Oleh: Ahmad Gabriel
Waketum PP Pemuda PUI, Anggota Bidang Dikdasmen DPP PUI
Di Kampung Cantayan, Sukabumi, pada malam Jumat 12 Muharram 1306 H — bertepatan dengan 18 September 1888, sekitar pukul sembilan malam — lahir seorang bayi yang kelak akan menjadi salah satu ulama paling produktif yang pernah dimiliki Tatar Sunda. Namanya Ahmad Sanusi. Anak ketiga dari delapan bersaudara ini tumbuh di lingkungan pesantren yang ketat: ayahnya, K.H. Abdurrahim, adalah ajengan pengasuh Pondok Pesantren Cantayan. Sejak usia nol tahun ia sudah dibentuk oleh didikan Islami orang tuanya, dan di usia delapan-sembilan tahun ia disebut telah mendapati Lailatul Qadar — pengalaman spiritual yang jarang dicatat dalam riwayat hidup seorang anak. Pada usia 12 tahun ia telah hafal Al-Qur’an 30 juz. Pada usia 16 tahun ia sudah menguasai dua belas cabang ilmu keislaman (fan keilmuan). Angka-angka ini bukan sekadar detail biografis — mereka adalah fondasi dari apa yang kelak menjadikannya salah satu penulis kitab paling produktif di Nusantara, sekaligus salah satu dari dua tokoh yang mendirikan Persatuan Ummat Islam (PUI) bersama sahabatnya, K.H. Abdul Halim dari Majalengka.
Silsilah yang Menyambung ke Wali dan ke Sunan
Yang jarang diketahui orang, garis nasab Ahmad Sanusi menyimpan jalinan yang cukup istimewa. Dari jalur ibunya, Ibu Empok, silsilah keluarga menyambung kepada Syeikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan — waliyullah masyhur dari Tasikmalaya yang dikenal luas sebagai penyebar pertama Tarekat Syathariyah di Pulau Jawa. Ini bukan klaim tanpa dasar: riwayat hidup Syeikh Abdul Muhyi sendiri mencatat bahwa ayahnya, Sembah Lebe Wartakusumah, adalah bangsawan Sunda keturunan Raja Galuh Pajajaran, sementara ibunya, Raden Ajeng Tanganziah, adalah keturunan bangsawan Mataram yang jalur nasabnya bersambung hingga Syaikh Ainul Yaqin — yang tidak lain adalah Sunan Giri, salah satu dari Wali Songo.
Jadi ketika silsilah keluarga Ahmad Sanusi ditelusuri ke atas — dari Ibu Empok, ke K.H. Abdurrahim, ke H. Yasin, ke Embah Nurzan, ke Ki Nursalam, ke Nyi R. Candra, hingga bertemu dengan Syeikh Abdul Muhyi dan pasangan orang tuanya, SL Warta Kusumah dan R.A. Tanganziah — garis itu bercabang dua: satu jalur naik melalui Ratu Puhun dan Ratu Galuh yang mewakili trah kebangsawanan Sunda-Pajajaran, satu jalur lain naik melalui Sunan Giri Laya dan Sunan Giri yang mewakili trah kewalian Jawa. Dan menurut riwayat keluarga, dari jalur Sunan Giri inilah nasab itu diyakini terus bersambung ke atas — melalui deretan panjang leluhur seperti Ja’far Shadiq, Ali al-Aridh, Muhammad al-Faqih, hingga akhirnya kepada Sayyidina Husain, Sayyidah Fathimah az-Zahra, dan Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Silsilah semacam ini — yang menyatukan darah bangsawan Pajajaran dengan trah kewalian Jawa — bukan hal aneh dalam tradisi elite keagamaan Sunda; ia justru menunjukkan bagaimana kekuasaan lokal dan otoritas keagamaan sering kali berjalin dalam satu garis keturunan yang sama.
Empat Setengah Tahun Bertabarukan ke Pesantren-Pesantren Priangan
Selepas masa kanak-kanak yang sudah diisi hafalan penuh Al-Qur’an, remaja Ahmad Sanusi menempuh masa yang disebut dalam riwayatnya sebagai tabarukan — mengambil berkah keilmuan — ke berbagai pesantren di tanah Priangan selama kurang lebih empat setengah tahun (1905–1910). Ia singgah dari satu ajengan ke ajengan lain: di Sukabumi ia berguru kepada Ajengan Soleh dan Ajengan Anwar di Pesantren Selajambe Cisaat, lalu Ajengan Muhammad Siddiq di Pesantren Sukamantri, serta Ajengan Sulaeman dan Ajengan Hafidz di Pesantren Sukaraja. Di Cianjur, ia menimba ilmu dari Ajengan Cilaku, Ajengan Ahmad Syatibi dan Ajengan Muhammad Qurtobi di Pesantren Gentur Warungkondang, juga Ajengan Ciajag dan Ajengan Buniasih. Perjalanannya berlanjut hingga Garut dan Tasikmalaya, berguru kepada Ajengan Limbangan di Pesantren Keresek Blubur Limbangan, Ajengan Sumursari, dan Ajengan R. Ahmad Suja’i di Pesantren Kudang.
Pola pengembaraan lintas-pesantren ini — sangat mirip dengan yang dijalani sahabatnya kelak, K.H. Abdul Halim, di Jawa Barat bagian utara — adalah tradisi lazim pesantren Sunda pada masanya: seorang santri sengaja tidak menetap pada satu guru, melainkan berpindah demi mengumpulkan sanad dan wawasan dari banyak ajengan sekaligus.
Lima Tahun di Mekkah: Berguru pada Lingkaran Ulama yang Sama dengan Sahabatnya
Pada 1910, dalam usia 22 tahun, Ahmad Sanusi berangkat ke Mekkah al-Mukarramah. Ia bermukim di sana selama lima tahun penuh (1910–1915) — lebih lama dua tahun dibanding masa mukim Abdul Halim yang berangkat dua tahun lebih dulu. Yang menarik, deretan guru yang disebut dalam riwayat keilmuannya nyaris identik dengan deretan guru Abdul Halim: Syeikh Saleh Bafadil, Syeikh Maliki, Syeikh Ali Thayyib, Syeikh Said Jamani, Syeikh Haji Muhammad Junaedi, Syeikh Haji Abdullah Jawawi, Syeikh Haji Raden Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri, dan Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Ini menunjukkan bahwa keduanya, meski berasal dari dua ujung Jawa Barat yang berbeda — Majalengka di utara dan Sukabumi di selatan — sesungguhnya “seguru seilmu”, berada dalam satu lingkaran pengajian yang sama di Masjidil Haram.
Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Tuan Mukhtar Bogor
Sebagaimana telah diuraikan dalam kajian sanad keilmuan K.H. Abdul Halim, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah figur sentral di Masjidil Haram kala itu — imam dan mufti mazhab Syafi’i yang juga menjadi guru dari K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama). Sementara itu Syeikh Haji Raden Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri, atau Tuan Mukhtar Bogor, adalah ulama musnid (ahli sanad) dan muhaddits (ahli hadis) asal Bogor yang mengajar di Masjidil Haram selama 28 tahun dan dianggap salah satu dari tujuh ulama Nusantara dengan jalur periwayatan hadis terlengkap pada masanya.
Baca juga: Menelusuri Sanad Keilmuan K.H. Abdul Halim, Sang Pendiri PUI
Syaikh Mahfudz Tremas, Sang Muhaddits dari Pacitan
Satu nama yang tidak muncul dalam daftar guru Abdul Halim namun tercatat sebagai guru Ahmad Sanusi adalah Syaikh Mahfudz Tremas — ulama kelahiran Desa Tremas, Pacitan, Jawa Timur, yang dibawa ayahnya ke Mekkah sejak usia enam tahun dan kemudian tumbuh menjadi salah satu ahli hadis paling disegani di Masjidil Haram. Ia adalah ulama Nusantara pertama yang mengajar Shahih Bukhari di Masjidil Haram hingga akhir hayatnya, dengan sanad yang bersambung langsung hingga Imam Bukhari. Ulama besar Yasin al-Fadani bahkan menganugerahkan enam gelar sekaligus kepadanya: al-‘Allamah (yang sangat alim), al-Muhaddits (ahli hadis), al-Musnid (mata rantai sanad hadis), al-Faqih (ahli fikih), al-Ushuli (ahli ushul fikih), dan al-Muqri’ (ahli qiraat) — sebuah pengakuan keilmuan yang jarang diberikan kepada satu orang sekaligus. Berguru kepada tokoh sekaliber ini menjelaskan mengapa kelak Ahmad Sanusi begitu produktif dan piawai dalam menulis kitab tafsir dan hadis.
Bergaul dengan Calon Pendiri PUI, NU, dan Muhammadiyah
Selama mukim di Mekkah, Ahmad Sanusi menjalin persahabatan karib dengan tiga sosok yang kelak menjadi tokoh besar di tanah air: K.H. Abdul Halim dari Majalengka, K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang kelak menjadi salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, dan K.H. Mas Mansur yang kelak menjadi Ketua Umum Muhammadiyah. Persahabatannya dengan Abdul Halim-lah yang paling menentukan sejarah: keduanya, yang sama-sama berasal dari Tatar Pasundan, bersepakat sejak di Mekkah bahwa jika kelak kembali ke tanah air, mereka akan berjuang membebaskan bangsanya dari penjajahan Belanda melalui jalur pendidikan. Empat dekade kemudian, janji itu terwujud: organisasi bentukan Ahmad Sanusi di Sukabumi (Persatuan Ummat Islam Indonesia/PUII) berfusi dengan organisasi bentukan Abdul Halim di Majalengka (Perikatan Ummat Islam) pada 5 April 1952, menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI) yang bertahan hingga kini.
Bergumul dengan Gagasan Pembaru Mesir
Seperti sahabatnya, Ahmad Sanusi juga bergumul dengan pemikiran tiga tokoh pembaru Islam asal Mesir yang gaungnya menggema hingga Haramain kala itu: Syeikh Muhammad Abduh, Sayyid Rasyid Ridha, dan Syeikh Jamaluddin al-Afghani. Trio modernis ini — dengan seruan Al-Afghani tentang persatuan umat menghadapi kolonialisme, program reformasi pendidikan dan pemurnian akidah dari Abduh, serta ajakan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dari Ridha lewat majalah Al-Manar — menanamkan benih pembaruan yang kelak tumbuh subur dalam gerakan-gerakan yang didirikan Ahmad Sanusi sepulangnya ke Sukabumi.
Pulang ke Tanah Air, Melahirkan Ratusan Kiai
Tahun 1915, dalam usia 27 tahun, Ahmad Sanusi kembali ke Sukabumi dan mulai mengabdikan ilmunya selama 35 tahun berikutnya (1915–1950). Ia mengajar di tiga pesantren besar secara berturut-turut: Pesantren Cantayan (1915–1921), Pesantren Genteng, dan yang paling monumental, Pesantren Syamsul ‘Ulum Gunungpuyuh Sukabumi yang ia dirikan sendiri pada 1934 dan asuh hingga 1950.
Dari Pesantren Cantayan saja, dalam kurun enam tahun, lahir lebih dari delapan belas kiai yang kelak memimpin pesantren-pesantren mereka sendiri — di antaranya K.H. Uci Sanusi, K.H. Masturo, K.H. Ahmad Nahrowi (Ajengan Awing), dan K.H. Moh. Adra’i. Sementara dari Pesantren Syamsul ‘Ulum Gunungpuyuh selama enam belas tahun terakhir hidupnya, lahir generasi kiai yang jauh lebih berpengaruh secara nasional — termasuk K.H. Choer Apandi, K.H. Rukhyat, Prof. K.H. Ibrahim Husein, Dr. K.H. E.Z. Muttaqien (yang kelak menjadi tokoh pendidikan nasional), dan K.H. Sholeh Iskandar. Selain mengajar di pesantren, ia juga rutin membina majelis-majelis umum di Cikukulu, Cijengkol, Cipelang Gede, hingga di sekitar rumah tahanannya sendiri di Tanah Tinggi, Batavia Centrum — tempat ia sempat ditahan pemerintah kolonial Belanda namun tetap menjadikannya ruang dakwah.
Ulama Paling Produktif Menulis Kitab di Zamannya
Jika ada satu hal yang membuat Ahmad Sanusi berbeda dari kebanyakan ulama sezamannya, itu adalah produktivitasnya yang luar biasa dalam menulis. Catatan sejarah mencatat ia menghasilkan 126 judul kitab hingga tahun 1942, bertambah menjadi 200 judul pada 1946, dan mencapai sekitar 400-an judul pada 1950 — mencakup tafsir, tauhid, hadis, nahwu-sharaf, fikih, hingga akhlak dan tasawuf, ditambah lebih dari selusin buletin dan majalah yang ia terbitkan sendiri.
Mahakarya yang paling monumental adalah Tafsir Raudhatul ‘Irfan fi Ma’rifatil Qur’an — tafsir Al-Qur’an lengkap 30 juz pertama yang ditulis dalam bahasa Sunda beraksara pegon. Ditulis dari proses pengajian bertahun-tahun bersama para santrinya di pesantren, tafsir ini disusun dengan format khas: matan (teks ayat), terjemahan matan, lalu syarah (penjelasan) — sebuah metode yang memudahkan masyarakat Sunda awam memahami kandungan Al-Qur’an tanpa harus menguasai bahasa Arab. Meski sempat mendapat penolakan dari sebagian kalangan pada masa awal penerbitannya, karya ini akhirnya diakui sebagai salah satu pencapaian terpenting dalam sejarah kajian tafsir berbahasa daerah di Indonesia.
Haroqah Siyasah: Dari AII hingga BPUPKI
Di ranah pergerakan, jejak Ahmad Sanusi sama padatnya dengan jejak keilmuannya. Ia mendirikan atau memprakarsai serangkaian organisasi: al-Ittihadiyatul Islamiyyah (AII) pada 1931 yang kemudian menjadi Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII) pada 1944, Barisan Islam Indonesia (BII), Ikatan Madaris Ittihad (IMI), organisasi wanita Zaenabiyah, Rumah Yatim Piatu, hingga turut menggagas berdirinya Sekolah Tinggi Islam/Universitas Islam Indonesia (STI/UII) pada 1946 — persis seperti yang dilakukan Abdul Halim di Majalengka pada waktu yang hampir bersamaan.
Dalam struktur kenegaraan, ia pernah menjadi penasihat (adviseur) Sarekat Islam lokal Sukabumi, Ketua Hoofdbestuur AII lalu Pengurus Besar PUII, anggota Dewan Penasihat Daerah Bogor (Giin Bogor Shu Sangi Kai), Wakil Residen Bogor (Fuku Syucokan), anggota BPUPKI (Dokuritsu Junbi Cosakai) yang merumuskan dasar negara — di kursi nomor 36, satu deret dengan Mr. R. Sjamsoedin sesama putra Sukabumi — serta anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Atas jasa-jasanya, semasa hidup dan setelah wafat ia dianugerahi gelar Perintis Kemerdekaan, Bintang Maha Putra Utama dari Presiden Soeharto pada 1996, dan Bintang Maha Putra Adipradana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2006. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, nama terminal tipe A, nama museum, nama gedung auditorium, dan nama perguruan tinggi UHS Bandung di Kota Sukabumi — bahkan karyanya, Tafsir Raudhatul Irfan, diabadikan menjadi nama Masjid Raya Provinsi Jawa Barat yang berlokasi di Cibolang, Sukabumi.
Pengakuan tertinggi datang lebih dari tujuh dekade setelah kewafatannya. Pada Senin, 7 November 2022, bertempat di Istana Negara, Presiden Joko Widodo secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia kepada K.H. Ahmad Sanusi — berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 96/TK/Tahun 2022. Ia dinilai berjasa besar dalam upaya-upaya perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan Jepang, serta perannya yang menentukan dalam sidang BPUPKI ketika merumuskan dasar negara — termasuk sikapnya yang berperan menjembatani perdebatan antara kubu yang menghendaki negara Islam dan kubu yang menghendaki negara sekuler, hingga akhirnya disepakati jalan tengah berupa Pancasila. Sejak saat itu, setiap peringatan Hari Pahlawan, pemerintah dan masyarakat Kota Sukabumi rutin berziarah ke kompleks makamnya di Pesantren Gunungpuyuh sebagai penghormatan kepada putra daerah yang menjadi kebanggaan mereka.
Akhir Hayat dan Warisan yang Menyatu dengan PUI
Pada malam Ahad menjelang Senin, 15 Syawal 1369 H bertepatan 31 Juli 1950 M, sekitar pukul sembilan malam, K.H. Ahmad Sanusi wafat dalam usia 63 tahun (kalender Hijriah) di Pesantren Gunungpuyuh yang ia dirikan, dan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di sebelah utara pesantren tersebut. Ia wafat dua tahun sebelum cita-citanya bersama Abdul Halim benar-benar terwujud sebagai PUI — namun wasiatnya kepada keluarga dan pengurus PUII agar fusi tetap dilaksanakan secepatnya tetap dipegang teguh, hingga akhirnya terealisasi pada 5 April 1952, yang kemudian diperingati sebagai Hari Fusi PUI.
Warisan Ahmad Sanusi hari ini hidup dalam dua wujud sekaligus: ratusan kitab dan lebih dari tiga puluh kiai besar yang lahir dari pengajiannya, serta organisasi PUI yang terus berjalan atas dasar Ishlahuts Tsamaniyah — delapan bidang perbaikan yang menjadi warisan pemikirannya bersama Abdul Halim. Sanad keilmuannya — dari pesantren-pesantren kecil Priangan, ke lingkaran ulama besar Masjidil Haram yang sama dengan sahabatnya dari Majalengka, hingga silsilah nasab yang menurut riwayat keluarga menyambung ke Sunan Giri dan Waliyullah Pamijahan — menjadikannya salah satu simpul penting yang menghubungkan tradisi kewalian Nusantara, jaringan ulama Haramain, dan gerakan pembaruan Islam modern Indonesia.

Referensi
- Hidayatullah.com. “Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Ulama Hadits Nusantara yang Mendunia.” hidayatullah.com, 5 November 2018.
- Historia.id. “KH Ahmad Sanusi, Ajengan dalam Arus Kemerdekaan.” historia.id, 8 November 2022.
- ANTARA News. “Lebih Mengenal Ahmad Sanusi, Anggota BPUPKI Bergelar Pahlawan Nasional.” antaranews.com, 10 November 2022.
- Persatuan Umat Islam Jawa Barat. “Sejarah dan Dinamika PUI.” puijabar.org, 18 Februari 2021.
- Rosyadi, Salim. “Raudhatul ‘Irfan fi Ma’arifati al-Qur’an: Mahakarya Tafsir Sunda KH Ahmad Sanusi.” academia.edu, 10 Desember 2019.
- Saleh, Munandi. “Profil K.H. Ahmad Sanusi, Pendiri PUI: dari Hafidz Al-Qur’an Usia 12 Tahun hingga Pejuang Kemerdekaan RI.” Dewan Pertimbangan Pusat PUI, pui.or.id, 4 November 2022.
- Saleh, Munandi. “K.H. Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Gagasannya dalam Memperjuangkan Kepentingan Agama, Bangsa, Negara dan Masyarakat.” pui.or.id.
- Saleh, Munandi. “Peran Tritunggal PUI (K.H. Abdul Halim, K.H. Ahmad Sanusi & Mr. R. Sjamsoedin) dalam Dakwah di Indonesia.” (Presentasi). Makalah disampaikan dalam Kegiatan I’tikaf & Mudzakarah Dakwah Anggota Majelis Syura PUI, Masjid Paniis Villa Mozaik, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, Kamis–Sabtu, 20–22 Maret 2025 M / 20–22 Ramadhan 1446 H.
- Tanwir.id. “Mengenal Kitab Raudhatu Al-‘Irfan, Tafsir Berbahasa Sunda.” tanwir.id, 12 Oktober 2020.
- Tirto.id. “Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Perjalanan Babat Alas Sang Mursyid.” tirto.id, 21 Maret 2024.
- UIN Sunan Gunung Djati Bandung. “Yuk Kenali Sosok Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan.” uinsgd.ac.id, 19 September 2024.
- NU Online Jabar. “KH Ahmad Sanusi, Ajengan Sukabumi yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional.” jabar.nu.or.id, 3 Agustus 2025.
- NU Online (Jatim). “Syekh Mahfudz At-Tarmasi, Ulama dari Tremas Pacitan yang Mendunia.” jatim.nu.or.id.
- NU Online (Jabar). “Riwayat Singkat Syekh Abdul Muhyi Pamijahan.” jabar.nu.or.id, 14 Februari 2023.
- NU Online (Jabar). “Jaringan Keilmuan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (1650–1730).” jabar.nu.or.id, 7 November 2025.
- Walisongo Repository. “Tafsir Al-Qur’an Berbahasa Sunda: Kajian Metode dan Corak Tafsir Raudatul Irfan fi Ma’raifati al-Qur’an Karya K.H Ahmad Sanusi.” eprints.walisongo.ac.id.
- Wikipedia bahasa Indonesia. “Abdul Muhyi.” id.wikipedia.org.
