OpiniWanita PUI

BISAKAH RUMAH KITA SEJUK TANPA MEMBUAT BUMI SEMAKIN PANAS?

Keluarga, Pendinginan Berkelanjutan, dan Amanah Menjaga Bumi

Refleksi Hari Perlindungan Lapisan Ozon Internasional, 16 September 2026

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI

Ketika udara terasa panas, tangan kita spontan mencari remote AC. Ketika makanan harus bertahan lebih lama, kita mengandalkan kulkas dan freezer. Pendinginan telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga modern. Ia memberi kenyamanan, membantu menjaga kualitas makanan, bahkan dalam kondisi tertentu penting bagi kesehatan.

Namun pernahkah kita bertanya: bisakah rumah kita tetap sejuk tanpa membuat bumi semakin panas?

Pertanyaan ini pas diajukan pada Hari Perlindungan Lapisan Ozon Internasional yang diperingati setiap 16 September. Tahun 2026, tema resminya adalah “Global Action for a Cooler Planet” atau Aksi Global untuk Planet yang Lebih Sejuk, sekaligus memperingati sepuluh tahun Amendemen Kigali atas Protokol Montreal dan upaya mewujudkan pendinginan yang lebih berkelanjutan (United Nations Environment Programme [UNEP], 2026).

Peringatan ini mengajarkan bahwa kenyamanan manusia dan keberlanjutan bumi tidak seharusnya dipertentangkan. Kita membutuhkan teknologi, tetapi teknologi harus digunakan dengan semakin bertanggung jawab.

Ketika Dunia Bersama-Sama Menjaga Ozon

Lapisan ozon berada di stratosfer dan berfungsi sebagai perisai alami yang menyerap sebagian besar radiasi ultraviolet matahari yang berbahaya. Ketika para ilmuwan menemukan berbagai zat kimia buatan manusia merusaknya, dunia menghadapi persoalan yang tidak mengenal batas negara.

Protokol Montreal disepakati pada 1987 untuk mengendalikan zat-zat perusak ozon. Kemudian, pada 2016, Amendemen Kigali disepakati untuk menurunkan penggunaan hydrofluorocarbons (HFC), gas rumah kaca kuat yang banyak digunakan dalam sistem pendinginan. HFC bukan zat utama perusak ozon seperti CFC, tetapi memiliki potensi pemanasan global yang tinggi. Pengurangan HFC melalui Amendemen Kigali diperkirakan dapat menghindari pemanasan global sekitar 0,3–0,5°C pada akhir abad ini (World Meteorological Organization [WMO], 2022).

Kabar baiknya, hampir 99 persen zat perusak ozon yang dilarang telah berhasil dihentikan penggunaannya secara bertahap. Jika kebijakan saat ini terus berjalan, lapisan ozon diperkirakan kembali ke tingkat 1980 sekitar 2040 untuk sebagian besar dunia, 2045 di Arktik, dan 2066 di Antarktika (UNEP, 2023).

Ini membuktikan bahwa kerusakan lingkungan bukan sesuatu yang mustahil diperbaiki ketika ilmu pengetahuan, kebijakan, teknologi, dan masyarakat bergerak bersama.

Apa Hubungannya dengan Keluarga?

Persoalan ozon mungkin terdengar seperti urusan ilmuwan dan pemerintah. Padahal teknologi pendinginan berada sangat dekat dengan kehidupan keluarga.

AC, kulkas, dan freezer menggunakan energi serta refrigeran. Keluarga memang tidak menentukan jenis refrigeran yang diproduksi industri, tetapi keluarga adalah konsumen. Pilihan jutaan rumah tangga ikut membentuk pola konsumsi dan kebutuhan energi.

Tanggung jawab dapat dimulai dari hal sederhana: memilih peralatan hemat energi ketika memungkinkan, menggunakan AC secara wajar, merawat perangkat pendingin agar tetap efisien, memperbaiki kebocoran melalui teknisi yang kompeten, serta tidak membuang perangkat pendingin sembarangan.

Keluarga juga perlu mengajarkan bahwa kenyamanan tidak harus berarti konsumsi tanpa batas.

AC yang terus menyala ketika ruangan kosong, lampu yang tidak dimatikan, makanan yang terbuang, atau barang yang masih dapat diperbaiki tetapi segera diganti adalah kebiasaan kecil yang jika dilakukan jutaan keluarga akan menjadi persoalan besar.

Bumi adalah Amanah

Islam tidak memandang alam sekadar sebagai sumber daya yang bebas digunakan. Manusia diperbolehkan mengambil manfaat darinya, tetapi sekaligus memikul tanggung jawab untuk tidak merusaknya.

Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”
(QS. Al-A‘raf: 56).

Allah juga mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini sangat relevan dengan persoalan lingkungan modern. Kemampuan manusia menciptakan teknologi harus berjalan bersama tanggung jawab moral dalam menggunakannya.

Rasulullah ﷺ pun mengajarkan agar manusia tidak berlebihan menggunakan sumber daya. Dalam riwayat tentang Sa‘d yang sedang berwudu, Rasulullah ﷺ menegurnya karena penggunaan air yang berlebihan. Ketika Sa‘d bertanya apakah dalam berwudu terdapat pemborosan, beliau menjelaskan bahwa pemborosan dapat terjadi meskipun seseorang berada di sungai yang mengalir (Ibn Mājah, no. 425).

Pesannya kuat: ketersediaan nikmat bukan alasan untuk menggunakannya tanpa batas.

Menjaga Lingkungan dalam Maqāṣid al-Syarī‘ah

Tanggung jawab lingkungan juga dapat dibaca melalui maqāṣid al-syarī‘ah, yaitu tujuan syariat dalam menghadirkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan.

Lingkungan sehat berkaitan dengan ḥifẓu nafs atau perlindungan jiwa. Lapisan ozon membantu melindungi manusia dari radiasi ultraviolet berbahaya. Udara, air, suhu, dan ekosistem yang sehat merupakan bagian penting dalam menopang kehidupan.

Ia juga berkaitan dengan ḥifẓun nasl, perlindungan generasi. Anak-anak tidak hanya membutuhkan pendidikan dan kasih sayang hari ini. Mereka berhak mewarisi lingkungan yang tetap layak dihuni.

Sementara penggunaan energi secara efisien dan konsumsi yang tidak berlebihan dapat dikaitkan dengan ḥifẓul māl, perlindungan harta. Menghemat energi sekaligus mengurangi pemborosan pengeluaran keluarga.

Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan bukan persoalan yang berada di luar kehidupan beragama. Ia bersentuhan dengan kemaslahatan yang hendak dijaga syariat.

Rumah adalah Madrasah Ekologis Pertama

Anak tidak pertama kali belajar menjaga bumi melalui konferensi lingkungan. Ia belajar dari rumah.
Ketika orang tua mematikan lampu yang tidak digunakan, anak melihat. Ketika AC digunakan secukupnya, anak belajar. Ketika makanan tidak dibuang, air tidak dibiarkan mengalir sia-sia, dan barang diperbaiki sebelum membeli yang baru, anak sedang menerima pendidikan lingkungan tanpa ceramah panjang.

Sebaliknya, sulit mengajarkan anak mencintai bumi apabila kesehariannya justru memperlihatkan pemborosan.

Keluarga yang tangguh bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan anggotanya hari ini, tetapi juga membangun pola kehidupan yang tidak mengorbankan masa depan.

Sejuk untuk Rumah, Sejuk untuk Bumi

Hari Perlindungan Lapisan Ozon 2026 membawa pesan optimistis. Protokol Montreal menunjukkan bahwa manusia dapat mengubah arah ketika menyadari kesalahan dan bersedia bekerja sama. Amendemen Kigali melanjutkan semangat tersebut melalui transisi menuju pendinginan yang lebih berkelanjutan (UNEP, 2026).

Satu keluarga memang tidak dapat memulihkan lapisan ozon sendirian. Mematikan satu AC juga tidak serta-merta menurunkan suhu bumi. Tetapi keluarga dapat membentuk manusia yang memahami bahwa setiap nikmat memiliki batas, setiap pilihan memiliki konsekuensi, dan setiap generasi mempunyai tanggung jawab kepada generasi berikutnya.

Islam mengajarkan keseimbangan: mengambil manfaat tanpa berlebihan, menikmati nikmat tanpa merusak, dan memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengorbankan kehidupan esok.

Maka pertanyaan, “Bisakah rumah kita sejuk tanpa membuat bumi semakin panas?” bukan sekadar pertanyaan tentang AC atau kulkas.

Ia adalah pertanyaan tentang cara kita menjalankan amanah.

Sebab bumi bukan hanya tempat keluarga kita hidup hari ini. Bumi adalah titipan Allah yang akan kita wariskan kepada anak dan cucu. Menjaganya berarti menjaga keluarga, kehidupan, dan masa depan.

Related Articles

Back to top button