Sarasehan Kurikulum PUI Sukses Digelar, Rumuskan Penguatan Kurikulum untuk Meningkatkan Daya Saing Pendidikan

Bandung – Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ummat Islam (Dikdasmen DPP PUI) menyelenggarakan kegiatan Sarasehan Kurikulum PUI bertema “Menguatkan Kurikulum, Meningkatkan Daya Saing Pendidikan PUI” di Hotel Narapati, Bandung, Sabtu (7/3/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 25 peserta yang terdiri dari pakar kurikulum, ahli pendidikan, kepala sekolah dan madrasah PUI, pimpinan universitas PUI, serta pengurus bidang pendidikan dari tingkat wilayah dan daerah PUI. Sarasehan ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi sekaligus merumuskan penguatan kurikulum pendidikan PUI agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dalam sambutannya yang disampaikan langsung secara daring, Ketua Majelis Syura PUI KH Nurhasan Zaidi menekankan pentingnya pembaruan kurikulum agar selaras dengan tuntutan perkembangan zaman dan kebutuhan umat.

Menurutnya, kurikulum PUI harus terus diperbarui agar mampu menjaga identitas organisasi sekaligus menjawab tantangan pendidikan modern.

“Kita tidak bisa menutup mata terhadap perkembangan zaman. Kurikulum harus terus diperbarui agar lembaga pendidikan PUI tetap relevan dan memiliki daya saing,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pembaruan materi ajar terkait keorganisasian PUI. “Buku Ke-PUI-an perlu diperbarui agar sesuai dengan perkembangan organisasi dan kebutuhan generasi muda,” tambahnya.

Selain itu, ia menegaskan bahwa pengajaran nilai-nilai ke-PUI-an sebaiknya dilakukan oleh kader yang aktif di organisasi. “Guru Ke-PUI-an harus berasal dari kader aktif agar nilai-nilai organisasi dapat ditransmisikan secara utuh,” katanya.

KH Nurhasan juga mengajak para tokoh dan pemikir PUI untuk terlibat aktif dalam penyusunan kurikulum. “Para pembesar dan tokoh PUI perlu memberikan urun rembuk dalam penyusunan kurikulum agar hasilnya benar-benar mencerminkan visi besar organisasi,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Dikdasmen DPP PUI Dr. Sunarto, M.Pd., dalam sambutannya, menjelaskan bahwa penyusunan kurikulum PUI dilakukan melalui tahapan yang sistematis.

Ia menyebutkan bahwa proses tersebut merujuk pada enam tahapan pengembangan kurikulum dalam model Dick and Carey, yang menjadi kerangka kerja dalam perumusan kurikulum pendidikan.

“Setelah lebih dari satu abad perjalanan PUI, kita melakukan formula pembaruan kurikulum. Dari evaluasi yang kami lakukan, ditemukan bahwa pada periode sebelumnya ada beberapa tahapan penyusunan kurikulum yang terlewati,” jelasnya.

Menurut Sunarto, sebelum sarasehan ini digelar, tim Dikdasmen telah melakukan survei kepada berbagai pihak untuk memetakan kebutuhan kurikulum PUI. “Kami telah melakukan survei kepada siswa, guru, serta responden lainnya untuk mengetahui kebutuhan nyata terkait kurikulum PUI,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa sarasehan ini sengaja dibuat dalam format undangan terbatas dan sehari penuh agar diskusi dapat berlangsung lebih fokus dan mendalam. “Kami ingin menangkap secara jelas berbagai gagasan dan masukan dari para pakar dan praktisi pendidikan yang hadir,” katanya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa proses penguatan kurikulum PUI juga akan menghasilkan sejumlah artefak penting. “Artefak yang dihasilkan tidak hanya berupa kurikulum, tetapi juga dokumentasi sarasehan serta pembaruan buku-buku warisan pendidikan PUI,” ujarnya.

Dalam sesi arahan, Wakil Ketua Majelis Syura PUI sekaligus Ketua Komisi II Majelis Syura KH Iding Bahrudin, M.M.Pd., menekankan bahwa penguatan kurikulum harus diiringi dengan pembenahan berbagai aspek pendukung pendidikan.

Menurutnya, sekolah-sekolah PUI perlu mendapatkan perhatian serius agar mampu berkembang menjadi lembaga pendidikan unggulan. “Sekolah PUI harus memiliki kurikulum yang baik, sumber daya manusia yang kompeten, serta sarana dan prasarana yang memadai,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik. “Kompetensi guru harus diimbangi dengan honor yang sesuai agar mereka dapat bekerja secara optimal,” katanya.

Selain itu, ia menilai bahwa perencanaan anggaran sekolah atau yayasan pendidikan harus disusun secara matang sejak awal. “Anggaran yayasan harus dihitung secara terencana agar pengembangan pendidikan dapat berjalan secara berkelanjutan,” lanjutnya.

Iding juga menegaskan bahwa kurikulum pemerintah perlu dikaji secara kritis dan disandingkan dengan kurikulum khas PUI. “Kurikulum pemerintah perlu kita kaji dan kita sandingkan dengan kurikulum PUI. Dengan begitu, kita dapat mengembangkan model pendidikan yang memiliki identitas sekaligus memenuhi standar nasional,” ujarnya.

Ia berharap upaya ini dapat mendorong peningkatan kualitas lembaga pendidikan PUI. “Kita ingin sekolah-sekolah PUI menjadi sekolah unggulan dan bahkan menjadi sekolah penggerak,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi II Majelis Syura PUI, Hj Titin H Nisrinati, MM. mengusulkan agar pengkajian kurikulum dilakukan secara lebih sistematis sesuai dengan jenjang pendidikan.

Menurutnya, setiap level pendidikan memiliki karakteristik dan kebutuhan kurikulum yang berbeda. “Perlu dibuat forum atau pertemuan yang secara khusus mengkaji kurikulum sesuai dengan level pendidikan masing-masing,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa dalam kurikulum harus terdapat struktur ilmu yang jelas. “Dalam kurikulum harus terlihat struktur ilmunya, sehingga arah pembelajaran menjadi lebih terukur,” katanya.

Titin menambahkan bahwa hasil need assessment yang telah dilakukan perlu dianalisis secara mendalam untuk memastikan relevansi kurikulum. “Hasil need assessment harus dianalisis secara serius, termasuk siapa yang melakukan analisis tersebut dan bagaimana metodologinya,” ujarnya.

Ia juga mengusulkan agar standar kurikulum yang telah disusun oleh sejumlah lembaga pendidikan Islam dapat dijadikan bahan pembanding. “Standar kurikulum yang telah disusun oleh Ust Wido dan telah dikaji oleh sekolah model Daarul Uluum PUI dapat menjadi salah satu referensi pembanding dalam pengembangan kurikulum PUI,” tuturnya.

Sarasehan ini diharapkan menjadi momentum penting dalam proses penyempurnaan kurikulum pendidikan PUI sehingga mampu memperkuat identitas keislaman, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mendorong lahirnya generasi yang unggul dan berdaya saing.

Setelah serangkaian masukan dan rekomendasi dari para pakar dan ahli pendidikan yang hadir selama sehari penuh, kegiatan ini menghasilkan sejumlah capaian strategis, di antaranya tersusunnya draft dokumen kurikulum PUI, rumusan rekomendasi dari para pakar kurikulum dan praktisi pendidikan, serta pembentukan tim penyusun kurikulum yang akan melanjutkan proses perumusan secara lebih sistematis.

Selain itu, forum ini turut menyepakati rencana aksi menuju penetapan kurikulum terbaru PUI, yang diharapkan dapat menjadi pedoman bagi seluruh lembaga pendidikan PUI dalam memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus meningkatkan daya saing pendidikan PUI di tingkat nasional.

Exit mobile version