Oleh: Ahmad Gabriel
Alkisah, di kampung sebelah ada pasangan yang bercerai setelah sembilan belas tahun menikah. Sebut saja Pak Karto dan Bu Karto, sebab nama aslinya akan membuat saya didatangi orang, dan saya sudah cukup repot didatangi dosen pembimbing.
Ketika hakim bertanya apa sebabnya, Bu Karto menjawab pendek:
“Kerupuk.”
Bukan kerupuknya, tentu. Bunyinya.
Setiap malam selepas Isya, Pak Karto menggigit kerupuk udang dengan semangat seorang pembebas bangsa. Bu Karto selama sembilan belas tahun mendengarnya sambil berdoa agar kerupuk itu cepat habis.
Ternyata kerupuk tidak pernah habis.
Yang habis justru kesabaran.
Kisah itu memang rekaan. Tetapi perkara rumah tangga yang berakhir di pengadilan bukan rekaan. Data BPS yang bersumber dari peradilan agama mencatat 399.921 perceraian pada 2024. Sebanyak 251.125 perkara masuk dalam kategori “perselisihan dan pertengkaran terus-menerus”.
Kolom itu rupanya sangat gemuk. Banyak persoalan rumah tangga akhirnya bermuara di sana.
Angka perceraian memang sempat turun dari 516.344 perkara pada 2022 menjadi 399.921 pada 2024. Namun pada 2025 kembali tercatat 438.168 perceraian.
Ada pula fakta lain yang menarik: pada 2024 jumlah pernikahan sekitar 1,47 juta, lebih rendah dibanding 1,70 juta pada 2022.
Artinya, persoalan rumah tangga bukan sekadar soal semakin banyak orang menikah. Ada sesuatu yang perlu kita pelajari tentang bagaimana orang mempertahankan pernikahan setelah pesta selesai, tamu pulang, dan kehidupan sehari-hari dimulai.
Sebab pernikahan sesungguhnya tidak banyak diuji ketika pengantin sedang tersenyum di pelaminan.
Ia diuji ketika tagihan datang. Ketika anak sakit. Ketika suami pulang terlambat. Ketika istri kelelahan. Ketika uang sedang sempit. Ketika mertua ikut memberi komentar.
Dan, tentu saja, ketika seseorang menggigit kerupuk terlalu keras.
—
Ada satu hal yang menurut saya penting: jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa perceraian terjadi karena salah satu pihak “kurang sabar”.
Pada 2024, sekitar 77 persen perkara perceraian merupakan cerai gugat, yaitu diajukan oleh pihak istri.
Angka ini kadang digunakan untuk mengatakan bahwa perempuan sekarang lebih mudah meminta cerai.
Saya kira kesimpulan seperti itu terlalu sederhana.
Orang yang berada di luar rumah hanya melihat surat gugatan. Ia tidak melihat percakapan yang terjadi selama bertahun-tahun sebelum surat itu dibuat.
Ia tidak tahu berapa kali seseorang sudah meminta perubahan.
Berapa kali sudah menangis. Berapa kali sudah memaafkan. Berapa kali sudah mencoba bertahan. Dan berapa lama seseorang sebenarnya sudah merasa sendirian di dalam rumahnya sendiri.
Tukang pos kadang datang lebih cepat daripada kesadaran.
—
Islam sendiri tidak memandang pernikahan hanya sebagai status, melainkan sebagai tempat tumbuhnya ketenangan, kasih sayang, dan rahmat.
Al-Qur’an menyebut tujuan itu dengan sangat indah: litaskunū ilaihā, agar manusia memperoleh ketenteraman bersama pasangannya, dengan mawaddah dan rahmah (QS Ar-Rum: 21).
Karena itu, membangun rumah tangga bukan hanya soal mencari pasangan yang tepat.
Lebih penting lagi adalah belajar menjadi pasangan yang tepat.
Suami diperintahkan mempergauli istri dengan cara yang ma’ruf (QS An-Nisa: 19). Ketika terjadi persoalan, Al-Qur’an bahkan menyebut bahwa perdamaian itu lebih baik (ash-shulhu khair, QS An-Nisa: 128).
Bila konflik semakin berat, ada mekanisme menghadirkan juru damai dari kedua keluarga (QS An-Nisa: 35).
Dengan kata lain, Islam tidak mengajarkan kita untuk membiarkan persoalan kecil menumpuk sampai menjadi persoalan besar.
Justru sebaliknya: persoalan harus diselesaikan ketika masih kecil.
Sebelum menjadi kerupuk.
—
Lalu bagaimana caranya?
Barangkali kita tidak membutuhkan teori yang terlalu rumit. Rumah tangga sering kali membutuhkan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Pertama, buat waktu khusus untuk berbicara.
Tidak perlu seminar. Tidak perlu suasana romantis seperti film.
Cukup 30 menit seminggu.
Misalnya Jumat malam.
Letakkan telepon genggam. Duduk berdua. Lalu tanyakan tiga hal:
Apa yang minggu ini membuat kita bahagia?
Apa yang membuat kita tidak nyaman?
Apa yang perlu kita perbaiki minggu depan?
Termasuk kerupuk.
Daripada tujuh tahun memendam kekesalan karena suara kerupuk, lebih baik lima menit membicarakannya dengan kepala dingin.
Kedua, kalau bertengkar, serang masalahnya, bukan orangnya.
Bedakan:
“Kamu memang tidak pernah peduli.”
dengan:
“Saya merasa tidak diperhatikan ketika kamu pulang tanpa memberi kabar.”
Kalimat pertama menyerang pribadi.
Kalimat kedua membuka ruang untuk perbaikan.
Ini terdengar sepele, tetapi cara berbicara sering menentukan apakah sebuah konflik menjadi jembatan atau justru menjadi jurang.
Ketiga, belajar mengambil jeda.
Ketika emosi sedang tinggi, berhenti dulu.
Boleh mengatakan:
“Kita berhenti 30 menit. Nanti kita lanjutkan.”
Tetapi ingat: jeda bukan berarti menghilang.
Jeda adalah istirahat agar bisa kembali berbicara dengan kepala yang lebih dingin.
Keempat, perbanyak penghargaan.
Jangan sampai pasangan hanya mendengar suara kita ketika ada kesalahan.
Terima kasih karena sudah bekerja.
Terima kasih karena sudah mengurus anak.
Terima kasih sudah memasak.
Terima kasih sudah menemani.
Kalimat sederhana seperti “terima kasih” sering dianggap terlalu kecil untuk menyelamatkan rumah tangga.
Padahal rumah tangga juga dibangun dari hal-hal kecil.
Kelima, bicarakan uang secara terbuka.
Berapa penghasilan?
Berapa utang?
Berapa cicilan?
Berapa kebutuhan rumah?
Berapa yang harus disimpan?
Jangan sampai suami merasa istri boros, sementara istri merasa suami pelit. Dudukkan angka-angkanya di atas meja.
Uang yang dibicarakan bersama lebih mudah dicari jalan keluarnya daripada uang yang disembunyikan.
Keenam, bagi pekerjaan rumah secara nyata.
Jangan hanya berkata, “Kita harus saling membantu.”
Tuliskan.
Siapa mengantar anak?
Siapa mencuci?
Siapa memasak?
Siapa membayar tagihan?
Siapa mengurus orang tua?
Sebab keadilan di rumah akan lebih mudah dirasakan jika pembagiannya juga bisa dilihat.
Ketujuh, buat batas yang sehat dengan keluarga besar.
Suami dan istri perlu belajar menjadi satu tim.
Bukan berarti memusuhi orang tua.
Justru karena menghormati orang tua, batas itu perlu dibuat agar persoalan rumah tangga tidak menjadi konsumsi seluruh keluarga besar.
Kedelapan, jangan menunggu sampai rumah tangga benar-benar kritis untuk mencari bantuan.
Kalau komunikasi sudah buntu, datanglah kepada konselor, psikolog, pembimbing keluarga, atau BP4 di KUA.
Mencari bantuan bukan tanda rumah tangga gagal.
Justru bisa menjadi tanda bahwa dua orang masih ingin menyelamatkannya.
Seperti mobil yang dibawa ke bengkel ketika mesinnya mulai berbunyi aneh.
Tidak perlu menunggu mesinnya meledak.
Kesembilan, bedakan konflik dengan kekerasan.
Ini sangat penting.
Tidak semua persoalan rumah tangga harus diselesaikan dengan kalimat “sabar”.
Kalau sudah ada kekerasan fisik, ancaman, atau bahaya serius, keselamatan harus menjadi prioritas.
Dalam keadaan seperti itu, mencari tempat aman dan bantuan profesional bukan berarti gagal mempertahankan rumah tangga.
Keselamatan manusia lebih dahulu.
Kesepuluh, kalau akhirnya harus berpisah, berpisahlah dengan cara yang baik.
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sederhana: mempertahankan dengan cara yang baik atau melepaskan dengan cara yang baik (QS Al-Baqarah: 229).
Jangan menjadikan anak sebagai kurir kebencian.
Jangan menggunakan anak untuk menyampaikan pesan kepada mantan pasangan.
Jangan menjadikan perceraian sebagai perang terbuka.
Anak bukan penyebab perceraian.
Dan anak tidak seharusnya menjadi korbannya.
—
Mungkin yang juga perlu kita perbaiki adalah cara masyarakat mempersiapkan orang untuk menikah.
Kita sangat serius mempersiapkan pesta pernikahan.
Gedung dicari.
Undangan dicetak.
Katering dipesan.
Foto prewedding dibuat.
Tetapi setelah akad selesai, pasangan sering dibiarkan belajar sendiri bagaimana mengelola konflik, keuangan, pengasuhan, komunikasi, dan hubungan dengan keluarga besar.
Padahal pernikahan bukan ujian satu hari.
Ia sekolah seumur hidup.
Karena itu, kursus pranikah seharusnya tidak berhenti pada administrasi dan nasihat umum. Orang perlu dibekali keterampilan yang benar-benar dipakai setelah menikah: bagaimana berbicara ketika marah, mengelola uang, membagi pekerjaan rumah, mengasuh anak, menyelesaikan konflik, dan mencari pertolongan ketika hubungan mulai bermasalah.
Kita perlu mengajarkan bukan hanya cara menikah, tetapi juga cara hidup setelah menikah.
—
Kembali kepada Pak Karto.
Konon setelah bercerai, ia pindah ke kamar kontrakan dan akhirnya bisa makan kerupuk sepuasnya tanpa ada yang mengeluh.
Anehnya, kata orang, kerupuk itu sekarang terasa hambar.
Mungkin karena yang ia rindukan bukan kerupuknya.
Ia merindukan seseorang yang dulu pernah mengeluh tentang suara kerupuk itu setiap malam.
Maka, sebelum perkara kecil berubah menjadi perkara besar, mungkin ada baiknya kita belajar satu hal:
Jangan hanya belajar bagaimana mempertahankan pernikahan. Belajarlah bagaimana merawatnya.
Sebab rumah tangga sering kali tidak runtuh karena satu badai besar.
Ia terkikis sedikit demi sedikit.
Dan kabar baiknya, sesuatu yang terkikis sedikit demi sedikit juga bisa dirawat sedikit demi sedikit.
Mulailah malam ini.
Tanyakan kepada pasangan:
“Ada sesuatu yang selama ini kamu pendam dan belum sempat kamu ceritakan kepada saya?”
Lalu dengarkan.
Tanpa membantah.
Tanpa membuka ponsel.
Tanpa mencari siapa yang salah.
Barangkali dari satu pertanyaan sederhana itu, sebuah rumah tangga menemukan jalan pulang.
