Oleh: Arif Susanto
Ketua Bidang Diklatpim DPP PUI
Hari ini kita punya jutaan pemuda terdidik, anak-anak muda dengan beragam keahlian, pengusaha muda yang sukses, dan generasi yang akrab dengan teknologi. Namun, mengapa begitu banyak potensi besar itu belum terkonsolidasi menjadi kekuatan untuk membangun bangsa? Pertanyaan ini layak kita renungkan pada Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
Hampir satu abad lalu, para pemuda Indonesia melampaui sekat suku, daerah, dan golongan untuk menyatukan tekad: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Mereka disatukan oleh kesadaran akan nasib bersama dan cita-cita kemerdekaan. Hari ini, tantangannya berbeda. Generasi muda menghadapi kegelisahan tentang masa depan diri, keluarga, dan bangsa di tengah persaingan kerja, ketidakpastian ekonomi, disrupsi teknologi, serta perubahan algoritma yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, berbisnis, membangun relasi, dan memperoleh pengakuan.
Sesungguhnya, Indonesia tidak kekurangan modal sumber daya manusia. Pemuda bergelar sarjana hingga doktor, generasi dengan beragam keahlian dan keterampilan, mereka yang memiliki privilese ekonomi dan akses kesempatan dari keluarga, hingga anak-anak muda yang sukses membangun usaha, menciptakan lapangan kerja, dan melahirkan inovasi, jumlahnya tidak sedikit. Namun, berbagai potensi itu belum terkoneksi secara memadai dengan kesadaran dan kerja besar kolektif. Kita memiliki banyak individu hebat, tetapi belum sepenuhnya mampu menjadikan kehebatan mereka sebagai kekuatan bersama.
Sementara itu, tantangan bangsa masih besar. BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka pemuda mencapai 12,24% pada Agustus 2024. Berbagai persoalan pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan ketimpangan kesempatan juga masih membutuhkan jawaban. Cita-cita kemerdekaan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat belum selesai diperjuangkan. Kita membutuhkan lebih banyak karya dan inovasi berdampak, dari persoalan sederhana di lingkungan masyarakat hingga tantangan besar di tingkat nasional.
Membangun bangsa tentu bukan semata tanggung jawab pemerintah. Negara memiliki keterbatasan kapasitas, sementara masyarakat memiliki ruang kontribusi yang luas. Para pemuda pada masa pergerakan nasional memberi pelajaran penting: mereka tidak menunggu Indonesia merdeka untuk mengambil peran. Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), misalnya, mengambil inisiatif menyelenggarakan Kongres Pemuda II pada 1928, yang mempertemukan berbagai organisasi pemuda dalam semangat persatuan.
Di bidang lain, inisiatif seperti Tjahja Volksuniversiteit di Bandung, yang melibatkan pelajar dan mahasiswa dalam kegiatan pendidikan rakyat, menunjukkan bagaimana pengetahuan dapat diabdikan untuk memperluas manfaat bagi masyarakat. Dari konsolidasi gerakan kebangsaan hingga pendidikan rakyat, semangat yang patut kita teladani adalah keberanian mengambil inisiatif, membangun kerja bersama, dan menghadirkan kontribusi nyata tanpa harus menunggu hadirnya kekuasaan atau program dari pemerintah.
Semangat itu perlu dihidupkan kembali melalui builder mindset, bukan waiting leadership. Pemuda tidak cukup menunggu pemimpin, program, atau fasilitas. Mereka perlu berani memulai, membangun solusi, mengembangkan usaha, memperkuat komunitas, dan menciptakan inovasi. Kritik terhadap pemerintah tetap penting sebagai kontrol demokrasi. Namun, jangan sampai kita merasa telah menunaikan tugas kebangsaan hanya dengan mengkritik, apalagi mencaci, sementara persoalan yang kita hadapi tetap tak terselesaikan.
Masalah bangsa seharusnya menjadi ladang pengabdian sekaligus ruang pembelajaran dan penciptaan nilai. Pemuda dapat membangun kompetensi, merintis usaha, memperluas kesempatan, serta menyusun rekam jejak kontribusi. Kesuksesan pribadi tidak harus berlawanan dengan pengabdian, justru kebermanfaat besar adalah pangkal kesuksesan. Keduanya justru sungguh dapat saling menguatkan. Namun, inisiatif individual perlu menemukan arah bersama. Kita tidak harus memiliki profesi, cita-cita, dan cara berkarya yang sama. Yang diperlukan adalah kesadaran kolektif agar keahlian, karya, dan keberhasilan yang beragam saling melengkapi.
Indonesia tidak kekurangan pemuda hebat. Indonesia membutuhkan lebih banyak pemuda yang bersedia bekerja bersama. Jika dahulu kesamaan penderitaan menyatukan pemuda untuk merebut kemerdekaan, hari ini kesamaan kegelisahan semestinya menyatukan kita untuk membangun masa depan. Sebab, bangsa tidak akan menjadi besar hanya karena memiliki banyak orang sukses, tetapi ketika kesuksesan itu ikut mengangkat kehidupan sesama dan memajukan Indonesia.
