Menghidupkan Semangat Sumpah Pemuda 1928 di Era Modern

Penulis: KHR. Muhammad Syahruddin Abbas
Ketua Umum DPW PUI Jawa Timur

ABSTRAK

Tulisan ini adalah ikhtiar untuk merawat ingatan kolektif bangsa. Sembilan puluh delapan tahun yang lalu, para pemuda dari berbagai suku, agama dan daerah melebur dalam satu ikrar: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia. Dari ikrar itu lahir Indonesia. Tulisan ini menguraikan bagaimana semangat 1928 harus dihidupkan kembali, bukan dengan nostalgia, tetapi dengan karya: membangun kemandirian dan daya saing generasi muda, merawat persatuan di tengah badai keberagaman, serta meneguhkan akhlak mulia yang beriman dan bertakwa sebagai jangkar keutuhan NKRI.

PENDAHULUAN

Jika kita pejamkan mata dan kembali ke 28 Oktober 1928, di sebuah rumah kecil di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta, kita akan mendengar detak jantung sejarah.

Di sana, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi dan sekian organisasi kedaerahan duduk bersama. Mereka berbeda logat, berbeda adat, berbeda agama. Tapi malam itu mereka sepakat untuk tidak lagi berbicara tentang Jawa atau Sumatera, tentang Islam atau Kristen, tentang suku ini atau suku itu. Malam itu mereka hanya berbicara tentang satu kata: Indonesia.

Itulah keajaiban Sumpah Pemuda. Ia mengubah yang tercerai menjadi bersatu, yang kecil menjadi besar, yang mustahil menjadi mungkin.

Hari ini, hampir satu abad kemudian, kita tidak lagi melawan penjajah dengan bambu runcing. Musuh kita jauh lebih halus: perpecahan yang dibungkus kebebasan berpendapat, kemalasan yang dibungkus kenyamanan teknologi, dan krisis akhlak yang dibungkus kemajuan. Maka, menghidupkan semangat 1928 bukan pilihan, ia adalah kewajiban.

1. Menghidupkan Semangat 1928: Mengingat Kembali Makna Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa

Satu Nusa mengajarkan kita tentang cinta tanah air. Bahwa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, hamparan ini adalah rumah kita bersama. Tidak ada tanah yang lebih Indonesia dari tanah yang lain. Semua sama, semua milik bersama.

Satu Bangsa mengajarkan kita tentang persaudaraan. Bahwa darah yang mengalir di tubuh kita adalah darah yang sama, darah Indonesia. Kita mungkin berbeda suku, tetapi duka yang satu adalah duka kita semua. Bahagia yang satu adalah bahagia kita semua.

Satu Bahasa mengajarkan kita tentang jembatan. Bahasa Indonesia adalah mukjizat pemersatu. Dengan bahasa inilah seorang anak di Aceh bisa memahami doa seorang anak di Papua. Dengan bahasa inilah cita-cita menjadi satu.

Semangat inilah yang harus kita hidupkan kembali di ruang-ruang kelas, di majelis-majelis taklim, di media sosial, dan di hati setiap pemuda.

2. Kemandirian dan Daya Saing: Pemuda Sebagai Motor Penggerak Zaman

Pemuda 1928 memerdekakan bangsa dengan keberanian. Pemuda hari ini memerdekakan bangsa dengan kemandirian dan kecerdasan.

Kemandirian berarti pemuda tidak lagi menunggu, tetapi bergerak. Tidak lagi menjadi beban negara, tetapi menjadi penopang negara. Ia menjadi wirausaha yang membuka lapangan kerja, petani milenial yang mengolah tanah dengan teknologi, santri yang menguasai kitab kuning sekaligus coding dan kecerdasan buatan.

Daya saing berarti pemuda Indonesia tidak minder di hadapan dunia. Ia fasih Al-Qur’an, fasih bahasa Inggris, fasih teknologi. Ia menguasai ilmu pengetahuan, tetapi kakinya tetap berpijak di bumi Indonesia. Ia mendunia, tetapi tidak kehilangan jati diri. Inilah yang disebut: berakar kuat, menjulang tinggi.

3. Menjaga Persatuan di Tengah Keberagaman: Dengan Akhlak Mulia, Iman dan Takwa

Keberagaman Indonesia adalah anugerah terindah sekaligus ujian terberat. Ia indah jika dirawat, ia rapuh jika diabaikan.

Persatuan kita hari ini banyak diuji oleh ego kelompok, ujaran kebencian, hoaks yang memecah belah, dan konflik horizontal yang dipicu oleh jari-jari yang tidak bertanggung jawab di media sosial.

Di sinilah kunci terakhir itu berada: Berakhlak mulia, beriman dan bertakwa.

Ilmu tanpa akhlak adalah bencana. Kecerdasan tanpa iman adalah kehampaan. Teknologi tanpa takwa adalah kerusakan. Akhlak adalah bentengnya, iman adalah cahayanya, takwa adalah kompasnya.

Pemuda yang berakhlak mulia akan menjaga lisannya. Pemuda yang beriman akan menjaga persaudaraannya. Pemuda yang bertakwa akan menjaga bangsanya. Dengan itulah NKRI akan tetap utuh, bukan hanya di peta, tetapi di hati.

KESIMPULAN

Akhirnya, Sumpah Pemuda 1928 memberikan kita tiga warisan abadi.

Pertama, ia mewariskan pelajaran bahwa persatuan adalah segalanya. Tanpa persatuan, kita hanyalah kepingan-kepingan kecil yang mudah dipatahkan.

Kedua, ia mewariskan tanggung jawab bahwa pemuda harus mandiri dan berdaya saing. Karena bangsa yang besar tidak dibangun oleh generasi yang manja, tetapi oleh generasi yang bekerja keras dan menguasai ilmu.

Ketiga, ia mewariskan keyakinan bahwa semua itu tidak akan bermakna tanpa fondasi akhlak mulia, iman dan takwa. Karena kemajuan tanpa akhlak hanya akan membawa kita pada kehancuran yang lebih cepat.

PENUTUP

Wahai pemuda Indonesia,

Jika pada tahun 1928 para pendahulu kita mampu menyatukan perbedaan menjadi kekuatan dengan segala keterbatasan, maka hari ini kita yang memiliki segala kemudahan teknologi seharusnya jauh lebih mampu.

Mari kita hidupkan kembali semangat itu bukan dengan upacara seremonial belaka, tetapi dengan karya nyata. Jadilah pemuda yang menjaga persatuan, yang mandiri, yang berdaya saing, dan yang berakhlak mulia.

Sebab Indonesia ini, pada akhirnya, tidak dititipkan kepada mereka yang hanya pandai berbicara, tetapi kepada pemuda yang bersatu dalam nusa, bangsa dan bahasa, yang berilmu, dan yang bertakwa kepada Allah SWT.

Hidup Pemuda Indonesia! Hidup Indonesia Raya!

Exit mobile version