Penasehat Pusat PUI Prof. Dr. KH. Achmad Tjahja Nugraha: Nuzulul Quran Momentum Kebangkitan Ilmu dan Peradaban

Sukabumi — Penasehat Pusat Persatuan Ummat Islam (PUI), Prof. Dr. KH. Achmad Tjahja Nugraha, M.P., menyampaikan tausiyah dalam peringatan Nuzulul Qur’an pada rangkaian Safari Ramadhan PUI di Islamic Center Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Kamis (12/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi harus menjadi momentum untuk membangkitkan kembali peradaban umat yang berbasis ilmu dan akhlak.

Menurutnya, turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira menandai awal perubahan besar dalam sejarah umat manusia. Wahyu pertama yang diawali dengan perintah Iqra’ (bacalah) menunjukkan bahwa Islam sejak awal menempatkan ilmu sebagai fondasi utama kebangkitan umat.

“Peristiwa Nuzulul Qur’an bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi revolusi peradaban. Dari wahyu pertama itu kita belajar bahwa ilmu pengetahuan dan akhlak adalah dua pilar utama dalam membangun kemajuan umat,” ujar Prof. Achmad di hadapan para jamaah.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya hadir sebagai kitab suci yang dibaca, tetapi juga sebagai pedoman transformasi sosial, moral, dan intelektual bagi umat manusia.

Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai titik tolak kebangkitan spiritual sekaligus intelektual di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

“Al-Qur’an memberi arah, sementara ilmu memberi metode. Keduanya harus berjalan beriringan agar umat Islam mampu menjawab berbagai persoalan zaman,” katanya.

Prof. Achmad juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi umat saat ini, seperti krisis moral, disinformasi di era digital, hingga ketimpangan sosial. Menurutnya, semua persoalan tersebut hanya dapat dihadapi dengan kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan nilai sekaligus menguatkan tradisi keilmuan.

Ia menegaskan bahwa lembaga pendidikan, pesantren, dan organisasi keumatan memiliki peran penting dalam menghidupkan kembali semangat literasi, riset, dan penguatan akhlak di tengah masyarakat.

“Jika kita ingin bangkit sebagai umat, maka kembalilah kepada Al-Qur’an. Bacalah dengan kesadaran, pahami dengan ilmu, dan amalkan dengan konsisten. Di situlah makna sejati Nuzulul Qur’an,” ujarnya.

Peringatan Nuzulul Qur’an di Islamic Center Cisaat tersebut juga dihadiri oleh Ketua Umum DPP PUI H. Raizal Arifin, M.Sos., Wakil Ketua Umum DPP PUI H. Maman Abdurrahman, M.Si., serta Sekretaris Jenderal DPP PUI Dr. Kana Kurniawan, M.A.Hk. Selain itu, kegiatan ini dihadiri pula oleh para ulama, pengurus PUI, guru, santri, pelajar, serta jamaah dan masyarakat Sukabumi yang mengikuti rangkaian Safari Ramadhan dengan penuh khidmat.

Exit mobile version