Menghidupkan Ruh Mendidik Melalui Keteladanan

Oleh: KH. Dr. Wido Supraha, M.Si.

Sekretaris Majelis Syura Persatuan Ummat Islam

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qalam [68] ayat 4:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ menjadi pendidik terbaik bukan hanya karena keluasan ilmu yang beliau miliki, tetapi karena kemuliaan akhlak yang menjadi bagian dari kehidupannya. Sebelum mengajarkan manusia tentang kebaikan, Rasulullah ﷺ terlebih dahulu menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam dirinya. Seorang guru Muslim yang ingin menjadi muaddib harus memahami bahwa pendidikan tidak dimulai dari metode mengajar, tetapi dimulai dari kualitas pribadi pendidiknya.

Sebelum memperbaiki peserta didik, seorang guru perlu memperbaiki dirinya terlebih dahulu. Ilmu yang disampaikan akan lebih mudah diterima apabila keluar dari hati dan pribadi yang memiliki adab. Kesabaran ketika menghadapi murid, kejujuran dalam menjalankan amanah, kedisiplinan dalam bekerja, serta kelembutan dalam berinteraksi merupakan bentuk pendidikan yang berjalan setiap hari. Terkadang satu sikap baik seorang guru mampu memberikan pengaruh lebih besar daripada banyak nasihat yang disampaikan di ruang kelas.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. al-Bukhari, no. 1; HR. Muslim, no. 1907)

Hadits ini mengingatkan bahwa aktivitas mendidik harus dibangun di atas niat yang benar. Mengajar bukan hanya rutinitas pekerjaan, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Ketika seorang guru meluruskan niat bahwa dirinya sedang membantu membangun generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak, maka berbagai tantangan dalam mendidik akan lebih mudah dijalani sebagai bagian dari ibadah.

Seorang muaddib juga harus memahami bahwa pendidikan membutuhkan kasih sayang. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa ketegasan dalam pendidikan harus berjalan bersama kasih sayang. Guru memang perlu memiliki aturan dan disiplin, tetapi cara menyampaikan aturan tersebut akan menentukan bagaimana hati peserta didik menerima pendidikan. Murid tidak hanya mengingat apa yang diajarkan oleh gurunya, tetapi juga bagaimana mereka diperlakukan oleh gurunya.

Maka mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah murid kita belajar kesabaran karena melihat kesabaran kita? Apakah mereka belajar akhlak karena melihat akhlak kita? Apakah kehadiran kita di kelas membuat mereka semakin dekat kepada kebaikan?

Menjadi muaddib terbaik bukan berarti menjadi guru yang tidak pernah salah, tetapi menjadi guru yang selalu memperbaiki diri di hadapan Allah SWT. Ilmu tanpa adab akan kehilangan keberkahannya, sedangkan ilmu yang dibawa oleh pribadi yang berakhlak akan menjadi cahaya bagi peserta didik dan masyarakat. Semoga Allah SWT menjadikan setiap muaddib/ah sebagai pembawa ilmu, penjaga akhlak, dan jalan kebaikan bagi generasi umat. Aamiin.

Exit mobile version