
Jakarta — Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ummat Islam (DPP PUI) menyampaikan ikhbar penentuan awal bulan Dzulhijjah 1447 H yang berimplikasi pada penetapan Hari Raya Idul Adha, dalam kegiatan resmi yang digelar di Gedung Pimpinan Pusat PUI, Jakarta, Senin (20/4/26).
Kegiatan dibuka oleh Wakil Ketua Umum DPP PUI H. Maman Abdurrahman, M.Si didampingi Sekretaris Jenderal DPP PUI, Dr. Kana Kurniawan, M.A.Hk dan diawali dengan pemaparan hasil hisab oleh Ketua Lembaga Hisab Rukyat PUI, Ust. Tb. Hadi Sutiksna, yang menjelaskan posisi hilal berdasarkan metode imkan rukyat.
Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa ijtima terjadi pada 17 Mei 2026 pukul 02.24 WIB. Pada saat matahari terbenam pukul 18.46 WIB, umur bulan telah mencapai +16 jam 22 menit, dengan tinggi hilal berada di angka +6°50’20” dan elongasi geosentris sebesar +10°36’49”.
“Dengan kondisi tersebut, hilal berada jauh di atas kriteria yang ditetapkan MABIMS, yaitu tinggi minimal +3° dan elongasi minimal 6,4°,” jelasnya.
Selanjutnya, Ketua Umum DPP PUI, H. Raizal Arifin, M.Sos, menyampaikan ikhbar resmi organisasi terkait penentuan awal Dzulhijjah 1447 H.
“Sehubungan dengan penentuan awal bulan Dzulhijjah 1447 H, Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ummat Islam (PUI) menyampaikan ikhbar bahwa berdasarkan hasil hisab Lembaga Hisab Rukyat PUI, pada tanggal 17 Mei 2026 saat matahari terbenam, tinggi hilal mencapai +6°50’20” dan sudut elongasi geosentris sebesar +10°36’49”. Nilai tersebut berada jauh di atas kriteria MABIMS,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa dengan terpenuhinya kriteria tersebut, maka PUI berpandangan bahwa 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada 18 Mei 2026 M, dan Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah 1447 H) diperkirakan jatuh pada 27 Mei 2026 M.
Meski demikian, PUI tetap menghormati mekanisme penetapan resmi pemerintah karena hak isbat adalah hak Ulil Amri atau pemerintah.
“Adapun penetapan resmi awal Dzulhijjah 1447 H tetap menunggu hasil Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia,” pungkasnya.
Ikhbar ini diharapkan dapat menjadi pedoman awal bagi warga PUI dalam mempersiapkan rangkaian ibadah Dzulhijjah, sekaligus menegaskan komitmen PUI dalam mengedepankan pendekatan ilmiah dan syar’i dalam penentuan kalender hijriah.