
Dalam rangka memperkuat ketahanan keluarga dan lingkungan pendidikan dari ancaman bencana sosial, DPP Wanita PUI bekerja sama dengan Bidang Dikdasmen PUI dan Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Satgas Islah Manajemen Risiko Bencana Sosial–Orientasi Perilaku Seksual Menyimpang (MRBS–OPSM) pada Sabtu, 17 Mei 2026 melalui Zoom Meeting.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si., Ketua Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia, serta sambutan dari Ketua Umum DPP Wanita PUI, Ustadzah Hj. Herliani, M.Ag.
Dalam sambutannya, Ketua Umum DPP Wanita PUI menegaskan bahwa maraknya fenomena orientasi perilaku seksual menyimpang seperti ketertarikan sesama jenis, pedofilia, hingga inses merupakan bentuk krisis moral yang harus dipandang sebagai bencana sosial nyata. Fenomena tersebut dinilai mengancam ketahanan keluarga serta keselamatan generasi muda Islam.
Beliau juga menyampaikan bahwa Islam secara tegas melarang segala bentuk perbuatan keji sebagaimana termaktub dalam QS. Al-An‘ām ayat 151. Oleh karena itu, Wanita PUI memandang penting hadirnya langkah nyata dan sistematis dalam menjaga keluarga serta lingkungan pendidikan berbasis nilai-nilai agama.
Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi seluruh kader, pengelola pendidikan, dan keluarga besar PUI dalam menghadapi tantangan sosial terkait OPSM. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari implementasi kerja sama strategis antara Wanita PUI dengan GiGa Indonesia melalui program Manajemen Risiko Bencana Sosial (MRBS–OPSM).
Sebagai bukti aksi nyata dan bukan hanya sebatas wacana, sebelum pelaksanaan penandatanganan kerja sama (MoU) dan sosialisasi ini, Wanita PUI telah terlebih dahulu menunjuk beberapa sekolah sebagai pilot project implementasi MRBS–OPSM dengan fasilitator yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat).
Program Satgas Islah MRBS–OPSM bahkan telah mulai dibentuk sejak tahun 2024 di beberapa lembaga pendidikan PUI, di antaranya MA Putri PUI Majalengka, MTs Putri PUI Majalengka, dan SMK PUI Gegesik. Langkah ini diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus mendorong sekolah-sekolah lainnya untuk turut membangun sistem perlindungan sosial dan moral di lingkungan pendidikan masing-masing.
Melalui jaringan pendidikan PUI di bawah naungan Bidang Dikdasmen, diharapkan sekolah-sekolah dapat menjadi laboratorium pembentukan generasi yang tangguh, berakhlak, serta memiliki kesadaran terhadap pentingnya perlindungan moral dan sosial.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, DPP Wanita PUI akan menyelenggarakan pelatihan fasilitator secara tatap muka untuk mempersiapkan kader-kader yang siap bergerak langsung di lapangan. Setiap sekolah di bawah naungan PUI juga diimbau mengirimkan lima unsur perwakilan, yaitu Kepala Sekolah, Guru BK, Guru PAI, perwakilan siswa, dan perwakilan wali murid.
Kelima unsur tersebut nantinya akan berkolaborasi membentuk Satgas Islah sebagai benteng pertahanan sekolah dalam mendeteksi, mencegah, dan memitigasi risiko bencana sosial secara sistematis dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Wanita PUI berharap terciptanya sinergi kuat antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menjaga generasi bangsa agar tetap tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Humas DPP Wanita PUI