OpiniWanita PUI

MENCINTAI ANAK BUKAN BERARTI SELALU MELAYANINYA

Belajar Kemandirian dan Ketahanan Keluarga dari Kafka Bintang Timora

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI

Nama Kafka Bintang Timora belakangan menarik perhatian publik. Mahasiswa Kedokteran Militer Universitas Pertahanan yang tampil dalam Clash of Champions Season 3 itu memikat banyak orang karena prestasi akademik dan kemampuan memorinya. Namun, ada sisi lain yang menarik dari perspektif ketahanan keluarga.

Bagaimana seorang anak dapat berprestasi tinggi, tetapi tetap memahami bahwa ketika pulang ke rumah ia adalah bagian dari keluarga yang juga mempunyai tanggung jawab?

Dalam percakapannya bersama sang ibu, Kafka berbicara tentang keterlibatannya dalam tugas rumah tangga. Pandangannya sederhana: dalam keluarga yang terdiri atas beberapa orang, mengapa seluruh pekerjaan domestik harus dikerjakan seorang ibu? Ia juga melihat kemampuan mengurus rumah sebagai bekal laki-laki ketika kelak hidup mandiri dan berkeluarga.

Pertanyaan penting kemudian muncul: apakah kasih sayang selalu harus diwujudkan dengan melakukan segala sesuatu untuk anak?

Ketika Kasih Sayang Menjadi Terlalu Banyak Melayani

Orang tua mempunyai kewajiban merawat, melindungi, memenuhi kebutuhan, dan mendampingi anak. Dalam psikologi perkembangan, kemandirian bukan dibangun dengan menjauhkan anak dari orang tua. Anak justru membutuhkan relasi hangat, aman, dan responsif sebagai landasan untuk bertumbuh.

Persoalannya muncul ketika orang tua terus mengambil alih sesuatu yang sebenarnya sudah mampu dilakukan anak.
“Sudah, kamu belajar saja.”
Kalimat itu terdengar penuh kasih. Namun jika berlangsung terus-menerus, piring dibereskan, kamar dirapikan, pakaian dilipat, sementara anak dibebaskan dari hampir seluruh tanggung jawab domestik. Apalagi ketika anak berprestasi, tugas rumah tangga mudah dianggap mengganggu produktivitas akademiknya.

Padahal, tugas rumah tangga juga merupakan ruang pendidikan.

American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa tugas rumah tangga sesuai usia membantu anak mempelajari tanggung jawab, kecakapan hidup, dan kontribusinya sebagai anggota keluarga (American Academy of Pediatrics, 2024).

Studi White et al. (2019) terhadap 9.971 anak dalam Early Childhood Longitudinal Study–Kindergarten Cohort menemukan bahwa frekuensi melakukan tugas rumah tangga pada masa taman kanak-kanak berasosiasi dengan kompetensi sosial, akademik, kepuasan hidup, dan perilaku prososial pada kelas tiga. Penelitian itu juga menemukan kaitannya dengan self-competence dan self-efficacy. Temuan tersebut menunjukkan asosiasi, bukan bahwa tugas rumah tangga sendirian menyebabkan keberhasilan anak.

Ketika anak membereskan tempat tidur, membawa piring ke dapur, atau membantu menyiapkan makanan, yang sedang dibangun bukan sekadar rumah lebih rapi. Anak belajar bahwa dirinya mampu dan mempunyai kontribusi.

Bantu, Ajari, Lalu Beri Kesempatan

Center on the Developing Child at Harvard University menjelaskan bahwa executive function dan regulasi diri—termasuk working memory, pengendalian diri, dan fleksibilitas kognitif—berkembang melalui pengalaman dan latihan. Orang dewasa memberikan dukungan yang kemudian secara bertahap dikurangi ketika anak semakin mampu mengelola tugas secara mandiri (Center on the Developing Child at Harvard University, 2014).

Proses dukungan bertahap ini dikenal sebagai scaffolding.

Prinsipnya sederhana: bantu ketika belum mampu, ajari dan dampingi ketika sedang belajar, beri kesempatan ketika sudah mampu

Di sinilah perbedaan antara memenuhi kebutuhan anak dan mengambil alih tanggung jawab anak. Kasih sayang tidak selalu berarti mengerjakan sesuatu untuk anak. Kadang orang tua perlu sabar melihat anak mencoba, kurang rapi, bahkan sesekali gagal.

Dari Scaffolding Menuju Tarbiyah

Perspektif psikologi Islam memperluas tujuan tersebut. Anak bukan hanya individu yang sedang mengembangkan keterampilan, tetapi manusia yang membawa fiṭrah dan membutuhkan tarbiyah agar potensinya berkembang menuju kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”
(al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 1358; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2658).

Konsep fitrah menempatkan orang tua bukan sebagai pembentuk anak dari “bahan kosong”, melainkan pendidik yang menjaga dan mengarahkan potensi yang Allah anugerahkan.

Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Tuḥfat al-Mawdūd bi Aḥkām al-Mawlūd memberi perhatian besar pada pendidikan sejak dini, pembentukan kebiasaan, penjagaan akhlak, dan tanggung jawab orang tua terhadap perkembangan anak. Pendidikan mencakup iman, akal, jasmani, dan akhlak, bukan hanya keberhasilan intelektual.

Dengan demikian, kemandirian dalam perspektif Islam bukan berarti, “Aku tidak membutuhkan siapa pun,” melainkan kemampuan memikul amanah dan memberi manfaat.

Rasulullah ﷺ Pun Membantu Keluarganya

Al-Aswad bertanya kepada ‘Aisyah r.a. tentang apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ di rumah. ‘Aisyah menjawab:

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ

“Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya.”

Ketika waktu salat tiba, beliau keluar untuk melaksanakan salat (al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adzān, no. 676).

Hadis ini penting, termasuk dalam pendidikan anak laki-laki. Mengajarkan anak mencuci piring, menyapu, memasak, atau membereskan kamar tidak mengurangi kelaki-lakiannya. Rasulullah ﷺ sendiri membantu keluarganya.

Kemandirian domestik adalah kecakapan hidup sekaligus pendidikan tanggung jawab.

Jangan Membesarkan Anak Hanya untuk Menang

Keluarga modern mudah mengukur keberhasilan melalui nilai, ranking, medali, sekolah unggulan, dan kampus ternama. Semua itu baik. Namun pendidikan keluarga mempunyai tujuan lebih luas.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. at-Taḥrīm [66]: 6).

Pendidikan keluarga melampaui pencapaian akademik. Kita tidak cukup membesarkan anak yang mampu menjawab soal sulit. Kita membutuhkan anak yang mampu melihat kesulitan orang lain.

Tugas Rumah Tangga yang Menumbuhkan Ketahanan Keluarga

Tugas rumah tangga (household chores) merupakan aktivitas rutin sesuai tahap perkembangan yang dilakukan anak untuk mengurus dirinya dan mengambil bagian dalam kehidupan keluarga.

Tugas harus disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan keselamatan. Anak tidak boleh dibebani pekerjaan berbahaya atau mengambil alih tanggung jawab orang dewasa. Tujuannya bukan membuat anak bekerja untuk orang tua, melainkan mengajarkan tanggung jawab dan kontribusi.

Dalam psikologi perkembangan, anak memperoleh kesempatan melatih kompetensi dan regulasi diri. Dalam pendidikan Islam, kegiatan yang berulang menjadi ruang tarbiyah: nilai tidak hanya diajarkan, tetapi dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Rumah menjadi laboratorium sosial pertama. Anak belajar bahwa hidup bersama bukan hanya menerima, tetapi juga memberi; bukan hanya memperoleh kenyamanan, tetapi ikut menjaganya.

Keluarga Tidak Sedang Membesarkan CV

Mungkin pertanyaan kepada anak perlu diperluas. Bukan hanya, “Nilaimu berapa?”, “Ranking berapa?”, atau “Menang atau tidak?”

Tetapi juga: “Apa yang sudah kamu kerjakan sendiri hari ini?”, “Apa tanggung jawabmu di rumah?”, dan “Siapa yang kamu bantu?”

Sebab keluarga tidak sedang membesarkan sebuah CV. Keluarga sedang membesarkan manusia.

Kisah Kafka menarik bukan semata karena ia pintar dan berprestasi. Ia mengajak kita melihat kembali pendidikan melalui pekerjaan-pekerjaan kecil di rumah.

Masa depan anak tidak hanya dibangun ketika ia duduk menghadapi buku. Sebagiannya dibangun ketika mula-mula ia dibantu, kemudian diajari dan didampingi, diberi kesempatan mencoba, hingga mampu menjalankan tanggung jawabnya sendiri. Pada waktunya, kemandirian dapat tumbuh menjadi kepedulian dan kemampuan berkontribusi.

Mencintai anak berarti melayaninya sesuai kebutuhan perkembangannya—menjaga fitrahnya, membimbing pertumbuhannya, dan pada waktunya memberinya ruang untuk belajar mengurus diri, memikul amanah, serta memberi manfaat bagi orang lain.

Related Articles

Back to top button