Kesetiaan kepada Allah, persaudaraan, dan solidaritas, adalah sifat-sifat penting orang beriman. Al-Qur’an mengatakan bahwa semua orang beriman adalah bersaudara. Mereka adalah orang-orang yang berbagi perasaan yang sama, berjuang untuk akhir yang sama, mengikuti kitab yang sama, dan berjuang untuk tujuan yang sama.

Maka, solidaritas menjadi keunggulan alami dari sebuah komunitas orang beriman. Allah memuji kasih sayang orang beriman ini di dalam Al-Qur’an ayat 4 surah As-Shaf/61 berikut:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ
“Sesungguhnya Allah menyayangi orang-orang yang berjihad di jalannya.”

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah belah. Ingatilah karunia Allah kepadamu, ketika kamu dahulunya bermusuh-musuhan, lalu dipersatukan-Nya hatimu, sehingga kamu dengan karunia Allah itu menjadi bersaudara. Dan kamu dahulunya berada di tepi jurang neraka, lalu Allah melepaskanmu dari sana. Demikianlah Allah menjelaskan keterangan-keterangan-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Alu ‘Imran/3: 103)

Orang-orang beriman adalah orang-orang rendah hati yang memiliki rasa persahabatan dan kasih sayang satu sama lain. Karenanya solidaritas dan persatuan diantara mereka terpelihara secara alami.

Namun di dalam komunitas semacam ini ada saja hal-hal yang membuat kita tetap harus berhati-hati karena sikap yang salah dapat menyebabkan perpecahan dan menciptakan iklim yang merusak solidaritas di antara orang-orang yang beriman.

Alasan dasar untuk sikap-sikap yang tidak diingini tersebut adalah jiwa (nafs). Memang benar, seorang mukmin itu toleran dan hangat. Namun setiap orang memiliki sisi jahat dalam jiwanya, dan pada saat sedang lemah moral, seseorang dapat dengan mudah dikendalikan oleh sisi jahat jiwanya. Dengan kata lain dia bisa terpengaruh oleh kecemburuan, ego diri, ataupun ambisi.

Itulah sebabnya Al-Qur’an menekankan bahwa pengaruh kuat sisi jahat jiwa merupakan ancaman serius bagi persatuan orang beriman. Mengingat bahwa jiwa dapat menunjukkan isyarat setan pada manusia dan dapat menyesatkan orang mukmin, mereka seharusnya menghindari bersikap dalam tata cara yang akan memprovokasi sisi jahat mukmin lain. Di dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan sebagai berikut:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
“Dan katakanlah kepada para hambaku-Ku: ‘Hendaklah mereka berbicara dengan ucapan yang sebaik-baiknya.’ Sesungguhnya setan itu suka menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya antara setan dan manusia terbentang permusuhan yang jelas.” (QS. Isra/17: 53)

Ayat di atas secara meyakinkan memberikan sebuah pesan penting. Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk saling menegur menggunakan cara terbaik yang mungkin dilakukan (bukan hanya “baik” tapi “terbaik”) sebab setan juga bertujuan menciptakan pertikaian diantara orang beriman.

Metode inti yang setan gunakan untuk memecah persatuan diantara orang beriman adalah untuk menanamkan perasaan bersaing di dalam hati orang beriman. Dalam keadaan tidak sadar, seorang mukmin dapat dengan mudah tergelincir kepada khayalan kemegahan dan mengembangkan ambisi untuk mencapai status tertentu di masyarakat. Dalam suasana hati semacam itu, sungguh mungkin bahwa dia bisa mencoba menetapkan keunggulan diatas orang beriman lainnya.

Dengan cara yang sama, dia dapat merasa dengki kepada saudaranya untuk satu atau lain alasan. Walaupun kata dengki kedengarannya biasa-biasa saja, tapi sebenarnya kata itu memiliki arti serius karena “dengki” sama saja dengan memberontak secara terang-terangan kepada Allah.

Cermatilah Al-Qur’an surat An-Nisa/4: 54 (أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۖ). Menurut ayat ini, semua kenikmatan dianugrahkan oleh Allah. Karenanya dengki kepada kenikmatan yang diberikan pada orang lain sama saja dengan menentang kehendak Allah. Itulah sebabnya kenapa orang beriman harus menghindari sifat “dengki”. Firman Allah:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah bertengkar sesamamu, nanti kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal/8: 46)

Ayat tersebut menyiratkan bahwa seorang mukmin seharusnya tidak pernah membiarkan persaingan maupun pertikaian terjadi di antara saudara-saudaranya mengingat persaingan dan pertikaian adalah sifat dasar orang primitif. Seorang mukmin dituntut untuk tidak menimbulkan rasa iri pada diri orang lain. Karenanya sifat rendah hatilah yang dapat membasmi persaingan diantara orang beriman.

Sifat kunci lainnya yang ditekankan di dalam Al-Qur’an adalah pengorbanan diri. Seorang mukmin selalu memberikan prioritas kepada kebutuhan dan keinginan orang mukmin lainnya atas dasar kesalehan dan kesenangan berbuat demikian. Al-Qur’an menggambarkan sikap semacam ini dalam surah Al-Hasyr ayat 9 sebagai berikut:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan kaum (Anshar) yang telah menduduki kota (Madinah) di mana mereka telah beriman sebelum kedatangan kaum (Muhajirin). Mereka mencintai orang-orang Muhajirin yang mengungsi ke kota mereka itu. Mereka tidak minat dalam hati mereka untuk mendapatkan pula jatah-pampasan sebagaimana yang diberikan (kepada orang-orang Muhajirin). Mereka lebih mengutamakan kepentingan orang-orang (Muhajirin) melebihi kepentingan mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan pula. Barang siapa yang menjauhkan dirinya dari sifat-sifat kekikiran, itulah mereka yang beruntung.”

Pada dasarnya, persaingan, rasa iri, dan sikap suka berdebat adalah tiga faktor dasar yang merupakan ancaman serius terhadap pemeliharaan rasa persaudaraan dan solidaritas di antara orang mukmin. Sifat suka bersaing yang mungkin ditimbulkan oleh ambisi benar-benar merusak ikatan persaudaraan, merusak jiwa, dan menjerumuskan pelakunya kepada kemunduran moral.

Karenanya sungguh bodoh membuang waktu menghalangi mukmin lainnya karena hendak bersaing dan iri, sementara kesempatan tidak terbatas terbentang di hadapan manusia untuk mencapai keridhaan Allah. Sungguh, persaingan tidak pernah terjadi di lingkungan orang-orang yang tujuannya adalah mencapai keridhaan Allah.

Jama_masjid_dilli6

Seorang mukmin seharusnya tidak pernah lupa bahwa komunitas mukmin itu layaknya sebuah tubuh yang setiap bagiannya saling bekerja sama guna mendapatkan keadaan yang sempurna. Dalam konteks ini seorang mukmin seharusnya melihat keberhasilan saudaranya seolah-olah itu adalah keberhasilannya sendiri.

Ini adalah konsep yang sangat penting. Terdapat banyak ayat Al-Qur’an yang menekankan pentingnya persaudaraan. Dalam sebuah ayat, orang mukmin senantiasa berdoa:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan mereka yang mengikuti jejak kaum (Muhajirin dan Anshar sampai hari kiamat), mengucapkan doa: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah dosa saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau biarkan kedengkian sampai bersarang dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Engkau sungguh-sungguh Maha Penyantun dan Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr/59: 10)

Perselisihan maupun perdebatan diantara orang mukmin akan merusak keseluruhan perjuangan, mengurangi persatuan dan kekuatan orang mukmin namun menguatkan perjuangan, menambah persatuan dan kekuatan orang kafir. Jika terus begini, penganiayaan oleh orang kafir terhadap orang mukmin akan terjadi kecuali kalau orang mukmin saling melindungi satu sama lain. Al-Qur’an membuat pengamatan berikut:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
“Adapun orang-orang yang kafir, mereka bersetia kawan terhadap sesamanya dalam menghadapi kaum mukmin. Jika kamu tidak menggalang kesetiakawanan pula seperti mereka, akan terjadilah kekacauan dan kerusakan yang besar di muka bumi ini.” (QS/8 Al-Anfal: 73)

Berikut ini perintah-perintah tegas di dalam Al-Qur’an mengenai persaudaraan dan persatuan diantara orang mukmin:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan bersilang- sengketa sesudah datang kepada mereka bukti yang terang! Untuk mereka disediakan siksaan yang besar.” (QS. Al-Imran/3: 105).

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ ۖ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang. Jawablah “Bahwa yang berhak menentukan pembagian harta rampasan perang itu, ialah Allah dan Rasul. Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, peliharalah hubungan baik sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Al-Anfal/8: 1).

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berpecah-belah dalam agamanya, sehingga mereka menjadi beberapa golongan, tidaklah hal itu menjadi tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah, untuk kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka tentang apa yang mereka perbuat.” (QS An-An’am/6: 159)

Seorang mukmin diharuskan untuk saling berkasih sayang antar sesama. Kerendahhatian adalah sifat khusus orang mukmin. Sedangkan kesombongan dan rasa iri bukanlah sifat orang mukmin melainkan sifat orang kafir. Dengan demikian, orang mukmin seharusnya menghindari jeratan sisi jahat jiwanya dan secara terus-menerus memohon perlindungan Allah, bertobat serta berjanji untuk berubah.

Adapun kesudahan yang menanti orang yang tidak mengekang sisi jahat jiwanya digambarkan didalam ayat di bawah ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang beriman! Barangsiapa yang murtad di antaramu dari agama Islam, maka kelak Allah akan membangkitkan suatu kaum yang dicintai Allah dan merekapun mencintai-Nya: yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut terhadap kecaman orang. Itulah karunia Allah. Dan Allah Maha Luas pemberiannya-Nya dan Mengetahui.” (QS Al-Maidah/5: 54)

Sumber: buklet “The Basic Concepts in The Qur’an” karya Harun Yahya.