
Oleh: Dr. KH. Endi Suhendi M, MA.
Ketua Dewan Syari’ah Daerah PUI Majalengka
Abu al-Fayaadh al-Manufi asy-Syadzili, R.A. berkata:
> طريقنا: إرادة فرياضة فجلادة فتشبه فانطباع فسعادة. واصولها تقوى الله فى السر والعلانية والاخلاص باطنا وظاهرا والرضا عن الله فى كل حال والأخذ بالحق فى كل أمر ومتابعة الشرع فى كل سبيل، ومخالفة الهوى وعتق النفس من رق العادات ووهم الطبع وهم الرزق والركون إلى الخلق وعلى هذا قد عاش رسول الله صلي الله عليه وسلم وأصحابه وبقية أنبياء الله وأوليائه الصادقين.
Jalan kita (thariqah) terdiri dari:
1. Irodah: Kehendak yang kuat.
2. Riyadhoh: Olah jiwa.
3. Jalladah: Penempaan diri.
4. Tasyabbuh: Meneladani sifat-sifat mulia.
5. Inthibaa’: Terbentuknya karakter yang baik.
6. Sa’adah: Kebahagiaan.
Adapun pondasinya adalah:
* Bertakwa kepada Allah, baik dalam kesunyian maupun di keramaian.
* Ikhlas secara lahir dan batin.
* Ridha terhadap ketentuan Allah dalam segala kondisi.
* Berpegang teguh pada kebenaran dalam setiap urusan.
* Mengikuti syariat di setiap jalan yang ditempuh.
* Melawan hawa nafsu serta memerdekakan diri dari belenggu kebiasaan, ilusi watak, kecemasan akan rezeki, dan ketergantungan pada makhluk.
Di atas prinsip inilah Rasulullah SAW, para sahabat, serta para Nabi dan wali-wali Allah yang tulus menjalani hidup mereka. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung (QS Al-Mujadalah: 22).
—
Catatan Kajian
Mbah Halim adalah tokoh nasional, seorang tokoh besar yang menorehkan sejarah. Keberadaan kita hari ini tidak lepas dari dasar perjuangan beliau. Loyalitas kita tidak akan tumbuh kecuali jika kita memahami kedalaman ajaran dan pedihnya perjuangan beliau.
Wa naktubu maa qoddamu, kami catat apa yang telah mereka lakukan, wa atsaruhum , dan jejak-jejak mereka.
Tugas kita adalah melanjutkan. Bayangkan, berapa banyak sekolah di seluruh Indonesia yang berada di bawah naungan PUI? Masya Allah, itu adalah amal jariyah yang sangat luar biasa.
1. Irodatun (Kemauan)
Dulu, saat saya merintis pesantren, pertanyaan yang muncul bukanlah tentang modal uang, melainkan: “Kamu mau apa?” Ternyata kunci utamanya adalah kemauan. Tanpa kemauan yang kuat, apa pun tidak akan terwujud.
2. Riyadotun (Olah Jiwa)
Biasanya kita mengartikan riyadhoh sebagai olahraga. Memang benar, seorang harus sehat lahir batin. Namun, selain olah raga, ada olah jiwa. Dalam tarekat, olah jiwa dilakukan untuk menguatkan spiritualitas.
* Tijaniyah: memperbanyak shalawat.
* Qodiriah Naqsyabandiah: menekankan zikir jahar dan sirr.
* Bahkan ada mursyid yang tidak memberikan wirid di awal, melainkan menguji murid dengan khidmah (pengabdian). Inilah jenjang maqomat dalam tasawuf.
3. Jaladatun (Penempaan)
Saya menerjemahkan ini sebagai penempaan. Tempalah besi selagi panas. Lihatlah gerakan organisasi, biasanya digerakkan oleh tokoh muda yang tangguh. KH Abdullah Syukri pernah berpesan agar kita mencanangkan rencana 4 tahun ke depan, lalu mengevaluasi apakah target tersebut tercapai.
Seseorang dianggap mati jika gerakannya mati. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyebutkan bahwa jika jasad seseorang telah tiada namun namanya tetap harum karena karyanya, itulah umrutsani (usia kedua).
Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, KH A. Hassan, KH Hasyim Asy’ari, hingga KH Ahmad Sanusi tetap dikenang karena jaladah yang mereka lalui.
Wajahidu bi amwalikum wa anfusikum. Hakikat berkorban dalam organisasi, baik waktu, pikiran, maupun materi sebenarnya akan kembali pada kita.
Jika bisnis dengan manusia tujuannya mencari untung (nguruk), maka berbisnis dengan Allah tujuannya adalah keselamatan dari azab yang pedih.
Bagi santri, padatnya kegiatan justru menumbuhkan potensi kecerdasan.
4. Tasyabbuh (Meneladani Idealitas)
Tasyabbuh di sini adalah penyerupaan dalam kerangka cita-cita ideal, seperti cita-cita Rasulullah membangun Madinah.
Mbah Halim adalah sosok yang sangat moderat. Saat berdebat dengan H. Agus Salim, beliau menjelaskan bahwa man tasyabbaha (siapa yang menyerupai) itu konteksnya adalah penyerupaan karakter, bukan sekadar pakaian atau aspek lahiriah.
5. Inthibaa’ (Terbentuknya Karakter)
Setelah latihan, penempaan, dan adanya figur ideal, barulah terbentuk karakter. Seperti Training Intisab, sesuatu menjadi biasa karena dibiasakan.
Annasu ibnu awaidih , manusia adalah budak dari kebiasaannya. Di pesantren, santri diciptakan lingkungannya, diajari, diberi tugas, dan dikawal agar karakter tersebut melekat.
6. Sa’adatun (Kebahagiaan)
Tujuan akhir perjuangan adalah bahagia. Bedanya, kita mencari kebahagiaan dunia sekaligus akhirat. Sebagaimana pesan Nabi kepada sahabat yang meminta azabnya disegerakan di dunia: jangan begitu, berdoalah mohon kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.
Pilar-Pilar Pondasi
1. Ikhlas : Iblis bersumpah akan mendatangi manusia dari segala arah, namun ia tidak bisa menembus orang yang mukhlis (bersih). Jika tujuan kita hanya Allah, gangguan apa pun tidak akan berpengaruh.
2. Bertindak di atas Kebenaran (Al-Akhdu bil Haqq) : Jika pijakan kita benar, Allah akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang benar. Sebagaimana sabda Rasulullah bahwa ruh itu seperti pasukan; yang saling mengenal (dalam kebenaran) akan bersatu. Jangan sekadar ikut mayoritas jika tidak benar. Berdiri di atas kebenaran akan mendatangkan kebahagiaan.
3. Melawan Hawa Nafsu: Al-Qur’an menjanjikan surga bagi mereka yang mampu menahan diri. Barangsiapa yang mampu menguasai dirinya sendiri, maka ia akan mampu menguasai keadaan.
4. Pembebasan Jiwa:
– Bebas dari ilusi tabiat buruk. Di lembaga kita ada istilah Islami, Tarbawi, Ma’hadi, sebagai standar perilaku.
* Bebas dari ilusi rezeki. Jangan artikan rezeki hanya materi. Kesehatan, keluarga sakinah, dan anak yang saleh adalah rezeki yang besar. Judi online adalah contoh ilusi rizki di masyarakat kita, ingin untung namun akhirnya terpuruk.
* Bebas dari ketergantungan pada makhluk. Ulama terdahulu tidak berpangku tangan. KH Ahmad Dahlan menjual hartanya demi perjuangan. Pendiri Gontor mewakafkan segalanya. Begitu juga Mbah Halim. Untuk menguatkan ketergantungan kepada Allah, mereka senantiasa menghidupkan malam-malamnya.
Atas prinsip inilah Rasul dan para sahabat hidup. Mereka disebut sebagai Hizbullah, dalam terjemahan Kemenag, artinya “Golongan Allah”, namun dalam terjemahan Ustadz Muhammad Tolib, Hizbullah bermakna “Kekasih Allah.”
(Bapermin, Jum’at 6/2/2026)