Kabar Nasional

Ketua Umum PP Pemuda PUI: Lulusan Madrasah Harus Siap Hadapi Bonus Demografi dan Era Disrupsi

Majalengka – Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Persatuan Ummat Islam (PP Pemuda PUI), Ahmad Falahuddin Assopari, S.Pd., M.Sos., memberikan pembekalan inspiratif kepada para siswa dalam kegiatan Jalsatul Ikhtitam kelas XII di Madrasah Aliyah (MA) Daarul Uluum PUI Majalengka, Rabu (11/3).

Dalam kegiatan yang berlangsung di bulan suci Ramadhan tersebut, beliau menyampaikan materi bertajuk “Mengurai Persoalan Pemuda Islam: Bekal Lulusan Madrasah Menghadapi Dunia Nyata”. Materi ini menjadi refleksi sekaligus bekal bagi para siswa yang akan segera menapaki fase baru kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan di madrasah.

Dalam pemaparannya, Ketua Umum PP Pemuda PUI menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tantangan kehidupan yang sesungguhnya.

“Hari ini bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan baru. Dunia setelah madrasah akan menghadirkan berbagai tantangan, dan di situlah nilai-nilai Islam, ilmu, dan karakter yang kalian pelajari akan diuji,” ungkapnya.

Falah menjelaskan bahwa generasi muda saat ini hidup di masa yang sangat strategis, yaitu ketika Indonesia tengah memasuki era bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibanding usia nonproduktif. Menurutnya, kondisi ini merupakan peluang besar bagi generasi muda untuk berperan dalam pembangunan bangsa, tetapi juga bisa menjadi tantangan jika tidak disiapkan dengan baik.

“Bonus demografi adalah peluang besar bagi pemuda. Jika generasi muda memiliki ilmu, karakter, dan keterampilan, maka mereka akan menjadi motor kemajuan bangsa. Namun jika tidak siap, bonus demografi justru bisa berubah menjadi beban sosial,” jelasnya.

Selain bonus demografi, para lulusan juga dihadapkan pada era disrupsi, yaitu masa ketika perkembangan teknologi, digitalisasi, dan perubahan sosial terjadi sangat cepat. Dalam kondisi ini, pola kerja, cara belajar, bahkan model kehidupan masyarakat terus berubah.

Falah juga menekankan bahwa pemuda Islam harus mampu melihat perubahan tersebut sebagai peluang untuk berkembang, bukan sekadar ancaman.

Menurutnya, ada beberapa sikap yang harus dimiliki oleh lulusan madrasah dalam menghadapi era tersebut, di antaranya:

  1. Memiliki akidah dan nilai keislaman yang kuat sebagai kompas moral dalam menghadapi perubahan zaman.
  2. Terus belajar dan meningkatkan kompetensi, baik dalam ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dan teknologi.
  3. Berani beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan teknologi digital secara positif.
  4. Memiliki visi kepemimpinan dan kepedulian sosial, sehingga mampu memberi manfaat bagi masyarakat.

Dalam sesi refleksi yang bertajuk “Gerbang Baru Kehidupan”, para siswa diajak untuk memandang masa depan dengan optimisme serta menyadari bahwa masa setelah kelulusan adalah titik awal dalam menentukan arah hidup—baik melanjutkan pendidikan, mengembangkan keterampilan, maupun mulai berkontribusi di tengah masyarakat.

Pihak madrasah menyambut baik kegiatan ini karena dinilai mampu memberikan motivasi sekaligus arah bagi para siswa dalam mempersiapkan masa depan mereka.

Melalui kegiatan Jalsatul Ikhtitam ini, diharapkan para lulusan MA Daarul Uluum PUI Majalengka tidak hanya siap menghadapi dunia nyata, tetapi juga mampu menjadi generasi pemuda Islam yang berilmu, berakhlak, adaptif terhadap perubahan zaman, serta mampu memanfaatkan peluang bonus demografi untuk kemajuan umat dan bangsa.

“Kelulusan adalah gerbang baru kehidupan. Di sanalah pemuda Islam diuji: apakah menjadi penonton perubahan, atau justru menjadi pelaku perubahan.”

Related Articles

Back to top button