OpiniWanita PUI

KETANGGUHAN DIMULAI DARI RUMAH

Sudahkah Keluarga Kita Memiliki Rencana Kesiapsiagaan Bencana?

Refleksi Hari Internasional untuk Pengurangan Risiko Bencana, 13 Oktober 2026

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI

Ketika bencana terjadi, kita sering membayangkan siapa yang akan datang menolong: petugas, relawan, ambulans, BPBD, atau tim SAR. Padahal, pada menit-menit awal keadaan darurat, orang yang berada paling dekat biasanya adalah keluarga sendiri.

Saatnya cara pandang perlu diubah. Keluarga bukan sekadar pihak yang menunggu pertolongan, melainkan unit terkecil tempat ketangguhan dibangun.

Setiap 13 Oktober, dunia memperingati International Day for Disaster Risk Reduction (IDDRR). Peringatan ini berakar pada inisiatif Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1989 untuk mengembangkan budaya pengurangan risiko bencana.

Pada 2026, United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) mengangkat tema “Resilience Starts at Home”—Ketangguhan Dimulai dari Rumah. Tema ini menekankan kesiapsiagaan rumah tangga, hunian aman dan terjangkau, serta tanggung jawab bersama dalam mengurangi kerentanan (UNDRR, 2026).

Namun, apakah rumah yang selama ini dianggap tempat berlindung benar-benar aman ketika bencana datang?

Indonesia: Hidup Bersama Risiko

Pendekatan living with risk, sebagaimana dibahas UN/ISDR dalam Living with Risk: A Global Review of Disaster Reduction Initiatives (2004), mengingatkan bahwa risiko perlu dikenali dan dikurangi sebelum bencana terjadi.

Indonesia menghadapi berbagai ancaman: gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir, longsor, kekeringan, kebakaran, dan cuaca ekstrem.

Kajian kebencanaan juga mengenal multi-hazard dan cascading impacts, yakni berbagai ancaman serta dampak berantai. Banjir, misalnya, dapat merusak rumah sekaligus memutus akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan penghasilan.

Karena itu, keluarga perlu bertanya: “Jika bencana terjadi, bagian kehidupan mana yang terganggu dan bagaimana mengantisipasinya?”

UU Nomor 24 Tahun 2007 Pasal 35 memasukkan pengurangan risiko, pencegahan, pendidikan, dan pelatihan sebagai bagian penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi tidak terjadi bencana.

Rumah Aman Bukan Sekadar Tas Siaga

Tidak semua keluarga mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi tangguh. Sebagian tinggal di kawasan rawan karena keterbatasan ekonomi dan pilihan hunian. Sebagian memahami risiko, tetapi tidak mampu memperkuat bangunan atau berpindah ke lokasi lebih aman.

UNDRR (2026) menekankan bahwa masyarakat tidak semestinya harus memilih antara rumah yang terjangkau dan rumah yang aman.

Pemerintah berperan dalam tata ruang, standar bangunan, dan penyediaan informasi risiko. Sektor swasta turut menentukan keamanan pembangunan, sedangkan keluarga membutuhkan pengetahuan dan sumber daya untuk bertindak.

Peta risiko perlu dibaca bersama kondisi rumah: kekuatan bangunan, saluran air, akses keluar, serta kemungkinan terputusnya listrik dan komunikasi.

Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030 menetapkan empat prioritas: _memahami risiko, memperkuat tata kelola, berinvestasi dalam ketangguhan, serta meningkatkan kesiapsiagaan dan pemulihan yang lebih baik_ (UNDRR, 2015).

Keluarga perlu diberdayakan, tetapi tidak boleh menanggung seluruh risiko sendirian.

Kesiapsiagaan Bukan Mendahului Takdir

Kesiapsiagaan terkadang disalahpahami seolah bertentangan dengan tawakal. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan pentingnya antisipasi.

Ketika Nabi Yusuf a.s. menghadapi ancaman paceklik, beliau menganjurkan penyimpanan hasil panen:

فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ

“Apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS. Yūsuf [12]: 47).

Kisah tersebut mengajarkan pentingnya perencanaan sebelum masa sulit datang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh saling membahayakan.”

Hadis ini tercantum dalam Al-Arba‘īn an-Nawawiyyah, hadis ke-32. Imam an-Nawawi menyebutnya hasan dengan dukungan beberapa jalur periwayatan.

Dalam fikih dikenal pula kaidah:

الضَّرَرُ يُزَالُ

“Bahaya harus dihilangkan.”

Kesiapsiagaan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga keselamatan, bukan penolakan terhadap takdir.

Maqāṣid: Menyelamatkan Sebelum Kehilangan

Dalam al-Muwāfaqāt, al-Syāṭibī membahas pemeliharaan lima kebutuhan mendasar dalam maqāṣid al-syarī‘ah.

Pengurangan risiko bencana terutama berkaitan dengan ḥifẓ al-nafs, perlindungan jiwa. Melindungi anak dan keberlangsungan keluarga berkaitan dengan ḥifẓ al-nasl; menjaga rumah dan penghidupan dengan ḥifẓ al-māl; pendidikan kebencanaan dengan ḥifẓ al-‘aql; serta keberlangsungan kehidupan beragama dengan ḥifẓ al-dīn.

Maqāṣid perlu dipahami secara preventif. Menjaga jiwa bukan hanya menolong korban, melainkan berikhtiar mencegah jatuhnya korban.

Dari Keluarga Siaga Menuju Keluarga Ishlah

Dalam perspektif Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI, Ishlahuts Tsamaniyah dapat digunakan sebagai kerangka pembentukan budaya tangguh.

Iṣlāḥ al-‘Aqīdah membangun iman tanpa fatalisme.

Iṣlāḥ al-‘Ibādah menguatkan doa, sabar, dan tawakal.

Iṣlāḥ at-Tarbiyah membekali anak dengan literasi risiko.

Iṣlāḥ al-‘Āilah mendorong penyusunan rencana darurat keluarga.

Iṣlāḥ al-‘Ādah membiasakan latihan kesiapsiagaan.

Iṣlāḥ al-Iqtiṣād mengembangkan dana darurat dan perlindungan penghidupan.

Iṣlāḥ al-Mujtama‘ memperkuat jejaring pertolongan antartetangga.

Iṣlāḥ al-Ummah mendorong tanggung jawab kolektif dan kebijakan perlindungan.

Dari sini dapat ditawarkan gagasan ketahanan keluarga berbasis risiko: kemampuan mengenali ancaman sebelum bencana, saling melindungi ketika bencana, serta memulihkan keberfungsian keluarga sesudahnya.

Gagasan ini merupakan pengembangan konseptual untuk pendidikan ketahanan keluarga, bukan klaim penemuan teori ilmiah baru.

Sudah Pernah Mengadakan “Rapat Bencana”?

Keluarga terbiasa membicarakan sekolah, pekerjaan, keuangan, dan liburan. Namun, berapa banyak keluarga pernah mengadakan rapat bencana selama 30 menit?

Mulailah mengenali ancaman melalui informasi BNPB, BPBD, dan BMKG. Tentukan tindakan keselamatan sesuai jenis ancaman, jalur evakuasi, titik kumpul, serta cara berkomunikasi apabila anggota keluarga terpisah.

Sepakati siapa membantu bayi, anak, lansia, penyandang disabilitas, atau anggota keluarga yang membutuhkan pendampingan.

Siapkan dokumen penting, obat rutin, air, makanan, P3K, senter, dan perlengkapan darurat. Kemudian lakukan simulasi berkala.

Uji pula skenario ketika anak berada di sekolah, orang tua bekerja, dan komunikasi terputus.

Kesiapsiagaan perlu menjadi percakapan terbuka, bukan sekadar instruksi orang tua. Dengarkan kekhawatiran anak, pengalaman lansia, serta kebutuhan anggota keluarga dengan disabilitas.

Anak, sesuai usia dan kemampuannya, dapat belajar mengenali peringatan, mengingat kontak keluarga, dan memahami tindakan keselamatan dasar.

Dengan demikian, rapat bencana bukan hanya menghasilkan daftar perlengkapan, tetapi juga membangun tanggung jawab, kepercayaan, dan kerja sama keluarga.

Ketangguhan Tidak Berakhir Setelah Bencana

Setelah bencana, keluarga mungkin kehilangan rumah, pekerjaan, rutinitas sekolah, atau akses pengobatan. Ketakutan dan kesedihan juga dapat bertahan setelah keadaan darurat berakhir.

Karena itu, rencana keluarga perlu mencakup pemulihan: dukungan psikososial, keberlanjutan pengasuhan, akses layanan dasar, serta bantuan komunitas.

Anak membutuhkan penjelasan sesuai usia dan orang dewasa yang bersedia mendengarkan. Anggota keluarga yang mengalami tekanan psikologis berat memerlukan akses pertolongan profesional.

Ketahanan keluarga bukan sekadar selamat, melainkan mampu membangun kembali kehidupan dengan martabat.

Ketangguhan Dimulai Sebelum Bencana

Jadikan 13 Oktober momentum audit kesiapsiagaan: periksa keamanan hunian, perbarui kontak darurat, cek perlengkapan, dan latih rencana keselamatan bersama.

Namun, rumah aman bukan hanya tanggung jawab penghuninya. Ketangguhan memerlukan solidaritas masyarakat dan kebijakan yang melindungi keluarga paling rentan.

Resilience Starts at Home.

Ketangguhan dimulai dari rumah, tetapi tidak boleh berhenti pada rumah masing-masing.

Sebab keluarga tangguh bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi bencana, melainkan keluarga yang berikhtiar mengurangi risiko, saling melindungi, dan menata kembali kehidupan setelah ujian datang.

Jangan menunggu bencana untuk mengetahui apakah keluarga kita siap menghadapinya.

Related Articles

Back to top button