
Kebersihan ternyata bukan hanya apa yang dapat kita sapu.
Langit Biru Bisa Menipu
Langit biru sering dianggap menandakan udara bersih. Padahal partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke paru-paru bahkan aliran darah. Kualitas udara tidak selalu dapat dinilai dengan mata.
Karena itu, informasi kualitas udara perlu dikenal sebagaimana prakiraan hujan atau suhu. Literasi ini membantu keluarga mempertimbangkan aktivitas berdasarkan kondisi lingkungan.
Udara Bersih Bukan Tanggung Jawab Keluarga Saja
Mengaitkan udara bersih dengan keluarga tidak berarti memindahkan seluruh tanggung jawab kepada individu. Tidak adil meminta keluarga menjaga udara sementara transportasi, industri, energi, tata kota, dan pengelolaan sampah tidak dibenahi.
UNEP menekankan pada peringatan 2026 bahwa tindakan terpadu untuk udara bersih dan iklim dapat meningkatkan kesehatan, memberi manfaat ekonomi, sekaligus mendukung tujuan iklim melalui 25 langkah dan reformasi kebijakan (UNEP, 2026).
Tidak membakar sampah penting, tetapi transportasi bersih dan pengendalian emisi industri juga diperlukan. Ventilasi rumah penting, tetapi transisi energi bersih berdampak lebih luas.
Udara adalah milik bersama, maka tanggung jawab menjaganya juga harus dibagi bersama.
Warisan yang Tidak Bisa Disimpan di Bank
Orang tua memikirkan warisan bagi anak: rumah, tanah, pendidikan, dan tabungan. Namun ada warisan tanpa sertifikat kepemilikan: lingkungan tempat anak-anak kelak menjalani kehidupan.
Kita dapat mewariskan rumah, tetapi tidak dapat memasukkan udara bersih ke dalam brankas untuk digunakan dua puluh tahun mendatang.
Di sinilah ḥifẓun nafs bertemu dengan dimensi antargenerasi. Dalam maqāṣid al-syarī‘ah, keberlangsungan generasi juga berkaitan dengan ḥifẓun nasl—pemeliharaan keturunan. Generasi membutuhkan lingkungan yang memungkinkan kehidupan berlangsung sehat dan bermartabat.
Menjaga kualitas udara hari ini merupakan investasi antargenerasi: ikhtiar menjaga kehidupan sekaligus mengurangi risiko yang diwariskan kepada anak dan cucu.
Saat itu, Hari Udara Bersih bertemu dengan ketahanan keluarga. Ketahanan bukan hanya kemampuan menghadapi masalah hari ini, tetapi memastikan keputusan hari ini tidak menciptakan kerentanan bagi generasi berikutnya.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya, bukan hanya, “Apa yang dimakan anak-anak kita?”, tetapi juga, “Apa yang mereka hirup setiap hari?”
Manusia dapat memilih makanan dan minumannya. Tetapi selama hidup, ia tidak memiliki pilihan untuk berhenti bernapas.
Itulah sebabnya udara bersih bukan sekadar isu lingkungan. Ia adalah kebutuhan kesehatan, ikhtiar menjaga jiwa (ḥifẓun nafs) dan keberlangsungan generasi (ḥifẓun nasl), fondasi ketahanan keluarga, serta warisan tak terlihat yang kita titipkan kepada generasi berikutnya—satu tarikan napas pada satu waktu.
