Sasaran kerja para da’i dan aktivis Islam ialah persatuan, ta’lif al-qulub, kerapian dan kekokohan barisan. Mereka harus menjauhi perselisihan dan perpecahan serta menghindari segala hal yang dapat memecah belah jamaah atau kalimat mereka. Perselisihan menimbulkan kerusakan pada hubungan baik sesama mereka dan melemahkan agama umat dan Rasul-Nya.

Islam adalah satu-satunya agama yang mengajak kepada persaudaraan yang terwujud dalam persatuan dan solidaritas, saling menolong dan membantu, serta mengecam perpecahan dan perselisihan. Al-Qur’an menjelaskan tentang itu semua di dalam surah Ali Imran/3 mulai dari ayat 100 hingga 107.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.
Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Dan janganlah kamu menyerupai orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.
Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram. Adapun orang-orang yang menjadi hitam-muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.”
Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Ali Imran/3: 100-107)

Imam Hafizh al-Suyuthi di dalam kitabnya ad-Durr al-Mantsur menyebutkan sejumlah riwayat tentang sebab turunnya ayat-ayat tersebut. Di antaranya, riwayat paling rinci dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Jurair, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan Abu as-Syaikh dari Zaid bin Aslam.

Diriwayatkan bahwa, Syas bin Qais, seorang tokoh dan gembong kekafiran pada masa Jahiliah yang sangat memusuhi dan membenci kaum Muslimin, pernah berjalan melewati majelis yang terdiri atas beberapa sahabat Rasulullah Saw dari suku Aus dan Khazraj. Kedua suku ini saling bermusuhan di masa Jahiliah.

Melihat persatuan dan keakraban yang dibina di atas landasan Islam ini, timbullah kedengkian Syas, kemudian berkata, “Para tokoh bani Qilah telah bersatu di negeri ini. Demi Allah, kami tidak akan membiarkan mereka bersatu di negeri ini.”

Syas bin Qais pun memerintahkan seorang pemuda Yahudi dengan pesannya, “Pergilah dan duduklah di majelis mereka kemudian ingatkanlah mereka akan Peristiwa Bu’ats dan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Selanjutnya, bacakanlah kepada mereka syair-syair yang pernah dibacakan pada peristiwa tersebut.” Peristiwa Bu’ats adalah pertempuran yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj (pada masa Jahiliah) yang dimenangkan oleh suku Aus.

Selanjutnya, pemuda Yahudi itu pun melakukan pesan perintahnya sehingga timbullah kegaduhan di antara peserta majelis tersebut. Masing-masing pihak saling membanggakan diri. Dua orang dari kedua belah pihak, Aus bin Qaizhi (salah seorang dari bani Haritsa dari suku Aus) dan Jabar bin Shakhar (salah seorang dari bani Salamah dari suku Khazraj), melompat ke atas kendaraan sambil beradu mulut.

Kemudian salah seorang dari keduanya menantang temannya seraya berkata, “Jika kalian suka, demi Allah, sekarang juga kami sanggup melakukannya kembali sebagaimana dulu (dalam Peristiwa Bu’ats).” Kedua belah pihak berang. “Kita pernah melakukan. Keluarkan senjata, kita kumpul di lapangan!” Mereka pun keluar menuju lapangan. Akhirnya, masing-masing kelompok dari suku Aus dan Khazraj berhimpun dengan slogan-slogan sebagaimana pada masa Jahiliah dahulu.

Berita tentang kejadian itu segera sampai kepada Rasulullah Saw. Akhirnya, bersama beberapa orang Muhajirin, Rasulullah segera datang kepada mereka lalu bersabda, “Wahai, kaum Muslimin! (Takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada) Allah! Apakah seruan-seruan Jahiliyah (muncul lagi), sedangkan aku masih berada di tengah-tengah kalian? Apakah setelah Allah menunjuki kalian kepada Islam, memuliakan kalian, menghapuskan cara Jahiliyah dari kehidupan kalian, menyelamatkan kalian dari kekufuran, dan menjinakkan hati kalian, kalian kembali lagi kepada kekufuran?”

Akhirnya, mereka pun sadar bahwa apa yang baru saja lakukan itu tipu daya setan dan musuh-musuh mereka. Mereka lalu meletakkan senjata, seraya menangis dan saling berangkulan antara satu dan yang lainnya. Mereka pulang kembali bersama Rasulullah dengan penuh ketaatan. Dengan demikian, Allah telah memadamkan api tipu daya yang ditiupkan oleh musuh Allah, Syas bin Qais, kepada mereka.

Berkenaan dengan perbuatan Syas bin Qais ini, Allah menurunkan firman-Nya,
“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?’ Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?’ Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Ali Imran/3: 98-99)

Adapun berkenaan dengan Aus bin Qaizhi dan Jabar bin Shakhar beserta kaumnya, Allah menurunkan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran/3: 100-105)

Ayat-ayat tersebut merupakan ajakan serius kepada persatuan kalimat (pandangan hidup) dan kesatuan barisan Muslim di atas landasan Islam. Ayat-ayat tersebut mengandung pengertian sebagai berikut:

  1. Peringatan agar berhati-hati terhadap intrik-intrik orang orang di luar Islam karena isu dan intrik yang mereka lontarkan tidak lain hanyalah untuk memurtadkan kaum Mukminin.

  2. Mengungkapkan bahwa persatuan merupakan buah keimanan, sedangkan perpecahan adalah buah kekafiran. Hal ini karena makna “mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman,” yakni setelah kamu bersatu dan bersaudara, kamu berpecah belah dan bermusuhan sebagaimana dijelaskan oleh sebab turunnya ayat tersebut.

  3. Berpegang teguh pada tali Allah, bagi semua pihak merupakan asas persatuan dan kesatuan kaum Muslimin. Tali Allah adalah Islam dan al-Qur’an.

  4. Mengingatkan bahwa ukhuwah imaniyah, setelah beraneka permusuhan dan peperangan Jahiliyah, merupakan nikmat terbesar sesudah nikmat iman. “Dan (Dia) yang mempersatukan hati mereka (Mukminin). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya, Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. al-Anfal/8: 63)

  5. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mempersatukan umat kecuali jika umat tersebut memiliki sasaran besar dan masalah termulia yang diperjuangkannya. Tidak ada sasaran atau risalah yang lebih besar dan lebih tinggi bagi umat Islam, selain dari dakwah kepada kebaikan yang dibawa oleh Islam. Inilah rahasia firman Allah di dalam konteks tersebut, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali lmran/3: 104)

  6. Sejarah adalah catatan berbagai pelajaran dan pemberi nasihat yang baik bagi manusia. Sejarah telah mencatat bahwa orang orang sebelum kita telah berpecah belah dan berselisih dalam masalah agama, kemudian mereka binasa. Perselisihan yang tidak beralasan, karena terjadi setelah mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dan penjelasan dari Allah. Karena itu, Alah memperingatkan di dalam ayat-Nya, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkon siksa yang berat.” (QS. Ali Imran/3: 105)

Demikianlah al-Qur’an telah menegaskan bahwa, kendatipun kaum Muslunin berbeda jenis, nama, negeri, bahasa, dan tingkatan, mereka adalah satu umat. Umat “pertengahan” yang dijadikan oleh Allah sebagai “saksi atas manusia.” Umat yang disebut al-Qur’an dengan, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk mausia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran/3: 110).

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa ukhuwah yang kokoh merupakan ikatan suci antarjamaah kaum Muslimin dan bukti yang mengunkapkan hakikat iman: “Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaquwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. al-Hujurat/49:10)

Setelah ayat ini, menyusul beberapa ayat yang menjelaskan sejumlah adab dan akhlaq utama yang akan melindungi ukhuwah dari segala hal yang mengancamnya, seperti sikap suka menghina, mencela, memanggil dengan gelar yang buruk, buruk sangka, memata-matai, dan mengggunjing.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) bisa jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) bisa jodi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita yang (mengolok-olokkan) dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnyn sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan jangantah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hujurat/49: 11-12)

Al-Qur’an sangat mengecam perpecahan. Allah berfirman, “Katakanlah. ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan siksa kepadamu dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau Dia campurkan kamu dalam golongan-golongan (yang bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” (QS. al-An’am/6: 65)

Perpecahan umat menjadi beberapa golongan, sehingga sebagian merasakan keganasan sebagian yang lain adalah salah satu bentuk hukuman yang ditetapkan Allah kepada manusia, tatkala mereka menyimpang dari jalan-Nya dan tidak memedulikan ayat-ayat-Nya. Di samping itu, al-Qur’an juga menyebutkan siksaan lain berupa lemparan batu dari atas mereka, seperti yang pernah diturunkan kepada kaum Luth atau berupa pemberangusan dari bawah kaki mereka seperti yang pernah ditimpakan kepada Qarun.

Allah berfirman, “Sesungguhnya, orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongon, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya, urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. al-An’am/6: 159)

Riwayat dari Ibnu Abbas menyebutkan bahNva ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang terpecah belah dan berselisih dalam agama mereka. Sementara itu, riwayat lainnya menyatakan bahwa mereka itu adalah ahli bid’ah, syubhat, dan ahli kesesatan dari umat ini.

Ibnu Katsir menyebut bahwa ayat ini bersifat umum bagi setiap orang yang memecah belah agama Allah dan menentangnya. Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama kebenaran untuk dimenangkan-Nya atas segala agama. Syaratnya hanya satu, tidak ada perselisihan dan pertentangan di dalamnya. Barangsiapa berselisih mengenainya dan mereka menjadi beberapa golongan, seperti pengikut kelompok-kelompok dan aliran-aliran sesat, maka sesungguhnya Allah telah membebaskan Rasulullah dari mereka.

Al-Qur’an sangat mengecam Ahli Kitab yang berpecah belah dan berselisih dalam agama di berbagai ayatnya. Di antaranya, Allah berfirman, “Dia belah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. as-Syura/42: 13)

Sumber: Fiqih Ikhtilaf Antara Sesama Muslim karya Dr. Yusuf Qardhawi.