Idul Adha dan Ketahanan Keluarga: Spirit Intisab dan Ishlah dari Keluarga Nabi Ibrahim
Refleksi Perayaan Idul Adha

oleh Rita Juniarty.
Ketua Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI.
Setiap Idul Adha, jutaan umat Islam berbondong-bondong membeli hewan qurban. Takbir menggema di masjid-masjid. Pisau diasah. Daging dibagikan kepada masyarakat. Namun di tengah semarak itu, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan: apakah semangat qurban benar-benar sudah hidup di dalam keluarga kita?
Jangan sampai tangan kita rutin menyembelih hewan qurban setiap tahun, tetapi gagal menyembelih egoisme, cinta dunia, dan gaya hidup individualis yang perlahan merusak rumah tangga Muslim hari ini.
Idul Adha sejatinya bukan hanya ritual penyembelihan, melainkan pelajaran besar tentang bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam membangun keluarga yang kokoh di atas tauhid, pengorbanan, dan perjuangan. Kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail bukan sekadar cerita sejarah, tetapi potret keluarga yang sangat relevan menghadapi krisis keluarga modern.
Hari ini, banyak keluarga terlihat harmonis di media sosial, tetapi rapuh dalam kenyataan. Tidak sedikit anggota keluarga duduk satu meja tanpa percakapan karena masing-masing sibuk dengan gawainya. Orang tua bekerja keras demi masa depan anak, tetapi lupa membangun syakhsiyah Islamiyah dan ketahanan imannya. Anak dipersiapkan menjadi pintar mencari uang, tetapi kurang dipersiapkan menjadi generasi yang siap menjaga agama dan memperbaiki umat.
Data bps.go.id menunjukkan angka perceraian di Indonesia masih tinggi dalam beberapa tahun terakhir dengan penyebab terbesar berupa perselisihan rumah tangga. Sementara itu, kemenpppa.go.id menegaskan bahwa era digital membawa tantangan serius terhadap kualitas komunikasi keluarga dan pola pengasuhan anak.
Realitas ini menunjukkan bahwa problem terbesar keluarga modern bukan sekadar ekonomi, tetapi hilangnya nilai ruhiyah, ukhuwah, dan arah perjuangan dalam rumah tangga.
Di tengah situasi seperti itu, keluarga Nabi Ibrahim menjadi teladan penting bagi keluarga Muslim, termasuk dalam spirit Persatuan Ummat Islam yang menjadikan dakwah, ishlah, dan pembinaan umat sebagai jalan perjuangan.
Allah mengabadikan dialog luar biasa antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Ismail menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang ketaatan, tetapi juga tentang tarbiyah keluarga. Nabi Ibrahim tidak mendidik dengan kekerasan, tetapi dengan dialog, keteladanan, dan kasih sayang. Nabi Ismail tumbuh menjadi anak yang taat karena dibesarkan dalam rumah yang hidup dengan tauhid dan nilai perjuangan.
Inilah makna ketahanan keluarga dalam Islam: bukan keluarga yang bebas masalah, tetapi keluarga yang tetap kokoh karena memiliki pondasi tauhid dan tujuan hidup yang sama.
Keluarga Nabi Ibrahim juga menunjukkan makna intisab yang sesungguhnya. Dalam perspektif PUI, intisab bukan sekadar identitas organisasi, tetapi keterikatan hati kepada Islam dan kesiapan mengabdikan hidup untuk dakwah dan ishlahul ummah.
Nabi Ibrahim menunjukkan intisab melalui keberaniannya menjaga tauhid. Siti Hajar menunjukkan intisab melalui kesabaran dan tawakal ketika berada di lembah tandus Makkah. Nabi Ismail menunjukkan intisab melalui kepatuhan dan kesiapan melanjutkan perjuangan ayahnya.
Keluarga yang memiliki ruhul jihad wal ishlah tidak akan mudah runtuh oleh perubahan zaman. Sebaliknya, keluarga yang hanya dibangun di atas orientasi duniawi akan mudah goyah ketika menghadapi ujian kehidupan.
Karena itu, nilai Islahuts Tsamaniyah PUI menjadi sangat relevan untuk membangun kembali ketahanan keluarga muslim masa kini. Dalam tradisi perjuangan PUI, Islahuts Tsamaniyah adalah delapan jalan perbaikan umat yang dimulai dari individu dan keluarga.
Pertama, ishlahul aqidah.
Anak-anak perlu dibangun kedekatannya kepada Allah agar memiliki pegangan hidup di tengah derasnya budaya sekuler dan materialistis.
Kedua, ishlahul ibadah.
Rumah Muslim tidak boleh hanya ramai oleh suara televisi dan notifikasi media sosial, tetapi juga hidup dengan shalat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, dan doa bersama. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”
(HR. al-Tirmidzi No. 3895)
Ketiga, ishlahul tarbiyah.
Orang tua bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pendidik bagi anak-anaknya. Dari keluarga yang kuatlah lahir generasi yang memiliki cinta agama dan kepedulian terhadap umat.
Keempat, ishlahul ‘ailah.
Ketahanan keluarga lahir dari komunikasi, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama. Rumah tangga tidak cukup dibangun dengan materi, tetapi juga dengan iman dan keteladanan.
Kelima, ishlahul ‘adah.
Krisis terbesar zaman ini sebenarnya bukan krisis teknologi, melainkan krisis kebiasaan hidup. Budaya individualis, konsumtif, dan serba instan perlahan mengikis nilai adab dan kebersamaan dalam keluarga.
Keenam, ishlahul iqtisad.
Banyak rumah tangga hancur bukan karena kurang harta, tetapi karena hilangnya keberkahan dan gaya hidup berlebihan. Islam mengajarkan ekonomi yang sederhana dan penuh keberkahan.
Ketujuh, ishlahul mujtama’.
Qurban mengajarkan ukhuwah dan solidaritas sosial. Keluarga Muslim tidak boleh hidup individualis dan acuh terhadap lingkungan sekitarnya.
Kedelapan, ishlahul ummah.
Keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang kuat. Peradaban besar tidak lahir dari individu semata, tetapi dari keluarga yang kokoh aqidah, akhlak, dan perjuangannya.
Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum muhasabah bagi keluarga Muslim. Jangan sampai qurban hanya berhenti di tempat penyembelihan, tetapi gagal masuk ke dalam hati dan rumah kita sendiri.
Barangkali hari ini yang paling membutuhkan penyelamatan bukan hanya ekonomi umat, tetapi rumah-rumah Muslim yang mulai kehilangan iman, ukhuwah, kasih sayang, dan orientasi perjuangan Islam.
Keluarga Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa rumah tangga yang kuat tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari tauhid. Tidak lahir dari banyaknya harta, tetapi dari kesabaran dan pengorbanan. Tidak lahir dari fasilitas modern, tetapi dari hidupnya nilai dakwah, tarbiyah, dan ishlah dalam keluarga.
Maka Idul Adha harus menjadi momentum membangun kembali ketahanan keluarga Islam: keluarga yang kuat aqidahnya, hidup ibadahnya, baik pendidikannya, kokoh keluarganya, baik kebiasaannya, sehat sosial-ekonominya, dan jelas arah perjuangannya.
Sebab jika keluarga runtuh, umat akan rapuh. Tetapi jika keluarga kuat, maka dari rumah-rumah sederhana itulah akan lahir generasi khairu ummah yang mampu menjaga agama, memperbaiki masyarakat, dan membangun kembali peradaban Islam.



