OpiniWanita PUI

ALGORITMA IKUT DUDUK DI MEJA MAKAN

Ketika Setiap Anggota Keluarga Disuguhi Dunia yang Berbeda

Refleksi Pekan Literasi Media dan Informasi Global, 26 Oktober 2026

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI

Sebuah keluarga duduk bersama di meja makan. Ayah mengikuti berita ekonomi, ibu menyaksikan konten pengasuhan, sementara anak menikmati video hiburan. Mereka tinggal serumah, menggunakan internet yang sama, tetapi menerima gambaran dunia yang berbeda.

Perbedaan minat bukan masalah. Namun, bagaimana jika informasi yang mereka konsumsi terus dipilihkan berdasarkan kebiasaan sebelumnya, hingga masing-masing jarang menemukan pandangan lain?

Algoritma ikut duduk di meja makan. Ia tidak terlihat, tetapi dapat memengaruhi perhatian, percakapan, dan cara anggota keluarga memahami kenyataan. Tantangan keluarga digital bukan sekadar mengurangi waktu layar, melainkan memastikan bahwa layar tidak mempersempit keluasan berpikir. Kedekatan fisik belum tentu menghasilkan kedekatan pemahaman.

Ketika Informasi Dipilihkan

Algoritma rekomendasi menggunakan berbagai sinyal, termasuk riwayat tontonan dan interaksi, untuk memperkirakan konten yang menarik bagi pengguna. Sistem ini bermanfaat untuk menemukan pengetahuan dan hiburan. Namun, dalam kondisi tertentu, personalisasi dapat membatasi keberagaman informasi yang ditemui pengguna, meskipun dampaknya berbeda menurut platform dan perilaku pengguna.

Eli Pariser dalam The Filter Bubble (2011) memperkenalkan konsep gelembung informasi, ketika penyaringan personal dapat membatasi paparan terhadap perspektif berbeda. Konsep ini penting, tetapi bukan bukti bahwa setiap pengguna pasti terkurung dalam gelembung serupa.

Penelitian Children’s Data Lives – Year 2 oleh Information Commissioner’s Office Inggris (2025) melaporkan bahwa seluruh anak dalam sampel penelitian menggunakan platform dengan umpan berbasis algoritma. Banyak yang memahami hubungan antara aktivitas dan rekomendasi konten, tetapi jarang mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Temuan kualitatif ini tidak mewakili seluruh anak.

Persoalannya bukan bahwa algoritma selalu menyesatkan, melainkan ketika pengguna menganggap konten yang sering muncul sebagai gambaran lengkap tentang kenyataan. Sesuatu yang sering ditampilkan belum tentu paling benar, paling penting, atau paling mewakili masyarakat.

Algoritma Bukan Satu-satunya Penyebab

Tidak tepat menyalahkan algoritma atas setiap perbedaan pandangan dalam keluarga. Pengaruh media digital melibatkan pilihan pribadi, lingkungan sosial, kebiasaan, dan karakteristik platform. Rekomendasi tidak otomatis menentukan keyakinan seseorang.

Karena itu, keluarga membutuhkan pendekatan lebih matang daripada sekadar melarang media sosial. Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang kamu tonton?”, tetapi juga, “Mengapa konten itu terus muncul, dan adakah sudut pandang lain yang belum kamu lihat?”

Perubahan pertanyaan tersebut menggeser pendidikan digital dari pengawasan menuju pemahaman. Orang tua tidak harus mengetahui seluruh aktivitas digital anak. Anak juga perlu memahami bahwa pendampingan bukan selalu berarti pembatasan. Keduanya membutuhkan percakapan yang membangun kepercayaan dan kemampuan berpikir mandiri.

Islam Mengajarkan Keluasan Berpikir

Allah Swt. berfirman: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (QS. az-Zumar [39]: 18).

Ibnu Katsir dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm menjelaskan keutamaan orang yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik. Ayat tersebut memberikan landasan etis untuk menilai informasi, bukan sekadar menerima yang paling sering muncul atau paling sesuai dengan kesukaan pribadi.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. al-Bukhari no. 893; Muslim no. 1829). Tanggung jawab pendidikan orang tua mencakup pendampingan dalam membentuk pertimbangan dan kebiasaan anak.

Ibnu Khaldun melalui al-Muqaddimah menguraikan pentingnya pendidikan, kebiasaan, dan lingkungan dalam pembentukan manusia. Dalam penerapan masa kini, lingkungan itu juga mencakup ruang digital. Pendidikan Islam tidak cukup menghasilkan anak yang mampu mengoperasikan teknologi; ia perlu membentuk manusia yang mampu mempertanyakan pengaruh teknologi terhadap pikirannya.

Ketika Rumah Kehilangan Percakapan

Dahulu, anggota keluarga sering memperoleh informasi dari sumber bersama. Kini, setiap perangkat dapat menampilkan pilihan berbeda. Ayah menganggap persoalan ekonomi paling mendesak. Ibu lebih banyak menerima informasi kesehatan keluarga. Anak merasa tren tertentu merupakan persoalan terpenting. Semua memiliki alasan berdasarkan pengalaman informasinya.

Masalah muncul ketika pengalaman pribadi dianggap mewakili seluruh kenyataan. Percakapan dapat berubah menjadi saling menyalahkan karena setiap orang merasa pandangannya paling masuk akal. Padahal ketahanan keluarga tidak menuntut keseragaman pendapat. Yang diperlukan ialah kemampuan mendengarkan pengalaman berbeda dan mencari titik temu.

Keluarga tangguh bukan keluarga tanpa perbedaan, melainkan keluarga yang mampu memahami asal-usul perbedaan tersebut. Di meja makan, keluarga dapat menanyakan dari mana sebuah informasi berasal, mengapa terasa meyakinkan, dan apakah ada bukti lain. Percakapan demikian membantu menjaga hubungan sekaligus melatih kehati-hatian dalam menerima informasi digital.

Keluarga juga perlu menyadari bahwa algoritma bukan pengganti dialog. Informasi yang berbeda dapat dibicarakan dengan tenang, tanpa mempermalukan anggota keluarga yang memiliki pandangan lain.

Maqāṣid Syariah dan Ishlahuts Tsamaniyah

Imam al-Syathibi dalam al-Muwāfaqāt menjelaskan bahwa syariat berorientasi pada kemaslahatan manusia. Jasser Auda dalam Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach (2008) mengembangkan pendekatan sistem yang memperhatikan keterkaitan dimensi kehidupan.

Literasi algoritmik dapat dikaitkan dengan ḥifẓ al-‘aql, yakni pemeliharaan kemampuan berpikir, serta penguatan keluarga melalui pendidikan dan hubungan sehat. Kaitan tersebut merupakan penerapan kontemporer, bukan pembahasan algoritma secara langsung dalam karya klasik.

Dalam kerangka Ishlahuts Tsamaniyah, Iṣlāḥ al-‘Aqīdah (perbaikan akidah) meneguhkan orientasi kebenaran; Iṣlāḥ al-‘Ibādah (perbaikan ibadah) membangun tanggung jawab penggunaan waktu; Iṣlāḥ at-Tarbiyah (perbaikan pendidikan) memperkuat literasi kritis; dan Iṣlāḥ al-‘Āilah (perbaikan keluarga) menghidupkan percakapan keluarga.

Iṣlāḥ al-‘Ādah (perbaikan kebiasaan) membentuk kebiasaan digital; Iṣlāḥ al-Iqtiṣād (perbaikan ekonomi) menumbuhkan kesadaran terhadap rekomendasi komersial; Iṣlāḥ al-Mujtama‘ (perbaikan masyarakat) memperluas kepedulian sosial; dan Iṣlāḥ al-Ummah (perbaikan umat) memperkuat tanggung jawab terhadap ekosistem informasi.

Literasi algoritmik bukan sekadar keterampilan memahami sistem rekomendasi, melainkan bagian dari pendidikan akal, pembentukan kebiasaan, dan pemeliharaan hubungan keluarga.

Rumah sebagai Ruang Memperluas Pandangan

UNESCO mengangkat tema Pekan Literasi Media dan Informasi Global 2026, “We All Play a Part – Media and Information Literacy for the People.” Pada Juni 2026, UNESCO juga meluncurkan Growing Up in a Connected World: A Family Guide for the Digital Age, yang menekankan pendampingan keluarga dalam kehidupan digital.

Kedua inisiatif tersebut menunjukkan bahwa literasi media merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata urusan sekolah atau perusahaan teknologi. Keluarga tidak harus menolak personalisasi digital. Yang diperlukan ialah kemampuan menjaga keluasan pandangan di tengah informasi yang semakin dipersonalisasi.

Ketika anggota keluarga saling mendengarkan, perbedaan informasi dapat memperkaya pemahaman, bukan memperlebar jarak. Teknologi tetap digunakan, tetapi manusia tidak menyerahkan seluruh penilaiannya kepada teknologi.

Sebab rumah bukan tempat semua orang harus melihat melalui jendela yang sama. Rumah adalah tempat berbagai jendela dibuka agar setiap anggota keluarga menyadari bahwa dunia lebih luas daripada apa yang dipilihkan sebuah layar.

Related Articles

Back to top button