
Jakarta — Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ummat Islam (DPP PUI) menggelar Pengajian Bulanan Majelisul Ilmi pada Selasa (5/5/26) di Gedung Pimpinan Pusat PUI, Jakarta, dengan tema “Meneladani Perjalanan Ulama, Menyiapkan Generasi Tafaqquh Fiddien.” Kegiatan ini menghadirkan Ketua Umum DPP PUI H. Raizal Arifin yang memberikan sambutan, Ketua Majelis Syura PUI KH Nurhasan Zaidi yang menyampaikan arahan, Menteri ATR/BPN RI KH Nusron Wahid yang mengisi tausiyah, serta KH Ahmad Heryawan yang menyampaikan kalimatul ikhtitam dan doa.
Acara diawali dengan pembacaan awrod dzikir Misbahul Falah karya KH Ahmad Sanusi yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal DPP PUI, Dr. Kana Kurniawan, M.A.Hk., menghadirkan suasana khidmat dan penuh kekhusyukan di tengah 150 peserta yang hadir.
Dalam sambutannya, Ketua Umum DPP PUI, H. Raizal Arifin, M.Sos menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran para tokoh dan jamaah di lingkungan PUI. Ia menegaskan bahwa kehadiran KH. Nusron Wahid dalam forum ini bukan dalam kapasitas sebagai pejabat negara, melainkan sebagai kiai yang membawa pesan keilmuan.
“Terima kasih atas kehadiran KH Nusron Wahid di rumah besar PUI, yang berkenan mengisi pengajian bulanan Majelisul Ilmi DPP PUI. Kehadiran beliau di sini bukan sebagai Menteri, tetapi kapasitasnya sebagai kiai yang memiliki ilmu agama yang mendalam. Karena itu, mari kita perhatikan dengan sungguh-sungguh ilmu dan tausiyah yang akan beliau sampaikan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Syura PUI, KH Nurhasan Zaidi dalam arahannya menekankan pentingnya menyerap ilmu dari tokoh ulama yang telah hadir serta membangun kaderisasi keilmuan yang kuat. Ia mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan peran ulama tidak hanya dalam pendalaman agama, tetapi juga dalam perjuangan umat.
“Kapasitas beliau sebagai tokoh agama harus kita serap ilmunya. Ulama seperti para pendiri PUI bukan hanya membangun tafaqquh fiddien, tetapi juga berperan dalam jihad perjuangan umat,” tuturnya.
Ia juga menegaskan posisi historis PUI sebagai organisasi Islam yang memiliki akar panjang dalam perjuangan bangsa. “PUI lebih tua dari Nahdlatul Ulama. Tahun 1926 NU berdiri, sementara PUI sudah ada sejak 1917 bahkan embrionya di tahun 1911. Para pendiri PUI adalah tokoh bangsa, anggota BPUPKI dan pahlawan nasional, ini patut kita contoh,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan umat di era modern yang mengalami kekurangan ulama serta pentingnya membangun sistem kaderisasi melalui pendidikan. “Kita menghadapi kenyataan berkurangnya stok ulama. Karena itu, kita harus menyiapkan kader ulama tafaqquh fiddien. Madrasah dan sekolah PUI harus memiliki kurikulum sendiri untuk melahirkan ulama,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa luasnya Indonesia membutuhkan kerja sama antarormas, termasuk sinergi dengan tokoh seperti Nusron Wahid.
Dalam tausiyahnya, Menteri ATR/BPN RI, KH Nusron Wahid menguraikan pentingnya sinergi antara ulama, teknokrat/birokrat, dan politisi dalam membangun bangsa, sebagaimana diajarkan dalam kitab-kitab ulama seperti sulthonul awliya, Syekh Abdul Qadir Jailani.
“Untuk memimpin manusia menuju kemakmuran, harus ada sinergi antara alim ulama, teknokrat-birokrat, dan politisi berjiwa kenegaraan. Jika tiga unsur ini kompak, maka bangsa akan maju,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya sanad dalam keilmuan Islam sebagai penentu validitas ajaran.
“Agama itu nasihat, tapi pertanyaannya: dari mana kita mengambil sanadnya? Sanad adalah kunci dalam menjaga kemurnian ilmu,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menguraikan lima jenis sanad dalam tradisi Islam, mulai dari sanad dam/ keturunan (ahlul bait), sanad Al-Qur’an melalui talaqqi, sanad keilmuan, sanad awrod, hingga sanad musafahah melalui kedekatan dengan ulama dan para wali. “Beruntunglah jamaah PUI, karena memiliki sanad keilmuan yang jelas dari para pendirinya hingga tersambung kepada Nabi Muhammad SAW,” tambahnya.
Ia juga memperkenalkan konsep rabbaniyyun, yaitu ulama yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada ilmu, serta ahli dzikir tanpa keterikatan jabatan formal. “Saya yakin PUI adalah gudangnya ulama, rabbaniyyun, dan ahli dzikir yang menjadi kekuatan umat,” ujarnya.
Pada bagian penutup, Ketua Majelis Masyayikh PUI, KH Dr Ahmad Heryawan, M.Si menegaskan pentingnya melanjutkan perjuangan ulama serta menjaga sanad dalam mencari kebenaran. “Kita hadir hari ini untuk mewarisi perjuangan para ulama pendiri PUI. Kebenaran dalam agama harus bersanad,” katanya.
Ia juga menyoroti keberagaman corak dakwah dalam Islam yang tetap berada dalam satu koridor akidah. “Genre dakwah itu beragam, ada tradisional dan modern, tetapi semuanya tetap Sunni. PUI memiliki kekhasan sebagai perpaduan keduanya,” jelasnya.
Menutup pesannya, ia mengajak umat untuk bergembira dalam mencari kebenaran dan menegaskan bahwa konsep sanad juga tercermin dalam Al-Fatihah. “Ketika kita mencari kebenaran, kita harus bergembira. Jangan kalah dengan mereka yang berbuat keburukan. Sanad yang benar itu sudah dicontohkan dalam Al-Fatihah: ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladzina an’amta ‘alaihim,” pungkasnya.
Ia menjelaskan, yang dimaksud “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,” adalah yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 69: “minan nabiyyīna wash-shiddīqīna wasy-syuhadā’i wash-shālihīn”, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat benar (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh.
Pengajian ditutup dengan doa, menegaskan komitmen PUI dalam menyiapkan generasi ulama yang tafaqquh fiddien melalui penguatan ilmu, sanad, dan sinergi keumatan.