OpiniWanita PUI

KETIKA BUMI BERGUNCANG, GUNUNG MELETUS, DAN HUJAN TAK KUNJUNG TURUN

Musibah, Ikhtiar, dan Ketangguhan Keluarga di Negeri Rawan Bencana

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI

Belakangan ini, berbagai kabar bencana datang hampir bersamaan. Banjir dan cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah Sumatra. Di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, banjir akibat curah hujan tinggi dan jebolnya tanggul pada 7 September 2026 berdampak pada tiga kecamatan dan, menurut pendataan sementara, 1.110 keluarga serta 1.110 rumah (BNPB, 2026a).

Kebakaran hutan dan lahan juga masih menjadi perhatian di Kalimantan. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan termasuk wilayah yang menetapkan status siaga darurat karhutla dan kekeringan (BNPB, 2026b). Aktivitas gunung api pun terus dipantau. Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sekitar 25 jam pada 4–6 September dan tetap berstatus Level III (Siaga) (Kementerian ESDM, 2026).

Di wilayah lain, kemarau dan kekeringan membuat masyarakat menanti hujan hingga melaksanakan salat istisqa. BMKG (2026) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian I September untuk berbagai wilayah Indonesia.

Rangkaian peristiwa tersebut mengingatkan bahwa hidup di negeri dengan berbagai risiko bencana menuntut lebih dari kewaspadaan sesaat. Ketahanan keluarga tidak hanya diuji oleh persoalan ekonomi dan relasi, tetapi juga kemampuan menghadapi keadaan di luar kendali manusia.

Musibah: Antara Iman dan Ikhtiar

Dalam Islam, musibah tidak semestinya disikapi hanya dengan ketakutan, apalagi dengan mudah menyimpulkan bahwa setiap bencana merupakan hukuman Allah kepada korban.

Allah berfirman:
“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 155).

Sabar bukan berarti pasif. Ketika gempa terjadi, kita mencari tempat aman. Ketika aktivitas gunung meningkat, masyarakat mengikuti zona bahaya. Ketika kebakaran terjadi, api dipadamkan dan penyebabnya dicegah. Ketika kekeringan datang, air dihemat dan sumbernya dijaga.

Al-Qur’an juga mengingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rūm [30]: 41).
Ayat ini tidak boleh digunakan untuk menuduh korban bencana. Namun ia menjadi peringatan bahwa sebagian kerusakan lingkungan dapat berkaitan dengan tindakan manusia. Kebakaran hutan, kerusakan daerah resapan, tata ruang, penggunaan air, dan pengelolaan sumber daya perlu menjadi muhasabah bersama.

Ketangguhan Dimulai dari Keluarga

BNPB melalui konsep Keluarga Tangguh Bencana (KATANA) menempatkan keluarga sebagai unsur penting kesiapsiagaan. Landasan ilmiahnya juga kuat. Walsh (2003) menjelaskan ketahanan keluarga melalui tiga proses utama: sistem keyakinan, pola organisasi, serta komunikasi dan pemecahan masalah. Dengan demikian, ketangguhan bukan sekadar sifat individu, tetapi proses yang dibangun bersama dalam keluarga.

Penelitian Guo dan Sim (2025) terhadap 1.015 responden untuk mengembangkan dan memvalidasi instrumen ketahanan keluarga dalam situasi bencana juga menemukan bahwa kesiapsiagaan proaktif dan perilaku respons kedaruratan berkaitan dengan skor ketahanan keluarga yang lebih tinggi.

Karena itu, keluarga di wilayah rawan gempa perlu mengetahui titik aman dan jalur evakuasi. Keluarga sekitar gunung api harus mengikuti status dan rekomendasi resmi. Dokumen penting, obat rutin, air minum, makanan darurat, senter, alat komunikasi, serta kebutuhan anak, lansia, penyandang disabilitas, dan anggota keluarga yang sakit perlu dipikirkan sebelum keadaan darurat. Kesiapsiagaan bukan sikap pesimis, melainkan ikhtiar melindungi kehidupan.

Ketika Air Menjadi Sangat Berharga

Musibah tidak selalu datang tiba-tiba. Kekeringan bergerak perlahan, tetapi dampaknya masuk ke dapur, pertanian, kesehatan, dan ekonomi keluarga.

Ketika hujan tidak kunjung turun, Islam mengajarkan salat istisqa. Dalam hadis Anas bin Malik r.a., Rasulullah ﷺ berdoa:
“Allāhumma asqinā, Allāhumma asqinā, Allāhumma asqinā.”
“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”
(HR. al-Bukhari No. 1013).

Salat istisqa menunjukkan pengakuan manusia atas keterbatasannya di hadapan Allah. Namun doa tidak menggantikan ikhtiar. Memohon hujan perlu berjalan bersama penghematan air, perlindungan sumber air, dan pengelolaan lingkungan secara bertanggung jawab.

Bencana dalam Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah

Kesiapsiagaan bencana dapat dibaca melalui maqāṣid al-syarī‘ah. Evakuasi, mitigasi gempa, kepatuhan terhadap zona bahaya gunung api, dan perlindungan dari asap mendukung ḥifẓun nafs atau menjaga jiwa. Edukasi kebencanaan mendukung ḥifẓul ‘aql. Perlindungan anak dan keberlangsungan keluarga berkaitan dengan ḥifẓun nasl. Menjaga sumber penghidupan, rumah, dan aset mendukung ḥifẓul māl. Doa, sabar, tawakal, dan salat istisqa menguatkan ḥifẓud dīn.

Dengan demikian, tawakal dan mitigasi bukan dua pilihan yang bertentangan.

Ishlahuts Tsamaniyah: Dari Keluarga Menuju Ketangguhan Umat

Rangkaian bencana juga dapat direfleksikan melalui Ishlahuts Tsamaniyah PUI.

  • Iṣlāḥul ‘Aqīdah mengajarkan keluarga menempatkan musibah dalam bingkai keimanan tanpa meninggalkan ikhtiar.
  • Iṣlāḥul ‘Ibādah diwujudkan melalui doa, sabar, tawakal, sedekah, tolong-menolong, dan istisqa.
    Iṣlāḥut Tarbiyah mendorong pendidikan kesiapsiagaan sejak dini. Anak perlu mengetahui tindakan saat gempa, cara merespons peringatan erupsi, dan pentingnya menjaga air serta lingkungan.
  • Iṣlāḥul ‘Āilah menempatkan keluarga sebagai unit pertama perlindungan, termasuk bagi anggota yang rentan.
  • Iṣlāḥul ‘Ādah mengajak memperbaiki kebiasaan yang memperbesar risiko: membakar lahan sembarangan, menyumbat aliran air dengan sampah, boros air, merusak lingkungan, atau mengabaikan peringatan resmi.
  • Iṣlāḥul Iqtiṣād mengingatkan bahwa bencana juga mengguncang ketahanan ekonomi. Rumah dapat rusak, mata pencaharian terhenti, hasil pertanian gagal, biaya kesehatan meningkat, dan tabungan terkuras. Keluarga perlu hidup tidak berlebihan, membangun dana darurat sesuai kemampuan, melindungi dokumen dan aset penting, serta menjaga sumber penghidupan. Saat bencana terjadi, zakat, infak, sedekah, wakaf, dan bantuan kemanusiaan menjadi kekuatan solidaritas pemulihan.
  • Iṣlāḥul Mujtama‘ menggerakkan keluarga menjadi bagian masyarakat yang saling menolong, bergotong royong, berbagi sumber daya, dan menjaga lingkungan. Iṣlāḥul Ummah memperluasnya menjadi solidaritas umat. Musibah di Sumatra, Kalimantan, NTT, kawasan gunung api, maupun wilayah kekeringan bukan sekadar berita dari tempat lain, melainkan panggilan untuk saling menguatkan.

Dari Musibah Menuju Ketangguhan

Kita tidak dapat menghentikan pergerakan lempeng bumi atau aktivitas magma. Kita juga tidak dapat memerintahkan awan menurunkan hujan. Namun kita dapat memilih bagaimana keluarga mempersiapkan diri, menjaga lingkungan, mengikuti informasi resmi, membantu korban, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Jadikan musibah pendidikan bagi keluarga. Ajarkan anak bahwa ketika musibah datang, seorang mukmin berdoa tanpa meninggalkan ikhtiar, bersabar tanpa menjadi pasif, bertawakal tanpa mengabaikan ilmu, dan menolong tanpa menunggu dirinya menjadi korban.

Ketahanan keluarga bukan berarti keluarga tidak pernah terkena musibah. Ketahanan adalah kemampuan bersiap sebelum bencana, melindungi ketika bencana datang, saling menguatkan setelahnya, lalu bangkit kembali dengan iman, ilmu, kesiapan ekonomi, dan kepedulian.

Dari Iṣlāḥul ‘Aqīdah hingga Iṣlāḥul Ummah, ketangguhan bermula dari pribadi yang beriman, keluarga yang siap, kebiasaan yang bertanggung jawab, ekonomi yang tangguh, masyarakat yang saling menolong, hingga umat yang berdiri bersama ketika sebagian anggotanya menghadapi kesulitan.

Related Articles

Back to top button