
Refleksi Hari Lansia Internasional, 1 Oktober 2026
Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI
Manusia sejak dahulu berdoa agar diberi umur panjang. Kemajuan ilmu pengetahuan, layanan kesehatan, sanitasi, dan teknologi perlahan membuat harapan itu semakin mungkin diwujudkan. Namun muncul pertanyaan baru: ketika manusia hidup semakin panjang, apakah keluarga kita juga telah siap membersamai kehidupan yang semakin panjang itu?
Hari Lansia Internasional diperingati setiap 1 Oktober setelah Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkannya melalui Resolusi 45/106 pada 14 Desember 1990. Pada 2026, tema yang diangkat adalah “The Age of Longevity: Rethinking Systems for Longer Lives”—Era Umur Panjang: Menata Ulang Sistem untuk Kehidupan yang Lebih Panjang. Sejalan dengan tema tersebut, WHO menekankan perlunya menata kembali sistem agar tambahan tahun kehidupan juga menjadi tambahan tahun kesehatan, martabat, dan kesempatan untuk tetap berkontribusi (United Nations; WHO, 2026).
Pesan tersebut sangat relevan bagi Indonesia. Hasil SUPAS 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik pada 2026 menunjukkan penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai 11,97 persen. Indonesia telah memasuki fase ageing population (BPS, 2026). Lansia bukan lagi isu beberapa keluarga, melainkan bagian dari wajah baru keluarga Indonesia.
Ketika Umur Bertambah, Dunia Justru Mengecil
Ada paradoks pada zaman ini. Teknologi memungkinkan manusia berbicara dengan siapa pun dari mana pun, tetapi seseorang dapat tinggal serumah dengan keluarganya dan tetap merasa sendirian.
WHO menempatkan isolasi sosial dan kesepian sebagai determinan sosial kesehatan yang penting. Sekitar 11,8 persen lansia mengalami kesepian, sementara keterputusan sosial berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental serta kualitas hidup (WHO).
Maka kebutuhan lansia tidak berhenti pada obat, makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan, atau tempat tinggal yang nyaman. Ada kebutuhan yang tidak terlihat dalam hasil laboratorium: merasa dibutuhkan.
Allah Swt. berfirman:
وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ
“Barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti?”
(QS Yasin: 68).
Kemunduran kekuatan fisik merupakan sunnatullah kehidupan, bukan kemunduran nilai manusia.
Jangan Menjadikan Lansia Penonton di Rumahnya Sendiri
Ketika kemampuan fisik orang tua mulai berkurang, keluarga sering mengambil alih banyak hal dengan niat membantu. Namun tanpa disadari, bantuan dapat berubah menjadi pengambilalihan: keputusan dibuat tanpa bertanya, percakapan berlangsung tanpa melibatkan mereka, dan pendapat mereka dianggap tidak lagi relevan. Lansia akhirnya hadir di tengah keluarga, tetapi perlahan kehilangan suara dan peran.
Padahal Al-Qur’an memberikan standar tinggi ketika berbicara tentang orang tua yang mencapai usia lanjut:
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.”
(QS al-Isra’: 23).
Ayat ini menunjukkan bahwa berbakti bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan orang tua, tetapi juga menjaga martabat mereka dalam relasi sehari-hari. Qawlan karīman mengajarkan penghormatan melalui cara kita berbicara dan memperlakukan mereka. Karena itu, merawat lansia bukan berarti mengambil seluruh kendali kehidupannya. Selama masih mampu, mereka perlu tetap didengar, dilibatkan dalam keputusan yang menyangkut dirinya, dan diberi ruang menjalankan peran sesuai kemampuannya.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak mengetahui kehormatan orang yang tua di antara kami.”
(HR. at-Tirmidzi no. 1920; lihat pula Abu Dawud no. 4943 dengan perbedaan redaksi).
Menghormati lansia, dengan demikian, bukan hanya menyediakan apa yang mereka perlukan, tetapi juga memastikan mereka tidak kehilangan tempat, suara, dan makna di rumahnya sendiri.
Dari Sandwich Generation Menuju Keluarga Antargenerasi
Pembicaraan tentang lansia sering berhenti pada beban generasi produktif: biaya kesehatan, kebutuhan pendampingan, dan fenomena sandwich generation. Beban itu nyata, terlebih ketika pekerjaan perawatan hanya ditanggung satu anggota keluarga atau terutama dibebankan kepada perempuan.
Namun keluarga perlu bergerak dari paradigma “siapa menanggung siapa” menuju keluarga antargenerasi.
Anak membantu kekuatan fisik orang tua. Orang tua mewariskan pengalaman. Cucu membantu teknologi. Generasi produktif menyediakan perlindungan ekonomi, sementara lansia tetap dapat menjadi sumber nasihat, doa, pengasuhan, dan keterampilan.
Dari hubungan timbal balik antargenerasi inilah dapat lahir longevity dividend: tambahan usia tidak semata menjadi tambahan masa ketergantungan, tetapi juga tambahan pengalaman, pengetahuan, relasi sosial, dan kontribusi.
Ketika Suara Anak Bisa Dipalsukan AI
Ketahanan lansia kini memasuki wilayah yang dahulu tidak terbayangkan.
Pada Juli 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital mengungkap bahwa berdasarkan laporan Global Anti-Scam Alliance, total kerugian akibat spam dan scam di Indonesia mencapai sekitar Rp7,5 triliun. Komdigi juga mengingatkan kerentanan lansia terhadap penipuan yang semakin canggih dengan AI, termasuk teknologi yang dapat meniru suara seseorang (Komdigi, 2026).
Bayangkan seorang ibu menerima telepon dengan suara menyerupai anaknya: “Bu, saya kecelakaan. Tolong transfer sekarang.”
Maka berbakti kepada orang tua pada era AI memiliki bentuk baru: mengajari mereka mengenali penipuan digital.
Keluarga dapat membuat “kode aman keluarga”, membiasakan panggilan balik untuk verifikasi, mengajarkan agar tidak memberikan OTP atau data pribadi, serta tidak melakukan transfer karena permintaan mendadak tanpa konfirmasi.
Literasi digital lansia kini menjadi bagian dari perlindungan keluarga.
Maqāṣid al-Syarī‘ah dan Ishlahuts Tsamaniyah
Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, perlindungan lansia mencakup ḥifẓ al-dīn melalui kehidupan spiritual; ḥifẓ al-nafs melalui kesehatan dan keselamatan; ḥifẓ al-‘aql melalui pemeliharaan fungsi kognitif dan kesehatan mental; ḥifẓ al-māl melalui perlindungan harta dari eksploitasi dan penipuan; serta ḥifẓ al-nasl melalui kuatnya hubungan antargenerasi.
Dalam kerangka Ishlahuts Tsamaniyah PUI, Iṣlāḥ al-‘Aqīdah dan Iṣlāḥ al-‘Ibādah menjaga makna spiritual masa tua; Iṣlāḥ at-Tarbiyah mendidik generasi menghormati lansia; Iṣlāḥ al-‘Āilah membangun sistem perawatan keluarga yang adil; Iṣlāḥ al-‘Ādah mengoreksi budaya ageisme yang mengidentikkan tua dengan tidak berguna; Iṣlāḥ al-Iqtiṣād menjaga ekonomi dan harta lansia; Iṣlāḥ al-Mujtama‘ menghadirkan lingkungan ramah usia; dan Iṣlāḥ al-Ummah menempatkan penuaan penduduk sebagai agenda umat dan peradaban.
Lansia adalah Arsip Hidup Keluarga
Tema 2026 meminta dunia rethinking systems. Bagi Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI, perubahan itu dapat dimulai dari rumah.
Rumah ramah lansia bukan hanya rumah yang mempunyai pegangan di kamar mandi. Ia adalah rumah tempat orang tua dirawat tanpa kehilangan martabat, ditemani beribadah, dibantu memahami teknologi, dilindungi kesehatan dan hartanya, serta tetap memiliki ruang dalam kehidupan keluarga.
Lebih jauh, jadikan lansia arsip hidup keluarga. Rekam kisah mereka. Tanyakan sejarah keluarga. Dokumentasikan pengalaman, silsilah, resep, nasihat, doa, perjuangan, dan nilai yang ingin diwariskan kepada cucu-cucunya.
Merawat lansia bukan hanya merawat tubuh yang menua, tetapi juga menjaga mata rantai ingatan sebuah keluarga.
Sebab suatu hari sebuah keluarga mungkin memiliki banyak cloud storage, tetapi kehilangan satu-satunya manusia yang mengetahui mengapa keluarga itu menjadi seperti sekarang.
Tantangan kita bukan hanya bagaimana membuat manusia hidup lebih lama, tetapi memastikan ketika rambut memutih, langkah melambat, dan teknologi berubah begitu cepat, seseorang tetap dapat berkata:
“Aku masih bagian penting dari keluarga ini.”
Saat itu, ketahanan keluarga menemukan salah satu bentuknya yang paling manusiawi: tidak meninggalkan seseorang hanya karena ia berjalan lebih lambat daripada zaman.


