Rasulullah Saw sejak dinobatkan sebagai Nabi (bi’tsah) hingga menghembuskan nafas terakhir, senantiasa berupaya mencegah perpecahan seraya mengokohkan pilar-pilar persatuan, solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan antarumat Islam. Bahkan, beliau pun membangun rasa saling memahami kepada para pengikut Ahlu Kitab yang tak menentang dan memerangi ajaran Islam.

Syiar utama tauhid yang dikomandangkan Rasulullah Saw sejak awal dakwah beliau, dengan baik mencerminkan ajakan kepada dua sisi tauhid. Selain memberantas persembahan-persembahan palsu yang merupakan sumber segala perpecahan dan perbedaan, Rasul pun mengajak kepada tauhid sebagai sumber persatuan dan persaudaraan.

Hingga di detik-detik terakhir kehidupannya, Rasulullah Saw tetap berupaya mengokohkan tauhid, persatuan dan persaudaraan di antara umat Islam, serta mencabut akar perpecahan dan perselisihan di antara mereka. Bahkan tampak beliau mengkhawatirkan kembali terjadinya perselisihan antaretnis dan perpecahan antarumat Islam sepeninggal beliau.

Banyak sekali hadis yang disampaikan Rasulullah Saw guna merealisasikan harapan ini. Beliau selalu mengecam dan melarang umat untuk melakukan perkara-perkara yang dapat menimbulkan perselisihan.

Di antara hadis tersebut, Rasul Saw menyebutkan bahwa memisahkan diri dari jamaah umat Islam dapat menyebabkan seseorang keluar dari lingkaran Islam dan agama Islam: “Barang siapa yang memisahkan dari dari jamaah kaum muslimin, ia telah melepas beban (ajaran) Islam dari lehernya.”

Islamic_Wallpaper_Muhammad_002-1024x768a2

Dalam sabda lainnya, Rasulullah Saw menyatakan, “siapa yang menjauh meskipun sejarak satu jengkal dari barisan kaum muslimin dan ia mati dalam kondisi demikian, maka ia mati dalam keadaan jahiliah.” Juga: “Barang siapa sejengkal saja berpisah dari jamaah Islam, maka matinya adalah mati jahiliah.”

Rasulullah Saw memandang kebersamaan dan persatuan umat sebagai sumber kebaikan, sebaliknya perpecahan adalah sumber kesengsaraan. “Persatuan adalah kebaikan dan perpecahan adalah siksaan.”

Demikian pula, guna menekankan akan kebersamaan, dan menunjukkan bahwa manifestasi kekuasaan Allah Swt adalah terletak pada kebersamaan dan kekompakan umat Islam, beliau besabda, “Tangan Allah Swt bersama jamaah (umat Islam).”

Rasulullah Saw melarang umat beliau untuk saling bermusuhan dan memutuskan hubungan persaudaraan atau memutuskan tali silaturahmi di antara kedua saudara muslim lebih dari tiga hari. “Tidak dihalalkan bagi seorang muslim untuk menjauhkan saudaranya lebih dari tiga malam, hendaknya keduanya saling bertemu dan mensudahinya, sebaik-baiknya dari mereka adalah yang memulai memberikan salam.”

Salah satu ajaran Rasulullah Saw terkait masalah ini, di bawah naungan ajaran Islam -dalam berbagai kasus- maka persamaan, persaudaraan dan persatuan umat lebih ditekankan di antara masyarakat dan kelompok yang berbeda etnis. Rasul Saw, di Masjid al-Khaif, pernah mengajak umat Islam untuk menjaga persaudaraan.

wallpaper-maulidur-rasul-12-rabiulawal-nabi-Muhammad-saw-maulud_by_noobieku-poster-banner

Islam memandang sama seluruh manusia, apapun ras dan etnisnya. Dengan demikian mereka dapat saling membahu dalam menghadapi musuh. “Sesunguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, darah (ras) mereka setara, saling bahu-membahu (melengkapi) dan mereka adalah satu tangan atas selain mereka.”

Dalam kesempatan lain, Rasulullah Saw menyebutkan perumpamaan umat Islam dalam persaudaraan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh manusia, dimana saat satu darinya merasa sakit, anggota yang lainnya pun akan merasakan sakit pula. “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam persaudaraan, kasih sayang dan persahabatan mereka, bagaikan satu tubuh manusia, apabila salah satu anggota darinya merasa sakit, seluruh anggota yang lain akan ikut merasakan dengan tidak bisa tidur atau demam.”

Nabi Saw mengumpamakan umat Islam bagaikan anak-anak (gigi) sisir yang rata dan setara. “Kaum muslimin adalah setara seperti gigi-gigi sisir.” Begitulah, banyak lagi hadis dan ungkapan Nabi Muhammad yang dapat kita jadikan dasar untuk memupuk dan senantiasa menjaga persatuan ummat Islam.