PUI Soroti Kematian Beruntun Dokter Internship, Dorong Pendampingan Psikologis dan Lingkungan Kerja yang Manusiawi

Ditulis oleh

di

Jakarta – Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ummat Islam (DPP PUI) turut menyoroti rentetan kematian dokter peserta Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) yang terus bertambah sepanjang 2026. Kasus teranyar menimpa dr. Siti Zahra Maghfira, dokter internship yang bertugas di RS Sentra Medika Cisalak, Depok, yang diduga meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai 18 sebuah apartemen di kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (26/7/2026). Kematian tersebut menjadikan total enam dokter internship yang wafat sejak awal tahun ini.

Ketua Bidang Pelayanan Kesehatan DPP PUI, Nurhali Ahsan, menyampaikan keprihatinan mendalam atas berulangnya peristiwa duka ini di kalangan tenaga kesehatan muda.

“Kami dari DPP PUI turut berduka dan sangat prihatin dengan kembali berulangnya kasus dokter internship yang meninggal dunia. Ini bukan sekadar peristiwa personal, tapi harus menjadi alarm bersama bagi dunia kesehatan kita,” ujar Nurhali.

Ia menilai, fenomena ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, institusi pendidikan kedokteran, maupun rumah sakit tempat para dokter muda ditugaskan, untuk lebih serius memperhatikan kondisi psikologis tenaga kesehatan yang tengah menjalani masa transisi dari pendidikan menuju praktik profesional.

“Menjadi dokter internship itu bukan perkara ringan. Mereka menghadapi tekanan kerja yang tinggi, jam kerja yang panjang, sementara dukungan terhadap kesehatan mental mereka masih sangat minim. Kalau ini terus dibiarkan, korban akan terus berjatuhan,” tegasnya.

Nurhali mendorong agar sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan di Indonesia dibangun dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Menurutnya, dibutuhkan langkah konkret berupa pendampingan psikologis yang terstruktur, budaya saling peduli antarsejawat, serta lingkungan kerja yang menjaga martabat dan kesejahteraan para dokter muda.

“PUI mendorong hadirnya sistem yang tidak hanya menuntut kompetensi klinis, tapi juga menjaga sisi kemanusiaan para dokter muda ini. Perlu ada pendampingan psikologis yang rutin, ruang untuk mereka bicara dan didengar, serta budaya kerja yang saling peduli, bukan yang justru menekan dan mengisolasi,” jelasnya.

Ia juga berharap peristiwa ini mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Internship Dokter Indonesia, termasuk memastikan setiap dokter muda mendapat perlindungan yang layak, baik dari sisi beban kerja maupun kesejahteraan mental, selama menjalani masa pengabdiannya.

“Kami berharap ini menjadi momentum introspeksi bersama. Jangan sampai niat mulia mengabdi untuk kesehatan bangsa justru berujung pada tragedi yang berulang,” pungkas Nurhali.