Ketua Majelis Syura PUI Roadshow Silaturahmi ke Tiga Pesantren di Cirebon, Ajak Perkuat Kolaborasi Kiai dan Ajengan PUI

Cirebon – Ketua Majelis Syura (KMS) Persatuan Ummat Islam (PUI), KH. Nurhasan Zaidi, melakukan roadshow silaturahmi ke tiga pondok pesantren di Kabupaten Cirebon pada 26-27 Agustus 2026. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya mempererat ukhuwah dan menjaga sinergi antar kader ulama PUI di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan).
Pesantren pertama yang dikunjungi adalah Pondok Pesantren Salman Assalam Cikalahang, yang dipimpin oleh Dr. KH. Usep Saefudin Zuhri, MA. Pesantren ini dikenal bercorak pendidikan model Gontor, mengingat KH. Usep merupakan alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor. Kunjungan kedua dilakukan ke Pondok Pesantren Al-Ishal Bobos, yang dipimpin oleh KH. Solehudin AR, dan dilanjutkan ke Pondok Pesantren Tarbiyatul Banin yang dipimpin oleh Prof. Dr. KH. Ahmad Kholiq, MA.
Dalam setiap kunjungannya, KH. Nurhasan Zaidi mengajak para kiai dan ajengan PUI untuk menggagas pertemuan rutin antar ulama PUI di wilayah Ciayumajakuning, guna menjaga silaturahmi sekaligus mengkolaborasikan berbagai kegiatan kader-kader ulama PUI di daerah tersebut.
“Kita perlu membangun kembali kebiasaan pertemuan rutin antar kiai dan ajengan PUI, agar sinergi dan kolaborasi kegiatan kader-kader ulama kita di Ciayumajakuning ini semakin kuat dan terarah,” ujar Nurhasan Zaidi.

Gagasan tersebut mendapat sambutan baik dari para kiai yang dikunjungi, yang menilai pertemuan rutin semacam ini penting untuk memperkuat konsolidasi ulama di lingkungan PUI.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. KH. Ahmad Kholiq menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya visi yang jelas bagi sebuah organisasi maupun individu.
“Seseorang atau organisasi itu harus punya visi yang jelas. Visi PUI itu sudah jelas dengan Intisab-nya. Ormas yang jelas visinya adalah PUI dengan Intisab-nya,” ujar Ahmad Kholiq.
Ia menambahkan, seiring perkembangan zaman, nilai-nilai Intisab kerap tergeser oleh dorongan materialisme dan hedonisme, sehingga pengamalannya dinilai kurang greget dalam membentuk karakter kader-kader PUI.
“Hanya saja, dengan perkembangan zaman, nilai-nilai Intisab ini kerap ditinggalkan akibat pengaruh materialisme dan hedonisme, sehingga kurang greget terhadap pembentukan kader-kader PUI,” tegasnya.

Sementara itu, KH. Solehudin AR turut menyampaikan kepada KMS bahwa dirinya tengah menulis sebuah buku tentang PUI, sebagai bentuk kontribusi dan harapan amal jariyah di usianya yang kini menginjak 70 tahun.
“Saya sedang menulis buku tentang PUI, semoga ini menjadi amal saya di kemudian hari,” ujar Solehudin AR.
Roadshow silaturahmi ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara Majelis Syura DPP PUI dengan para ulama dan pimpinan pesantren di daerah, sekaligus menjadi langkah awal terbentuknya forum komunikasi rutin antar kiai dan ajengan PUI di wilayah Ciayumajakuning, guna memperkuat kaderisasi ulama dan penguatan nilai-nilai Intisab di tengah tantangan zaman.



