
Oleh: Yusuf Islahuddin Kholid
Semilir angin menyejukan membawa kabar gembira bagi semua keluarga mukmin. Allah ingin membahagiakan hambanya dengan kabar ini. Bahwasannya, orang-orang beriman yang mana anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah akan menyertakan keturunan mereka di jannah-Nya. Walaupun amal keturunan mereka belum mencapai
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍk أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)
Disebutkan dalam Tafsir Ath Thobari:
“Para ahli tafsir (takwil) berbeda pendapat dalam menafsirkan hal tersebut. Sebagian dari mereka berkata bahwa maknanya adalah: ‘Dan orang-orang yang beriman dan Kami ikutkan anak cucu mereka kepada mereka dalam keimanan’, (artinya) Kami susulkan dan persatukan anak cucu mereka yang beriman bersama mereka di dalam surga, meskipun amalan anak cucu tersebut belum mencapai derajat (tingkatan) bapak-bapak mereka. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi bapak-bapak mereka yang beriman, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal perbuatan bapak-bapak mereka yang beriman.”
Apakah dengan ayat ini menjadi jaminan keturunan orang sholeh pasti akan sholeh pula? Tentu tidak, ayat di atas tidak lantas membuat kita berleha-leha dan merasa punya golden ticket ke surga. Jangankan kita manusia biasa, para Nabi pun tak terjamin keturunannya bisa ikut mulia dengan keimanan.
Mari kita perhatikan, bagaimana Nabi Nuh yang Ulul Azmi diuji dengan putranya. Putranya memilih jalan berbeda dari jalan ayahnya. Ketika adzab Allah berupa air bah datang, Nabi Nuh masih berharap akan kesalamatan putranya, seperti yang diabadikan dalam Al Quran.
“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. (QS. Hud: 45)
Tapi Allah dengan segala kebijaksanaannya membalas dengan jawaban yang menegaskan secara tidak langsung bahwa putranya tidak selamat.
“Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. (QS. Hud: 46)
Lalu bagaimana sikap kita?
Sebagai orang tua, hendaknya Surat Ath-Thur: 21 menjadi motivasi bagi kita, untuk menjadi orang tua yang sholih, agar nantinya keturunan kita bisa membersamai kita di surga. Adapun sebegai seorang anak, hendaknya kita sadar, bahwa kesholihan orangtua kita tak menjamin kesholihan kita, hingga kita pada akhirnya berusaha agar dapat mensholihkan diri kita sendiri.
Wallahu ‘alam bisshowab



