OpiniWanita PUI

KOTA SEMAKIN MAJU, SUDAHKAH KELUARGA SEMAKIN TANGGUH ?

Mengukur Kemajuan Kota dari Kelayakan Hunian, Keutuhan Keluarga, dan Keadilan Ruang Hidup

Refleksi Hari Kota Sedunia, 31 Oktober 2026

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI

Seorang anak menunggu ayahnya pulang untuk membantu mengerjakan tugas sekolah. Namun, perjalanan dari tempat kerja memakan waktu berjam-jam. Ketika ayah tiba, anak sudah tertidur. Di tempat lain, sebuah keluarga harus pindah setelah biaya sewa meningkat. Rumah barunya lebih terjangkau, tetapi jauh dari sekolah, pekerjaan, dan tetangga yang selama ini membantu pengasuhan.

Kota terus membangun gedung, jalan, dan kawasan baru. Namun, apakah kota semakin ramah bagi anak dan keluarga?

Pertanyaan ini mengungkap persoalan yang jarang masuk perhitungan pembangunan: kemiskinan waktu keluarga dan hilangnya jejaring pertolongan sosial. Kemajuan kota seharusnya tidak hanya terlihat pada bangunan, tetapi juga pada kesempatan keluarga hidup aman, tenteram, dan saling mendampingi.

Kota Diperbarui, Keluarga Jangan Tersingkir

Hari Kota Sedunia diperingati setiap 31 Oktober. Tema resmi tahun 2026, “Regenerating the City: Adequate Housing for All”, menekankan pembaruan perkotaan untuk mewujudkan hunian layak bagi semua. Peringatan global dijadwalkan berlangsung di Fuzhou, Tiongkok (UN-Habitat, 2026).

UN-Habitat (2026) melaporkan hingga 3,4 miliar manusia menghadapi persoalan akses terhadap hunian layak. Lebih dari 1,1 miliar orang tinggal di permukiman informal dan kumuh. Angka tersebut tidak berarti seluruhnya kehilangan tempat berlindung, melainkan menunjukkan luasnya persoalan kelayakan dan keterjangkauan hunian.

Pembaruan kawasan dapat memperbaiki drainase, jalan, dan fasilitas umum. Namun, kenaikan harga tanah serta sewa dapat mendorong keluarga berpenghasilan rendah berpindah semakin jauh.

Jika kawasan menjadi indah tetapi penduduk lama tersingkir, keberhasilan pembangunan perlu dipertanyakan. UN-Habitat menekankan pentingnya pembaruan partisipatif yang melindungi warga dari pemindahan dan memastikan manfaat pembangunan dirasakan penghuni lama.

Kota Ramah Anak Harus Ramah Keluarga

Indonesia memiliki kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), yang penyelenggaraannya diatur melalui Permen PPPA Nomor 12 Tahun 2022. Kebijakan ini mencakup pemenuhan hak anak, termasuk lingkungan keluarga dan pengasuhan.

Namun, fasilitas untuk anak tidak dapat dipisahkan dari kondisi keluarganya.

Taman bermain penting, tetapi tidak cukup apabila anak harus melewati jalan berbahaya. Sekolah berkualitas penting, tetapi perjalanan yang terlalu jauh dapat menyita waktu dan biaya. Pelayanan kesehatan diperlukan, tetapi harus dapat dijangkau keluarga berpenghasilan rendah.

Karena itu, kota ramah anak dan keluarga perlu memperhatikan keselamatan, pengasuhan, keterjangkauan hunian, mobilitas, serta dukungan sosial.

Istilah tersebut digunakan sebagai perspektif pembangunan yang lebih luas, bukan nama program pemerintah baru.

Rumah sebagai Sakan

Allah Swt. berfirman:

وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا

“Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal” (*QS. An-Naḥl [16]: 80*).

Ibnu Katsir dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm menjelaskan bahwa Allah menjadikan rumah sebagai tempat manusia berlindung, menutup diri, dan memperoleh berbagai manfaat.

Penafsiran tersebut menegaskan bahwa rumah merupakan nikmat yang mendukung kehidupan manusia. Pemaknaan rumah sebagai ruang ketenteraman keluarga merupakan pengembangan reflektif atas fungsi tersebut.

Hunian yang layak tidak cukup dinilai berdasarkan luas bangunan atau kepemilikan. Lingkungan aman, akses pelayanan dasar, dan keberlangsungan hubungan keluarga turut menentukan kualitas kehidupan penghuninya.

Kemiskinan Waktu, Biaya yang Tidak Terlihat

Bayangkan perjalanan pulang-pergi menghabiskan empat jam setiap hari kerja. Dalam lima hari, dua puluh jam tersita di jalan. Angka ini ilustrasi, bukan rata-rata perjalanan pekerja Indonesia.

Waktu tersebut sebenarnya dapat digunakan untuk mendampingi anak, berkomunikasi dengan pasangan, beribadah, atau beristirahat.

Chatterjee dan kolega (2020), melalui kajian dalam Transport Reviews, menjelaskan bahwa kemacetan, kepadatan, dan ketidakpastian perjalanan dapat memengaruhi stres serta kesejahteraan. Dampaknya berbeda menurut kondisi perjalanan dan individu; perjalanan panjang tidak otomatis menyebabkan keretakan keluarga.

Namun, temuan tersebut mengingatkan bahwa kualitas transportasi berkaitan dengan kualitas kehidupan.

Keberhasilan transportasi tidak cukup diukur dari kecepatan kendaraan, tetapi juga dari waktu bermakna yang dapat dikembalikan kepada keluarga.

Jejaring Pertolongan yang Hilang

Ketika keluarga berpindah jauh dari lingkungan asal, kerugiannya bukan hanya perubahan alamat.

Anak dapat kehilangan teman bermain. Orang tua kehilangan tetangga yang membantu pengasuhan. Lansia kehilangan orang terdekat yang biasa memberikan pertolongan.

Jejaring sosial tersebut mungkin tidak tercatat dalam laporan investasi, tetapi memiliki arti penting bagi ketahanan keluarga.

WHO (2016), melalui Urban Green Spaces and Health, menjelaskan bahwa ruang hijau perkotaan dapat mendukung aktivitas fisik, kesehatan mental, dan interaksi sosial.

Karena itu, pembangunan kota perlu menjaga ruang perjumpaan masyarakat sekaligus mendengarkan pengalaman warga sebelum mengambil keputusan yang mengubah kehidupan mereka.

Maqāṣid Syariah dan Keadilan Perkotaan

Imam al-Ghazali dalam Al-Mustaṣfā, pembahasan al-maṣlaḥah, menyatakan bahwa tujuan syariat mencakup pemeliharaan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Kerangka ini dapat diterapkan sebagai pertimbangan etis pembangunan perkotaan, bukan sebagai teori tata kota yang secara langsung dirumuskan al-Ghazali.

Perlindungan jiwa berkaitan dengan keselamatan lingkungan. Perlindungan akal membutuhkan akses pendidikan. Perlindungan keturunan berkaitan dengan keberlanjutan pengasuhan. Perlindungan harta menyangkut keamanan penghidupan dan keterjangkauan hunian. Perlindungan agama mencakup kesempatan menjalankan ibadah.

Dengan demikian, pembangunan perlu dinilai berdasarkan kemaslahatan manusia, bukan semata peningkatan nilai properti.

Ishlahuts Tsamaniyah dan Keluarga Muslih

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas yang dipimpinnya” (HR. al-Bukhari, No. 7138).

Hadis ini menegaskan tanggung jawab sesuai amanah masing-masing, termasuk orang tua terhadap keluarga dan pemimpin terhadap masyarakat.

Dalam pedoman PUI, Ishlahuts Tsamaniyah mencakup delapan bidang perbaikan. Empat di antaranya sangat berkaitan dengan persoalan perkotaan:

  • Ishlahul Tarbiyah (perbaikan pendidikan),
  • Ishlahul ‘Ailah (perbaikan keluarga),
  • Ishlahul Mujtama’ (perbaikan masyarakat), dan
  • Ishlahul Iqtishad (perbaikan perekonomian).

Keempat bidang tersebut saling berkaitan. Pendidikan membutuhkan lingkungan aman; keluarga memerlukan waktu pengasuhan; masyarakat membutuhkan solidaritas; dan ekonomi harus mendukung kehidupan yang layak (PUI, Risalah Intisab; Nilai Dasar Perjuangan PUI).

Keluarga Muslih berperan menjaga kepedulian sosial. Namun, ketangguhan keluarga tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab penyelenggara kota.

Mengukur Kemajuan dari Kehidupan Keluarga

Sebelum pembangunan dilakukan, pertanyaan mendasar perlu diajukan: apakah anak dapat mencapai sekolah dengan aman? Apakah orang tua memiliki waktu mendampingi anak? Apakah lansia memperoleh pelayanan yang mudah dijangkau? Apakah warga lama mampu bertahan setelah kawasan diperbarui?

Pertanyaan tersebut bukan penolakan terhadap modernisasi. Justru, pembangunan menjadi lebih bermakna ketika pengalaman keluarga turut menentukan keberhasilannya.

Hari Kota Sedunia mengingatkan bahwa kota bukan sekadar bangunan, kendaraan, dan investasi. Kota merupakan tempat manusia bertumbuh, bekerja, mengasuh, dan saling menjaga.

Jangan sampai kota semakin kaya bangunan, tetapi keluarga semakin miskin waktu, perhatian, dan kebersamaan.

Kota dibangun untuk manusia. Ketahanan manusia bermula dari keluarga.

Related Articles

Back to top button