Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik: Saatnya Umat Bangkit, Ekonomi Syariah adalah Jalan Keluar dari Krisis Global

Jakarta — Penasehat Pusat Persatuan Ummat Islam (PUI), Prof. Dr. KH. Irfan Syauqi Beik, M.Sc.Ec. menegaskan bahwa ekonomi syariah merupakan solusi nyata dalam menghadapi ketidakpastian global yang kian kompleks. Hal tersebut disampaikannya dalam Halal bihalal dan Majelisul Ilmi DPP PUI bertema “Ekonomi Syariah dalam Menghadapi Ketidakpastian Global” di Gedung Pimpinan Pusat PUI, Pancoran, Jakarta Selatan pada Senin (6/4/26).
Kegiatan yang dihadiri sekitar 70 peserta dari unsur Majelis Syura, Pimpinan Pusat, organisasi otonom tingkat pusat, DPW DKI Jakarta, serta DPD Jakarta Selatan dan tokoh masyarakat ini dipandu oleh Wakil Ketua Umum PP Pemuda PUI, Ahmad Gabriel, S.Sos. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum DPP PUI H. Raizal Arifin, M.Sos, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PUI KH. Nur Ihsan Zaidi, M.M., Ketua Majelis Syura PUI KH. Nurhasan Zaidi, serta Ketua Majelis Masyayikh PUI Dr. KH. Ahmad Heryawan, M.Si.
Menurut Prof. Irfan, akar utama dari krisis ekonomi global yang terus berulang adalah sistem ribawi yang mendominasi sistem keuangan dunia saat ini. “Krisis demi krisis itu bukan kebetulan. Ini konsekuensi dari sistem yang tidak sehat, yang memisahkan sektor keuangan dari sektor riil,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sistem tersebut menciptakan ketimpangan struktural yang membuat ekonomi global rapuh. Karena itu, ia mendorong umat Islam untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi mengambil peran aktif melalui penguatan ekonomi syariah.

Tiga Pilar Kebangkitan Ekonomi Umat
Dalam paparannya, Prof. Irfan menegaskan bahwa kebangkitan ekonomi umat harus bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu industri halal, keuangan syariah, serta optimalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISW).
“Kita punya semua instrumen. Tinggal bagaimana kita mengelola dan mengintegrasikannya menjadi kekuatan besar,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ekonomi syariah memiliki keunggulan karena berbasis pada aset riil, sehingga lebih stabil dan tidak rentan terhadap spekulasi berlebihan.
Perkuat Kelembagaan, Jangan Hanya Wacana
Lebih jauh, Prof. Irfan menekankan pentingnya penguatan kelembagaan sebagai langkah strategis. Ia mengusulkan pembentukan Badan Ekonomi Syariah Nasional sebagai pengembangan dari Komite Nasional Ekonomi Syariah (KNES), agar pengelolaan ekonomi syariah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dan komprehensif.
“Kita butuh institusi yang kuat. Tidak cukup hanya program, harus ada sistem yang menopang,” tegasnya.
Di internal PUI, ia juga mendorong peningkatan status Lazis PUI menjadi Laznas. Menurutnya, langkah ini penting untuk memperbesar kapasitas penghimpunan dan distribusi dana umat, terlebih dengan adanya izin nazir wakaf yang telah dimiliki.

Bangun Kemandirian melalui Industri Halal
Prof. Irfan juga menyoroti pentingnya pengembangan sektor riil melalui pembangunan kawasan industri halal. Ia menilai bahwa selama ini Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai konsumen dibanding produsen.
“Kita harus bangun dari hulu ke hilir. Bahan baku dari dalam negeri, produksi di dalam negeri, sehingga nilai tambahnya juga dinikmati oleh umat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa industri halal bukan hanya peluang domestik, tetapi juga pasar global yang sangat besar dan terus berkembang.
Wakaf Produktif sebagai Instrumen Strategis
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Irfan turut mendorong pengembangan wakaf produktif sebagai motor penggerak ekonomi umat. Ia mengusulkan target awal penghimpunan dana sebesar Rp10 miliar sebagai langkah realistis untuk memulai.
“Jangan menunggu besar dulu. Mulai saja. Yang penting ada eksekusi, ada hasil, lalu kita kembangkan,” katanya.
Ia juga menyoroti besarnya potensi wakaf dan dana umat yang selama ini belum optimal, seperti tanah wakaf dan dana masjid yang mengendap tanpa produktivitas ekonomi.

Momentum untuk Bertindak
Menutup paparannya, Prof. Irfan menekankan bahwa saat ini adalah momentum yang tepat untuk mengembangkan ekonomi syariah, seiring dengan terbukanya ruang dukungan dari pemerintah dan meningkatnya kesadaran umat.
“Ini momentum. Peluang terbuka lebar. Tinggal kita mau bergerak atau tidak,” ujarnya.
Ia pun menyerukan agar perjuangan ekonomi syariah dipandang sebagai bagian dari ikhtiar besar umat.
“Ini bukan sekadar program ekonomi. Ini bagian dari jihad kita untuk membangun kemandirian dan keadilan,” pungkasnya.



