Oleh: Ahmad Gabriel
Waketum PP Pemuda PUI, Anggota Bidang Dikdasmen DPP PUI
Bayangkan seorang bocah lelaki lahir di sebuah desa kecil bernama Sutawangi, Jatiwangi, Majalengka, pada Sabtu Pon, 26 Juni 1887. Namanya Otong Syatori — nama yang kelak tenggelam, digantikan sebuah gelar yang jauh lebih dikenal: K.H. Abdul Halim. Ia bukan sekadar kiai kampung yang mengaji di surau. Ia adalah anak bungsu dari delapan bersaudara yang perjalanan intelektualnya menyeberangi tiga negeri keilmuan — pesantren-pesantren Jawa Barat dan Jawa Tengah, lalu Masjidil Haram di Mekkah — sebelum akhirnya pulang membawa oleh-oleh paling berharga: gagasan pembaruan Islam yang kelak melahirkan Persatuan Umat Islam (PUI).
Untuk memahami K.H. Abdul Halim, kita tidak bisa hanya membaca daftar jabatan dan penghargaannya. Kita harus menelusuri sanad keilmuannya — rantai guru-murid yang membentuk cara berpikirnya, sekaligus silsilah nasabnya yang ternyata menyimpan kejutan tersendiri. Dan rantai itu menyambungkannya ke beberapa nama paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam, baik di Nusantara maupun di dunia Arab.
Anak Penghulu Berdarah Wali: Menelusuri Silsilah Sang Kiai
Otong Syatori lahir dari pasangan K.H. Muhammad Iskandar dan Hj. Siti Mutmainah. Ayahnya bukan kiai sembarangan — selain mengasuh pesantren, ia menjabat penghulu di Kawedanan Jatiwangi. Yang lebih menarik, garis nasab K.H. Muhammad Iskandar bersambung kepada Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati sekaligus penguasa pertama Kesultanan Banten.
Ini berarti silsilah K.H. Abdul Halim menyambung pula ke Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), salah satu dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat dan Cirebon. Dan menurut naskah kuno Carita Purwaka Caruban Nagari (ditulis Pangeran Arya Cirebon pada 1720 M) — salah satu manuskrip rujukan silsilah Sunan Gunung Jati — nasab beliau bersambung ke atas melalui jalur Ba’ Alawi hingga Imam Ja’far Ash-Shadiq, cicit dari Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, yang pada gilirannya bersambung kepada Rasulullah Muhammad SAW. (Perlu dicatat, sejumlah naskah lain menyebut jalur nasab berbeda, yakni melalui Sayyid Musa al-Kadzim; perdebatan silsilah semacam ini memang lazim dalam kajian nasab tokoh-tokoh Wali Songo.) Apa pun jalur yang dipegang, yang jelas: Otong Syatori kecil tumbuh dalam keluarga yang memandang keilmuan dan garis keturunan sebagai satu kesatuan yang harus dijaga.
Ibunya, Hj. Siti Mutmainah, adalah putri K.H. Imam Safari, yang juga masih trah Sunan Gunung Jati. Jadi sejak lahir, Otong kecil sudah berdiri di persimpangan dua hal sekaligus: darah bangsawan-wali dan tradisi pesantren yang kental.
Sebelas Tahun Mengembara: Mencicipi Beragam Warna Keilmuan Pesantren
Sepuluh tahun pertama hidupnya dihabiskan bersama keluarga. Lalu dimulailah babak yang menentukan: sebelas tahun mengembara dari satu pesantren ke pesantren lain di Jawa Barat dan Jawa Tengah (1897–1908) — sebuah pola nyantri kelana yang lazim dalam tradisi pesantren Nusantara, di mana seorang santri sengaja tidak menetap pada satu guru saja agar wawasannya kaya dan tidak sempit.
Perjalanannya dimulai di Majalengka sendiri, berguru kepada Kiai Haji Anwar di Pesantren Ranjiwetan Jatiwangi, lalu ke Kiai Haji Abdullah di Pesantren Lontangjaya, Panjalin, Leuwimunding. Dari sana ia menyeberang ke Cirebon, menimba ilmu dari Kiai Haji Syuja’i di Pesantren Bobos, Sumber. Lalu ke Kuningan, berguru pada Kiai Haji Ahmad Shobari di Pesantren Ciwedus, Cilimus — dan justru di sinilah, pada usia 21 tahun, ia dipanggil pulang orang tuanya untuk dinikahkan dengan Siti Murbiyah, putri K.H. Muhammad Ilyas bin Hasan Basyari, penghulu Majalengka saat itu. Dari pernikahan ini lahir tujuh orang anak.
Pengembaraannya tidak berhenti di situ. Ia masih sempat menyeberang ke Jawa Tengah, berguru kepada Kiai Haji Agus di Pesantren Kanayangan, Kedungwuni, Pekalongan.
Yang menarik, di sela-sela mondok dari pesantren ke pesantren, Otong muda juga belajar membaca dan menulis huruf Latin serta bahasa Belanda kepada Mr. Van Hoeven — seorang pendeta zending Protestan di Majalengka. Di zaman ketika banyak santri hanya fasih aksara Arab-pegon, keputusan seorang calon kiai untuk belajar huruf Latin dari seorang pendeta Kristen menunjukkan keterbukaan pikiran yang akan menjadi ciri khasnya sepanjang hidup — sebuah keluwesan yang kelak membuatnya dikenal sebagai ulama yang toleran, mampu merangkul baik kalangan tradisional maupun modernis.
Tiga Tahun di Mekkah: Titik Balik yang Membentuk Seorang Pembaru
Pada 1908, dalam usia 21 tahun, Abdul Halim berangkat ke Mekkah untuk mendalami ilmu-ilmu keislaman secara lebih serius. Tiga tahun ia mukim di sana (1908–1911), dan periode inilah yang paling menentukan arah pemikirannya di kemudian hari.
Berguru kepada Sang Imam Besar Masjidil Haram
Di antara deretan panjang guru yang disebut-sebut dalam riwayat hidupnya — Syeikh Saleh Bafadil, Syeikh Maliki, Syeikh Ali Thayyib, Syeikh Said Jamani, Syeikh Haji Muhammad Junaedi, Syeikh Haji Abdullah Jawawi, Syeikh Haji Raden Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri, hingga Syeikh Ahmad Khayyat — satu nama menonjol karena posisinya yang luar biasa: Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Ahmad Khatib bukan guru biasa. Ia adalah satu dari sedikit ulama Nusantara yang pernah dipercaya menjadi imam dan khatib di Masjidil Haram selama sekitar 29 tahun (1888–1916), sekaligus didapuk sebagai mufti mazhab Syafi’i dan menjadi pengajar tetap di Masjid Haram. Kelahiran Koto Tuo, Bukittinggi, pada 1860 ini menjadi rujukan hampir seluruh ulama besar Nusantara di ambang abad ke-20. Di antara murid-muridnya tercatat K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, selain Syaikh Abdul Karim Amrullah — ayah Buya Hamka.
Bayangkan implikasinya: Abdul Halim, dalam usia belasan hingga awal dua puluhan, duduk mengaji di majelis yang sama — atau setidaknya di bawah asuhan guru yang sama — dengan calon-calon pendiri dua ormas Islam terbesar di Indonesia. Ahmad Khatib al-Minangkabawi dikenal sebagai figur yang membawa benih-benih gerakan pembaruan Islam yang bergema ke seantero Nusantara, sebuah spirit reformis yang jelas menular kepada murid-muridnya, termasuk Abdul Halim.
Sang Ahli Sanad dan Hadis dari Tanah Sunda
Satu lagi guru yang layak disorot: Syeikh Haji Raden Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri, atau yang lebih dikenal sebagai Tuan Mukhtar Bogor. Kelahiran Bogor pada 1862 ini justru satu tanah dengan Abdul Halim — sama-sama putra Tatar Sunda — dan mengajar di Masjidil Haram selama sekitar 28 tahun (1902–1930). Ia dikenal luas sebagai ulama musnid (ahli sanad) dan muhaddits (ahli hadis) kaliber dunia: seorang ahli hadis dari Mekkah, Syaikh Yasin al-Fadani, bahkan menyebutnya sebagai satu dari tujuh ulama Nusantara dengan jalur periwayatan hadis paling lengkap. Selain hadis, Tuan Mukhtar Bogor juga menguasai fikih mazhab Syafi’i, tafsir, ushul fikih, ilmu waris (faraidh), dan ilmu falak — sehingga banyak santri Nusantara, termasuk dari kalangan yang kelak menjadi tokoh pergerakan, sengaja mengaji khusus kepadanya untuk mendapatkan sanad keilmuan yang tersambung hingga ke generasi awal Islam.
Satu Lingkaran Guru dengan Sahabat Seperjuangan
Menariknya, deretan guru-guru Abdul Halim di Mekkah itu — Syeikh Saleh Bafadil, Syeikh Maliki, Syeikh Ali Thayyib, Haji Muhammad Junaedi, Haji Abdullah Jawawi, hingga Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi — adalah lingkaran guru yang sama persis dengan yang dicatat dalam riwayat K.H. Ahmad Sanusi, ulama muda asal Sukabumi yang saat itu juga tengah mukim di Mekkah. Bahkan menurut catatan sejarah PUI, pada tahun-tahun pertama kemukimannya di Mekkah, Ahmad Sanusi bertemu dengan Abdul Halim, dan karena berasal dari daerah yang sama — Tatar Pasundan — pertemuan itu berkembang menjadi persahabatan erat. Konon keduanya bahkan bersepakat: jika kelak kembali ke tanah air, mereka akan sama-sama berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan lewat jalur pendidikan.
Janji itu bukan isapan jempol. Empat dekade kemudian, organisasi yang didirikan Abdul Halim di Majalengka yaitu Perikatan Ummat Islam (PUI) dan organisasi yang didirikan Ahmad Sanusi di Sukabumi — Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) — akhirnya berfusi pada 1952 menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI), dengan gagasan fusi itu sendiri telah dirintis sejak keduanya sama-sama duduk sebagai anggota BPUPKI, badan yang merumuskan dasar negara Indonesia merdeka.
Baca juga: Menyusuri Sanad Keilmuan K.H. Ahmad Sanusi, Sang Pendiri PUI
Bergaul dengan Calon-Calon Tokoh Bangsa
Selain Ahmad Sanusi, selama mukim di Mekkah Abdul Halim juga menjalin persahabatan dekat dengan K.H. Abdul Wahab Hasbullah (salah satu pendiri NU) dan K.H. Mas Mansur (yang kelak menjadi Ketua Umum Muhammadiyah). Pertemanan lintas-aliran ini bukan kebetulan sejarah semata — ia adalah cikal bakal sikap Abdul Halim yang selalu berusaha menjembatani, bukan mempertajam, perbedaan antara kubu tradisionalis dan modernis dalam Islam Indonesia.
Bergumul dengan Gagasan Para Reformis Mesir
Yang tak kalah penting, di Mekkah Abdul Halim juga “bergumul” — sebagaimana dicatat dalam riwayat keilmuannya — dengan pemikiran para tokoh pembaru asal Mesir: Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaluddin al-Afghani. Ketiga nama ini adalah trio paling berpengaruh dalam gerakan modernisme Islam akhir abad ke-19: Al-Afghani sang penggerak Pan-Islamisme yang menyerukan persatuan umat menghadapi kolonialisme Barat; Abduh muridnya yang menerjemahkan semangat itu menjadi program reformasi pendidikan dan pemurnian akidah dari takhayul; dan Ridha yang melanjutkan estafet lewat majalah Al-Manar, menyebarkan gagasan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sembari tetap terbuka pada ilmu pengetahuan modern.
Selain trio Mesir itu, dua nama lain yang disebut turut mewarnai cakrawala pemikiran Abdul Halim adalah Amir Syakib Arsalan, seorang pemikir dan aktivis Pan-Islamisme keturunan Lebanon-Druze yang menjadi corong intelektual dunia Arab untuk isu-isu kebangkitan umat, dan Tanthawi Jauhari, ulama Mesir yang belakangan (1930-an) menulis tafsir fenomenal Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim — dua puluh enam jilid yang berani menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan memakai teori-teori ilmu pengetahuan modern, sebuah pendekatan yang kala itu terhitung berani, bahkan kontroversial. Semangat memadukan wahyu dan sains inilah yang tampaknya juga menjiwai cara Abdul Halim kelak merancang sistem pendidikan modern berbasis Islam sepulangnya ke Majalengka.
Tiga tahun di Mekkah itu membekali Abdul Halim dengan tiga hal sekaligus, sebagaimana dicatat dalam riwayat hidupnya: kemampuan baca-tulis huruf Latin yang makin matang, penguasaan ilmu-ilmu keislaman klasik, dan — yang paling revolusioner — pemahaman tentang sistem pendidikan modern model Islam. Kombinasi inilah yang membuatnya berbeda dari kebanyakan lulusan Mekkah pada masanya.
Pulang Kampung, Membangun dari Langgar 3×4 Meter
Tahun 1911, dalam usia 24 tahun, Abdul Halim kembali ke Majalengka. Ia tidak langsung mendirikan lembaga besar. Ia memulai dari yang paling sederhana: sebuah langgar berukuran 3×4 meter dengan tujuh santri — yang dalam catatan riwayatnya disebut dengan mesra sebagai “santri lucu”. Dari titik kecil inilah, selama 51 tahun ke depan (1911–1962), ia membangun sebuah ekosistem pendidikan dan pergerakan yang luar biasa luas.
Ia mendirikan Pondok Pesantren Daarul Uluum, lalu Pondok Pesantren Mufidzah Santi Asromo — sebuah nama yang menarik karena memadukan kata Arab dan istilah asrama modern, mencerminkan gagasannya tentang pendidikan Islam yang terstruktur secara modern namun berjiwa pesantren. Dari sinilah lahir generasi kiai, ulama, akivis, politisi, dan birokrat.
Ia juga produktif menulis. Setidaknya dua belas kitab, buletin, dan majalah lahir dari tangannya, mulai dari Risalah Petunjuk bagi Sekalian Manusia, Ekonomi dan Koperasi dalam Islam (menunjukkan concern-nya pada isu ekonomi umat jauh sebelum istilah “ekonomi syariah” populer), Tarikh Islam, Kitab Tafsir Tabarok, hingga Kitab 262 Hadits Indonesia — sebuah usaha menerjemahkan dan menyusun hadis dalam bahasa yang bisa diakses umat awam.
Merajut Gerakan: Dari Hayatul Qulub hingga PUI
Jejak politik-keagamaan Abdul Halim adalah rangkaian metamorfosis organisasi yang panjang: Hayatul Qulub (1911–1915) bertransformasi menjadi Majelisul Ilmi (1915–1917), lalu menjadi Persyarikatan Ulama (1917–1943), kemudian Perikatan Ummat Islam (1943–1952), dan akhirnya — setelah berfusi dengan Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) pimpinan K.H. Ahmad Sanusi — menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI) pada 1952.
Ia juga mendirikan Jami’iyyat I’anat al-Muta’allimin (1916) dan Kweekschool — sekolah pencetak guru-guru Islam (1919), serta ikut menggagas berdirinya Sekolah Tinggi Islam/Universitas Islam Indonesia (STI/UII) pada 1946.
Di ranah kebangsaan, jejaknya tak kalah panjang: Presiden Sarekat Islam lokal Majalengka (1915), anggota Chuo Sangi In — badan pertimbangan pusat era pendudukan Jepang, anggota Istimewa Masyumi, anggota BPUPKI yang merumuskan dasar negara, hingga anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pasca-kemerdekaan. Wilayah dakwahnya membentang dari Majalengka, Cirebon, Kuningan, Ciamis, Tasikmalaya, hingga Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Akhir yang Tenang, Warisan yang Panjang
Pada Kamis Pon, 17 Mei 1962, dalam usia 75 tahun, K.H. Abdul Halim wafat di Desa Pasirayu, Kecamatan Sindang, Majalengka, dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Santi Asromo yang ia dirikan sendiri. Negara kemudian mengakuinya sebagai Perintis Kemerdekaan, menganugerahkan Bintang Maha Putra Utama, dan pada 2008 — melalui Keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono — menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Namanya diabadikan sebagai nama jalan utama di Majalengka dan nama perguruan tinggi UHS Bandung.
Tetapi warisan terpentingnya barangkali bukan gelar atau nama jalan, melainkan sanad ganda yang ia rajut: sanad nasab yang menyambungkannya kepada Sunan Gunung Jati dan — menurut riwayat yang berkembang — hingga Rasulullah SAW, serta sanad keilmuan yang menariknya dari langgar-langgar kecil dan pesantren Jawa Barat, ke mimbar Masjidil Haram tempat Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Tuan Mukhtar Bogor mengajar, lalu bergesekan dengan gelombang pemikiran Abduh dan Rasyid Ridha dari Mesir, sebelum akhirnya menjelma menjadi lembaga pendidikan dan gerakan sosial-politik di tanah kelahirannya. Ia adalah bukti hidup bahwa seorang santri kampung bisa menjadi simpul yang menghubungkan darah para wali, tradisi pesantren Nusantara, dan arus pemikiran Islam dunia — tanpa harus kehilangan akar, dan tanpa harus menutup diri dari yang baru.
Referensi
- Bincang Syariah. “Syaikh Mukhtar bin Atharid Bogor: Ulama Indonesia yang Mengajar di Masjidil Haram Abad ke-19.” bincangsyariah.com.
- Bincang Syariah. “Tantawi Jauhari dan Tafsir Ilmi.” bincangsyariah.com.
- Ciayumajakuning.id. “KH. Abdul Halim, Pahlawan Nasional asal Majalengka.” ciayumajakuning.id, 22 Oktober 2021.
- Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung. “Perjuangan KH Abdul Halim dalam Dakwah Islam di Majalengka Tahun 1911–1962.” digilib.uinsgd.ac.id.
- Fuad Nasar, M. “Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi dan Masjid Raya Sumatera Barat.” UIN Imam Bonjol Padang, uinib.ac.id, 15 Juli 2024.
- Historia.id. “KH Ahmad Sanusi, Ajengan dalam Arus Kemerdekaan.” historia.id, 8 November 2022.
- Kompas.com. “Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Khatib Masjidil Haram dari Minang.” kompas.com, 8 Agustus 2022.
- P2K STEKOM. “Abdul Halim dari Majalengka.” Universitas STEKOM Semarang, p2k.stekom.ac.id.
- P2K STEKOM. “Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri.” Universitas STEKOM Semarang, p2k.stekom.ac.id.
- Persatuan Umat Islam Jawa Barat. “Sejarah dan Dinamika PUI.” puijabar.org, 18 Februari 2021.
- Pusat Sejarah TNI. “KH. Abdul Halim, Ulama dan Pejuang Asal Majalengka.” sejarah-tni.mil.id, 18 Mei 2019.
- Republika.id. “Syekh Muhammad Ahyad, Ulama Bogor di Tanah Suci.” republika.id.
- Saleh, Munandi. “Profil K.H. Ahmad Sanusi, Pendiri PUI: dari Hafidz Al-Qur’an Usia 12 Tahun hingga Pejuang Kemerdekaan RI.” Dewan Pertimbangan Pusat PUI, pui.or.id, 4 November 2022.
- Saleh, Munandi. “K.H. Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Gagasannya dalam Memperjuangkan Kepentingan Agama, Bangsa, Negara dan Masyarakat.” pui.or.id.
- Saleh, Munandi. “Peran Tritunggal PUI (K.H. Abdul Halim, K.H. Ahmad Sanusi & Mr. R. Sjamsoedin) dalam Dakwah di Indonesia.” (Presentasi). Makalah disampaikan dalam Kegiatan I’tikaf & Mudzakarah Dakwah Anggota Majelis Syura PUI, Masjid Paniis Villa Mozaik, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, Kamis–Sabtu, 20–22 Maret 2025 M / 20–22 Ramadhan 1446 H.
- SDN 13 Kolo Kota Bima. “KH. Abdul Halim Majalengka.” sdn13.bimakota.sch.id.
- Sindonews Kalam. “Silsilah Nasab Sunan Gunung Jati yang Tersambung kepada Rasulullah SAW.” kalam.sindonews.com, 6 Juni 2023.
- RMI PWNU Banten. “Silsilah Sunan Gunung Jati Ke Musa Al-Kadzim.” rminubanten.or.id, 8 April 2025.
- Wikipedia bahasa Indonesia. “Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri.” id.wikipedia.org.
- Wikipedia. “Abdul Halim (nationalist).” en.wikipedia.org.
- Wikipedia. “Ahmad Khatib al-Minangkabawi.” en.wikipedia.org.
