OpiniWanita PUI

KETIKA KEKERASAN BELAJAR DARI RUMAH

Memutus Mata Rantai Kekerasan dari Ruang Pertama Manusia Belajar tentang Kuasa

Refleksi Hari Tanpa Kekerasan Internasional, 2 Oktober 2026

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI

Setiap 2 Oktober, dunia memperingati International Day of Non-Violence. Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkannya melalui Resolusi A/RES/61/271 pada 15 Juni 2007. Tanggal tersebut dipilih bertepatan dengan hari kelahiran Mahatma Gandhi, tokoh yang dikenal dengan gerakan antikekerasan. PBB menjadikan peringatan ini sebagai momentum menyebarkan pesan antikekerasan melalui pendidikan dan kesadaran publik serta memperkuat budaya damai, toleransi, dan saling memahami.

Namun bagi umat Islam, nilai antikekerasan bukanlah gagasan yang baru ditemukan dunia modern. Lebih dari empat belas abad lalu, Islam telah membangun peradaban di atas prinsip rahmah, keadilan, penjagaan jiwa, pengendalian diri, dan larangan berbuat zalim.

Allah bahkan menjelaskan misi kerasulan Nabi Muhammad ﷺ:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. al-Anbiyā’ [21]: 107)

Karena itu, Hari Tanpa Kekerasan dapat menjadi momentum untuk menggali kembali betapa kuatnya ajaran Islam tentang kemuliaan manusia—dan membawanya ke tempat pertama manusia belajar tentang kekuasaan: keluarga.

Kekerasan Tidak Selalu Meninggalkan Memar

Ketika mendengar kata kekerasan, kita mungkin membayangkan perang, senjata, atau pukulan. Padahal kekerasan juga dapat hadir melalui penghinaan, ancaman, intimidasi, dan tindakan yang menghancurkan rasa aman seseorang.

UNICEF memasukkan hukuman fisik dan agresi psikologis seperti membentak, meneriaki, dan memanggil anak dengan sebutan merendahkan sebagai violent discipline. Data UNICEF yang diperbarui pada 2026 memperkirakan sekitar 1,6 miliar anak—dua dari tiga anak di dunia—secara rutin mengalami hukuman keras oleh pengasuh di rumah.

Di Indonesia, SNPHAR 2024 menunjukkan sekitar 50,78 persen atau 11,5 juta anak usia 13–17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya. Dalam 12 bulan sebelum survei, angkanya sekitar 33,64 persen atau 7,6 juta anak.

Angka tersebut mengingatkan kita bahwa kekerasan bukan hanya persoalan “di luar sana”. Ia dapat tumbuh di ruang yang seharusnya paling aman.

Islam Mengubah Makna Kekuatan

Salah satu keindahan ajaran Islam terletak pada cara Rasulullah ﷺ mendefinisikan kekuatan. Beliau bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Islam membalik ukuran kekuatan: yang hebat bukan manusia yang mampu menaklukkan orang lain, tetapi manusia yang mampu menaklukkan amarahnya sendiri.

Al-Qur’an memuji:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

“Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia.”
(QS. Āli ‘Imrān [3]: 134)

Bahkan Rasulullah ﷺ meninggalkan teladan yang sangat kuat dalam kehidupan keluarga. Aisyah r.a. mengatakan:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا

“Rasulullah ﷺ tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, tidak pula perempuan dan tidak pula pelayan.”
(HR. Muslim no. 2328)

Inilah kemuliaan Islam yang perlu kembali dihadirkan dalam pendidikan keluarga: otoritas tidak harus berubah menjadi kekerasan, dan kekuatan tidak harus menghasilkan ketakutan.

Damai Bukan Berarti Membiarkan Kezaliman

Namun Islam juga tidak mengajarkan perdamaian yang pasif. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan.”
(QS. an-Nisā’ [4]: 135)

Karena itu, antikekerasan tidak berarti meminta korban diam atau mempertahankan rumah tangga dengan membiarkan kezaliman. Rahmah harus berjalan bersama ‘adl—kasih sayang bersama keadilan.

Melindungi korban, menghentikan kekerasan, mencari pertolongan, dan menggunakan mekanisme hukum ketika diperlukan bukan bertentangan dengan perdamaian. Justru keadilan merupakan fondasi perdamaian yang sehat.

Ketika “Mendidik” Menjadi Alasan

Persoalan menjadi rumit karena kekerasan dalam keluarga tidak selalu dilakukan dengan kebencian. Sebagiannya dibungkus kalimat: “Ini demi kebaikanmu.”

Anak dipermalukan agar disiplin. Bentakan dinamakan ketegasan. Ancaman dianggap pendidikan. Pasangan dikontrol atas nama menjaga keluarga.

Padahal UNICEF menegaskan bahwa bukti menunjukkan violent discipline tidak efektif dan membawa konsekuensi negatif.

Ketegasan berbeda dengan kekerasan.

Disiplin mengajarkan anak mengendalikan dirinya; kekerasan mengajarkan anak takut kepada orang yang lebih kuat. Anak kemudian membawa pelajaran tentang kuasa tersebut ke sekolah, pertemanan, pernikahan, bahkan ketika kelak menjadi orang tua.

Maka menghentikan kekerasan hari ini berarti ikut melindungi keluarga generasi berikutnya.

Mīzān Ishlahuts Tsamaniyah

Perspektif Ishlahuts Tsamaniyah menunjukkan bahwa budaya tanpa kekerasan membutuhkan perbaikan menyeluruh.

  • Iṣlāḥ al-‘Aqīdah menyadarkan bahwa kekuasaan manusia dibatasi oleh Allah.
  • Iṣlāḥ al-‘Ibādah melatih pengendalian diri dan kesabaran. _Iṣlāḥ at-Tarbiyah_ mengubah pendidikan berbasis ketakutan menjadi ketegasan yang mendidik.
  • Iṣlāḥ al-‘Āilah membangun rumah yang aman.
  • Iṣlāḥ al-‘Ādah mengoreksi budaya bentakan, penghinaan, perundungan, dan hukuman fisik yang dinormalisasi dengan alasan “dari dulu juga begitu”.
  • Iṣlāḥ al-Iqtiṣād menolak penyalahgunaan ketergantungan ekonomi sebagai alat menguasai keluarga.
  • Iṣlāḥ al-Mujtama‘ membangun masyarakat yang tidak diam melihat kekerasan.
  • Iṣlāḥ al-Ummah membawa nilai rahmah dan keadilan menjadi etika kehidupan umat.

Semua itu berkelindan dengan maqāṣid al-syarī‘ah:

  • ḥifẓ al-nafs melindungi jiwa;
  • ḥifẓ al-‘aql menjaga kesehatan psikologis dan akal;
  • ḥifẓ al-nasl memutus pewarisan kekerasan;
  • ḥifẓ al-māl melindungi hak ekonomi; dan
  • ḥifẓ al-dīn menjaga agama agar tidak dipakai untuk membenarkan kezaliman.

Perdamaian Dunia Bisa Dimulai dari Rumah

Hari Tanpa Kekerasan Internasional berbicara kepada dunia. Tetapi Islam mengingatkan bahwa perubahan juga bermula dari manusia.

Bagaimana ayah dan ibu berbicara ketika marah? Apakah anak boleh berbeda pendapat tanpa dipermalukan? Apakah pasangan menyelesaikan konflik melalui dialog atau dominasi? Apakah meminta maaf dianggap kelemahan?

Di ruang keluarga itulah anak sedang membangun definisinya tentang kekuatan, keadilan, konflik, dan kasih sayang.

Islam telah memberikan fondasinya: rahmah tanpa kehilangan keadilan, kekuatan tanpa kezaliman, ketegasan tanpa penghinaan, serta kemampuan menahan amarah ketika sebenarnya seseorang mampu membalas.

Mungkin kontribusi keluarga terhadap perdamaian dunia dimulai sesederhana ini: tangan memilih tidak memukul, lisan memilih tidak merendahkan, yang kuat memilih tidak menindas, dan yang salah berani meminta maaf.

Sebab anak yang belajar bahwa kekuatan tidak harus melukai akan membawa pelajaran itu keluar dari rumah.

Dan, jauh sebelum perdamaian dibicarakan di meja-meja dunia, Islam telah mengajarkan bahwa ia harus terlebih dahulu hidup di dalam diri manusia dan keluarganya.

Related Articles

Back to top button