KH. Ahmad Sanusi adalah salah seorang putera dari KH. Abdurrahim. Ia dilahirkan pada 1887 di Centayan, Sukabumi, Jawa Barat. Pendidikan dasar diterimanya dari ayahnya sendiri. Ketika telah menginjak usia belasan tahun, dia belajar di beberapa pondok pesantren yang ada di sekitar Sukabumi dan Cianjur.

Pada usia ± 25 tahun dia pergi ke tanah suci Mekah dan bermukim di sana untuk menimba ilmu agama selama tujuh tahun. Kembali dari Mekah, ia memodernisir pondok pesantren di Centayan dan Babakansirna (1923). Salah seorang putranya, Drs. Sholehuddin Sanusi, pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

Sedangkan untuk penghidupan keluarganya KH. Ahmad Sanusi mengusahakan sebuah percetakan.

KH Abdul Halim bersama Mohammad Natsir

Di samping aktif dalam bidang sosial pendidikan, KH. Ahmad Sanusi juga aktif dalam bidang politik. Aktivitas inilah yang menyebabkan dia mencicipi kekejaman penjajah Belanda, yakni dimasukkan tahanan di Jakarta selama lima tahun (1927-1932). Sekembalinya dari tahanan, KH.Ahmad Sanusi mendirikan madrasah di kompleks Pondok Pesantren Gunung Puyuh yang tingkatannya sederajat dengan Tsanawiyah dan diberi nama Syams al-‘Ulum (1935).

Di kala terbentuknya federasi organisasi Islam, Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI), yang kemudian menjadi partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI), KH. Ahmad Sanusi serta organisasinya menjadi salah satu anggota pendukungnya. Pada masa penjajahan Jepang dia diangkat menjadi Wakil Residen Bogor.