Oleh: Ust. TB Hadi Sutiksna
Ketua Lembaga Hisab Rukyat PUI
Dari dulu juga penyebab perbedaan bukan pada pada metoda tetapi pada hasil. Bagaimana menyikapi hasil. Pada harga yg sama, kelompok satu menganggap puasa belum bisa dimulai, sementara kelompok lainnya puasa sudah bisa dimulai.
Bulan itu benda empiris. Dengan tersedianya beberapa metoda matematik kontemporer dengan hasil sangat presisi bisa dikatakan tidak ada perbedaan pada hasil hitungan.
Perintah syar’i dalam memulai puasa didasarkan pada ‘ketampakan hilal’ bulan baru di awal bulan Hijriah sebagai mana petunjuk Nabi SAW,
“puasalah kalau melihat hilal, dan beridulfitrilah kalau melihat hilal, jika terhalang, maka genapkanlah bulan syaban 30 hari”.
Pemahaman para ahli terhadap kata “melihat” terbagi menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama. Kata ‘melihat’ dimaknai dengan harus dilihat langsung, baik dengan mata langsung mau pun menggunakan alat bantu/teleskop.
Kelompok kedua, memaknai melihat dengan akal/fikiran/ro’yu–> diimplementasikan dihitung secara matematis. Kelompok ini tidak pernah merukyat, karena posisi hilal bisa ditentukan dengan dihitung/hisab.
Kelompok ini menamakan Kriteria yang dengan WUJUDUL HILAL, yang artinya, berapa saya harga tinggi hilal asal berharga positif di atas ufuk maka esok hari puasa atau lebaran sudah masuk.
MASALAH
Masalah yg sering dihadapi kelompok pertama adalah seringnya ketidak berhasil dalam melihat hilal bulan baru. posisi Bulan saat bulan baru sangat dekat dengan matahari sehingga cahaya bulan (hilal)nya tersamarkan oleh sinar matahari. Setiap awal bulan baru BMKG melakukan peneropongan hilal, sepanjang tugas peneropongannya belum pernah melihat hilal pada ketinggian 5 deg. di atas ufuk. Kelompok ini juga melakukan perhitungan, hasilnya sama dengan kelompok kedua. Ttp bagi kelompok ini, hitungan hanya sbg sarana bantu, sarana utamanya adalah perintah Nabi SAW, yaitu rukyat/melihat langsung.
MASALAH Kelompok kedua
Kata ‘rukyat’ pada perintah nabi bisa diartikan melihat dengan ilmu/fikiran/akal–>ro’yu.
Hal ini yang ditolak kelompok pertama Menurut para ahli bahasa arab, rukyat itu bermakna melihat langsung. bukan dengan fikiran/ro’yu. sehingga kelompok pertama ini menolak hisab/hitungan sebagai sarana utama. Nabi SAW sendiri tidak pernah secara explisit menentukan ketampakan Hilal dengan cara dihitung.
PEMERINTAH SEBAGAI FASILITATOR
Dalam hal menyikapi perbedaan metoda ini, pemerintah memfasilitasi dengan menawarkan jalan tengah yaitu metoda “Imkan Rukyat”, yaitu memadukan Hisab dan Rukyat.
Dengan merangkum pandangan para ahli Astronomi dan Ilmu Falak, disepakatilah bahwa syarat visibilitas hilal bulan baru adalah tinggi hilal 3 deg, dan sudut elongasi 6,4 deg.
Kelompok pertama menyepakati kriteria ini, sementara kelompok kedua tetap pada pendiriannya.
Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)
Padahal belum adanya titik temu antara kelompok kesatu dan kelompok kedua, kini kelompok kedua mengusung kriteria baru yaitu KHGT.
KHGT sebenarnya mengadopsi kriteria TURKI di mana untuk syarat bulan baru tinggi hilal harus 5 deg. dan sudut elongasi 8 deg.
KHGT menggunakan garis tanggal internasional 180 deg sebagai patokan di mana jika di Longitude 180 derajat tinggi hilal sudah 5 deg. dan elongasi 8 deg., maka esoknya umat islan di seluruh dunia sudah harus memulai puasa/idul fitri/idul adha.
Sementara, Turki sendiri, pihak yg kriteria yang di adopsi oleh KHGT menggunakan batas garis tanggal Lokal, yaitu garis tanggal Turki sendiri. Sebagai bukti, dalam memulai ramadhan 1447 H tahun ini, Turki memulai tanggal 19 Feb 2026, sementara KHGT sudah memulai puasa di tanggal 20 Feb. 2026.
Mengapa KHGT (Muhamadiah) dan pemerintah berbeda dalam memulai puasa?
Sekarang penyebab perbedaannya semakin melebar. Perbedaan memulai puasa bukan antara hisab dan rukyat.
Garis tanggal KHGT nya muhamadiah di 180 deg terletak membujur dari Utara wilayah ALASKA sampai ke Selatan dekat NEW ZEALAND.
Ketentuannya adalah, jika di garis tanggal 180 deg tinggi hilal sudah di 5 derajat dengan sudut elongasi 8 derajat, maka esok harinya umat islam di seluruh dunia sudah harus memulai puasa.
pada tanggal 17 Feb 2026 yang lalu, di garis 180 deg. kriteria KHGT sudah memenuhi syarat di mana tinggi hilal 5 dan 8.
Bagaimana visibilitas hilal di NKRI tanggal 17 Feb 2026 saat matahari terbenam?
Garis tanggal NKRI terletak di BANDA ACEH. Jika tinggi hilal di Banda Aceh memenuhi kriteria 3 dan 6,4 maka di seluruh NKRI akan memulai puasa di tanggal 18 Feb 2026. Sayangnya pada hari selasa 17 Feb 2026 yang lalu, menurut hisab, tinggi hilal masih negatif di bawah ufuk, dimana bulan terbenam mendahului matahari. Kondisi itu menyebabkan bulan sya’ban digenapkan menjadi 30 hari. Hari Rabu 18 Feb 2026 ditetapkan sebagai hari ke 30 bulan sya’ban, seningga pemerintah menetapkan awal Ramadan dimulai tanggal 19 Feb 2026.
KESIMPULAN
Dengan adanya KHGTnya Muhamadiah, perbedaan yang timbul sekarang dan seterusnya adalah antara UFUK GOBAL dengan UFUK LOKAL.
Wallahu a’lam.
Semoga menambah informasi.
