
Oleh: KHR. Muhammad Syahruddin Abbas
Ketua Umum DPW PUI Jawa Timur
Abstrak
Tulisan ini mengkaji idealitas santri masa depan yang tidak hanya faqih dalam ilmu agama, tetapi juga cakap dalam ilmu pengetahuan modern. Menggunakan pendekatan kualitatif-literatur, tulisan ini menawarkan kerangka konseptual santri yang mampu mendunia tanpa tercerabut dari tradisi, menguasai teknologi tanpa kehilangan adab, dan meraih kemajuan dunia tanpa melupakan akhirat.
A. Pendahuluan
Pesantren hari ini menghadapi dua tantangan besar sekaligus. Di satu sisi, arus globalisasi, revolusi industri dan kecerdasan buatan (AI) menuntut santri untuk mampu berkomunikasi dengan dunia. Di sisi lain, krisis moral, dekadensi adab, dan tercerabutnya generasi dari akar budaya menjadi ancaman nyata.
Maka cita-cita mencetak santri yang faqih agamanya dan cakap sains modernnya bukanlah sebuah pilihan, melainkan keharusan historis. Pesantren tidak boleh menjadi menara gading yang asyik dengan tradisi, namun gagap terhadap perubahan. Sebaliknya, ia juga tidak boleh larut dalam modernitas hingga kehilangan ruh dan jati dirinya.
B. Pembahasan: Empat Pilar Santri Ideal
1. Faqih Agama dan Cakap Sains: Integrasi Dua Sayap
Dalam tradisi Islam klasik, dikotomi ilmu adalah sesuatu yang tidak dikenal. Al-Khawarizmi adalah ahli matematika sekaligus ahli fiqih. Ibnu Sina adalah dokter sekaligus hafidz Al-Qur’an. Konsep Ulul Albab dalam QS. Ali Imran: 190-191 menegaskan integrasi antara dzikir dan fikir.
Santri ideal hari ini harus memiliki dua sayap yang terbentang seimbang. Sayap kanan adalah tafaqquh fiddin – penguasaan mendalam terhadap Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, dan Turats. Sayap kiri adalah penguasaan sains modern, teknologi, bahasa asing, dan literasi digital. Hanya dengan dua sayap inilah santri bisa terbang tinggi.
2. Mendunia Namun Berakar Kuat pada Tradisi Pesantren
Fasih berbicara dengan dunia berarti santri harus menguasai bahasa internasional, diplomasi global, dan mampu membaca peta geopolitik dunia Islam. Namun, kefasihan itu akan rapuh tanpa akar.
Tradisi pesantren – seperti sistem sorogan, bandongan, ngaji wetonan, keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, dan ukhuwah – adalah jangkar. Tanpa jangkar ini, santri yang mendunia akan mudah terombang-ambing oleh arus liberalisme dan sekularisme. Jati diri pesantren adalah al-muhafazhatu ‘ala al-qadim al-salih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslah – memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
3. Menguasai Teknologi Tanpa Tercabut Adab
Kita tidak bisa menolak teknologi. Santri harus menjadi subjek, bukan objek teknologi. Menguasai coding, AI, dan media digital adalah keniscayaan.
Namun, pesantren mengajarkan satu prinsip utama: Al-adab fauqal ‘ilmi – Adab di atas ilmu. Teknologi tanpa adab akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, namun kering secara spiritual. Hoaks, cyberbullying, dan dekadensi moral di ruang digital adalah bukti bahwa kemajuan teknologi harus dibimbing oleh adab. Santri harus menjadi teladan bagaimana berteknologi dengan akhlakul karimah.
4. Meraih Dunia Tanpa Melupakan Akhirat: Keseimbangan Esensial
Inilah puncak dari paradigma santri. Islam tidak mengajarkan rohbaniyyah – meninggalkan dunia sepenuhnya. Doa yang paling sering dipanjatkan Rasulullah adalah Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah.
Santri didorong untuk menjadi pengusaha, ilmuwan, pemimpin politik, diplomat dunia – meraih kemajuan dunia setinggi-tingginya. Namun, orientasi akhirnya tetap akhirat. Dunia adalah mazra’atul akhirah – ladang untuk akhirat. Kemajuan materi harus menjadi wasilah untuk kemaslahatan umat dan bekal menuju surga.
C. Penutup
Gagasan santri yang alim agamanya, unggul sainsnya, mendunia bahasanya, kuat tradisinya, luhur adabnya, maju dunianya, dan selamat akhiratnya adalah sebuah proyek besar pendidikan Islam Indonesia.
Ini adalah jawaban pesantren atas tantangan zaman. Santri tidak lagi hanya menjadi penjaga surau, tetapi menjadi pemimpin peradaban dunia yang tetap tawadhu, beradab, dan berorientasi akhirat. Wallahu A’lam.


