Wisuda 91 Sarjana STAI PUI Majalengka, Ketum DPP PUI Bekali Lulusan dengan Tiga Bekal Menghadapi Masa Depan

Majalengka – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) PUI Majalengka mewisuda 91 sarjana baru dalam Wisuda Sarjana ke-33 Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Hotel Fieris, Kabupaten Majalengka, Sabtu (10/10/2026). Para wisudawan terdiri atas 51 lulusan Pendidikan Agama Islam (PAI), 31 lulusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), dan 9 lulusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Acara ini dihadiri Bupati Majalengka Eman Suherman, dengan orasi ilmiah disampaikan oleh Sekretaris Kopertais Wilayah II Jawa Barat, Prof. Wawan Hernawan.
Dalam sambutannya, Ketua Umum DPP PUI, Raizal Arifin, mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan mengingatkan bahwa kebahagiaan hari itu tidak hanya milik mereka, tetapi juga orang tua, keluarga, dan para dosen yang telah mendampingi.
“Di balik toga yang Saudara kenakan, ada doa orang tua, ada pengorbanan keluarga, ada kerja keras dosen, dan ada perjuangan Saudara sendiri,” ujar Raizal.
Ia meminta para wisudawan tidak memaknai wisuda sebagai akhir perjalanan. “Jangan menganggap wisuda sebagai akhir perjalanan. Justru hari ini adalah awal dari perjalanan yang sesungguhnya,” tegasnya.
Raizal mengajak para lulusan menyadari bahwa mereka memasuki dunia yang tidak sederhana, dengan persaingan kerja yang semakin ketat dan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), yang mulai mengubah banyak jenis pekerjaan. Ia menyarankan para sarjana baru mengubah cara mereka bertanya tentang masa depan.
“Jangan hanya bertanya, ‘Saya akan mendapatkan pekerjaan apa?’ Tetapi tanyakan, ‘Dengan ilmu yang saya miliki, kemampuan apa yang bisa saya berikan?’” katanya.

Tiga Bekal Menyongsong Masa Depan
Mengusung tema “Tiga Bekal untuk Menyongsong Masa Depan”, Raizal memaparkan tiga bekal yang menurutnya harus dibawa para lulusan.
Bekal pertama adalah bekal intelektual. Menurutnya, hal paling berharga dari pendidikan tinggi bukan gelar, melainkan cara berpikir: kemampuan membaca persoalan, menganalisis, membedakan fakta dan opini, mencari solusi, dan terus belajar. “Gelar boleh selesai. Tetapi belajar tidak boleh selesai,” ujarnya.
Bekal kedua adalah jejaring atau modal sosial. Ia mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang berhasil sendirian, sehingga setelah wisuda para lulusan perlu membangun silaturahmi dengan teman, dosen, alumni, masyarakat, dan keluarga besar PUI. Menurutnya, wisuda bukan berarti meninggalkan PUI, melainkan memasuki babak baru sebagai bagian dari keluarga besar PUI yang memiliki sejarah, jaringan, lembaga pendidikan, dan alumni di berbagai wilayah.
“Jangan hanya bertanya, ‘Siapa yang bisa membantu saya?’ Tanyakan juga, ‘Siapa yang bisa saya bantu?’ Karena jejaring yang kuat dibangun dari kepercayaan dan kontribusi, bukan dari transaksi,” tuturnya.
Bekal ketiga adalah bekal nilai, yang menurut Raizal sangat penting bagi lulusan perguruan tinggi Islam. Para wisudawan, kata dia, tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga iman, akhlak, moralitas, integritas, dan tanggung jawab. Ia mengingatkan bahwa dalam kehidupan, bukan hanya kompetensi yang akan diuji, tetapi juga integritas.
“Kompetensi membuat kita mampu. Integritas membuat kita dipercaya. Nilai membuat kita tahu ke mana kemampuan itu harus diarahkan,” ujarnya.

Jangan Takut Memulai dari Bawah
Raizal juga berpesan agar para lulusan tidak takut memulai dari bawah. Menurutnya, tidak masalah jika pekerjaan pertama bukan pekerjaan impian, atau jika harus menghadapi penolakan dan memulai dari pekerjaan sederhana.
“Jangan malu memulai dari kecil. Yang penting, jangan berhenti bertumbuh,” katanya. Ia menjelaskan bahwa pengalaman melahirkan kompetensi, kompetensi melahirkan reputasi, reputasi melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan membuka kesempatan.
Ia mendorong para wisudawan untuk tidak sekadar menjadi pencari kerja, tetapi menjadi penyelesai masalah. “Jadilah orang yang ketika melihat persoalan berkata, ‘Saya akan mencoba menyelesaikannya,’” ujarnya.
Khusus kepada lulusan PAI, PIAUD, dan PBA, Raizal menekankan agar mereka tidak menganggap bidang ilmunya sempit. Menurutnya, dunia yang semakin kompleks justru membutuhkan manusia yang memiliki ilmu sekaligus nilai. Lulusan PAI tidak hanya dibutuhkan untuk mengajar agama, lulusan PIAUD tidak hanya mengajar anak-anak, dan lulusan PBA tidak hanya menguasai bahasa Arab.
“Jadikan program studi sebagai pintu, bukan batas,” pesannya.
Menutup sambutan, Raizal berharap 91 wisudawan tersebut tidak hanya menjadi 91 orang yang mencari pekerjaan, tetapi 91 orang yang menciptakan nilai, baik sebagai guru yang menginspirasi, pengusaha yang membuka lapangan kerja, profesional yang amanah, maupun pemimpin yang berintegritas. Ia juga mengingatkan para lulusan agar tidak melupakan almamater, PUI, dan nilai-nilai yang dipelajari di kampus.
“Jangan hanya mencari tempat di masa depan. Jadilah bagian dari orang-orang yang menciptakan masa depan,” pungkas Raizal.
Ia turut mendoakan agar ilmu yang diperoleh para wisudawan menjadi ilmu yang bermanfaat, amal yang terus mengalir, dan jalan pengabdian bagi agama, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.



