Garda Pangan Jangan Dilupakan

Garda Pangan Jangan Dilupakan

Wabah Covid-19 kini memasuki bulan kedua di Indonesia. Penyebaran wabah penyakit ini sangat cepat hingga saat ini telah menerpa 22 provinsi. Epicentrum Covid-19 adalah Jakarta, yang merupakan Ibukota tempat mencari nafkah masyarakat sub-urban baik yang berasal dari kota sekitarnya, provinsi bahkan dari pulau di luar Pulau Jawa. Merebaknya wabah penyakit ini sungguh super cepat dan tidak bisa diduga dari mana dan dari siapa penularannya.

Berbagai upaya baik pemerintah pusat, pemerintah daerah khususnya DKI Jakarta maupun seluruh komponen masyarakat terfokus semua aktivitasnya menghadapi penyakit ini. Pemberlakuan work from home menjadi satu cara agar terjadi social distancing untuk menghentikan penyebaran Corona. Masyarakat dan pemerintah bahu membahu melakukan berbagai upaya sanitasi lingkungan ataupun proteksi diri agar tidak menjadi beban tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19.

Saking fokusnya kita semua yang ada di urban dengan Covid-19, kita hampir melupakan saudara-saudara kita di pedesaan yang berprofesi sebagai petani, peternak dan nelayan. Kita yang ada di kota sangat sibuk dengan isu Corona padahal selama stay home kita disuplai pangan oleh petani, peternak dan nelayan. Urusan sekolah, bekerja, berdagang,kontrak proyek, membangun gedung, wisata, produksi di pabrik, usaha transportasi boleh ditunda… tetapi urusan pangan tidak bisa ditunda. Ini soal hidup dan mati. Pentingnya kita mencegah dan menanggulangi Covid-19 sama pentingnya dengan kita memproduksi pangan. Oleh karena itu, petani, peternak dan nelayan adalah garda pangan terdepan (seperti halnya tenaga medis menjadi garda terdepan penanganan covid-19), yang harus diperhatikan juga kesehatannya dan jangan sampai terkena wabah Covid-19. Mereka akan sangat repot, ditengah kondisi mereka yang sulit untuk menjangkau fasilitas kesehatan yang serba terbatas.

Petani, peternak dan nelayan benar-benar secara sistematik harus dilindungi oleh Pemerintah baik pusat maupun daerah. Sekali mereka terpapar Covid-19 (a’udzubillahi mindzaalik) maka penyebaran akan sulit dibendung, karena kondisi kultural dan sosial mereka yang guyub sering berkumpul, menjenguk tetangga sakit, serta terbatasnya alat pelindung diri yang dimiliki oleh keluarga mereka. Tidak bisa terbayangkan jika ini terjadi dan kemungkinan akan menyebabkan gangguan pada produksi bahan pangan, sehingga mengakibatkan kelangkaan (shortage) yang berdampak jangka panjang. Sementara itu diyakini pemerintah belum siap memiliki stok yang cukup untuk bahan pangan, terutama sumber protein hewani yang sistem penyimpanannya tidak sederhana.

Padahal dalam waktu yang kurang dari satu bulan Ramadhan akan datang dan harus dipastikan kebutuhan pangan bisa tercukupi. Sebenarnya Ramadhan bisa menjadi hikmah bagi masyarakat muslim yang berpuasa, karena dengan menahan lapar dan dengan tidak mengkonsumsi pangan selama puasa dapat mengurangi tingkat kebutuhan pangan. Namun seperti biasanya dan ini yang terjadi secara tradisi, di bulan Ramadhan justru kebutuhan pangan malah meningkat. Inilah yang menjadi kekahawatiran apabila kondisi kesehatan petani, peternak dan nelayan terganggu oleh Covid-19. Kemungkinan import bahan pangan juga tidak mudah, karena beberapa negara sumber komoditi import juga mengalami persoalan yang sama akibat Covid-19 ini.

Sistem logistik pangan antar wilayah tidak dalam kondisi normal dengan adanya pembatasan pelaku usaha logistik dan karantina wilayah, sehingga stok bahan pangan bisa terhambat dan bisa menyebabkan supply shock. Selain itu pasar-pasar tradisional, supermarket dan grosir-grosir bahan pangan saat ini mengalami penurunan aktivitas, karena pembatasan jam buka untuk menghindari kerumunan agar tidak terjadi penyebaran wabah penyakit. Jika hal ini tidak diambil tindakan yang masif, maka masyarakat tidak akan mudah mendapatkan bahan pangan dan berpotensi terganggunya asupan gizi yang memadai dan kesehatan masyarakat.

Dilema produksi dan permintaan bahan pangan sudah mulai terasa sebagai dampak wabah Covid-19. Dalam kondisi pedesaan tidak terganggu dengan wabah covid-19, petani, peternak dan nelayan masih bisa menghasilkan bahan pangan. Petani dan peternak sudah bersiap menghasilkan barang yang akan dijual untuk suplai selama Ramadhan, disisi lain kondisi market di kota semakin lesu akibat terbatasnya akses masyarakat ke pasar karena harus stay home (masyarakat tidak mau ada resiko terpapar dengan datang ke kerumunan di pasar). Berdasarkan pantauan di lapangan dari para pelaku usaha ternak, banyak peternak mengeluh karena harga ayam, kambing, domba dan sapi turun hingga dibawah harga pokok produksi. Baiklah masalah turun harga dan berkurangnya keuntungan mungkin saja bukan prioritas saat kondisi seperti seperti ini. Namun mereka memerlukan kepastian kapan usaha mereka akan pulih kembali. Semakin cepat kondisi normal, maka insyaallah semakin cepat juga pemulihan ekonomi pedesaan. Oleh karena itu desa seyogyanya menjadi wilayah yang ‘tidak boleh’ tersentuh Corona, karena desa adalah lumbung pangan.

Bayangkan jika penyebaran Covid-19 sampai ke pedesaan apa yang akan terjadi?. Produksi dan suplai pangan akan terganggu, pasar dan grosir bahan pangan tidak optimal menyediakan komoditi, dan akses masyarakat kota terhadap pangan terbatas. Hal ini jangan sampai terjadi dan harus segera diantisipasi, dikalkulasi dengan cermat, hal-hal apa yang harus mendapat perhatian dari pemerintah, pengusaha dan masyarakat agar suplai shock ini tidak terjadi.Berkaca dari dampak Covid-19 yang berpotensi menyebabkan persoalan kelangkaan bahan pangan, maka ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat:

  1. Masyarakat yang kini berada di urban terutama di Jakarta harus menyadari bahwa berdiam di Jakarta dan tidak mudik merupakan perbuatan yang mulia karena dapat mengurangi resiko penyebaran di desa mereka berasal. Perlu disosialisasikan bahwa berperilaku tidak mudik dan tetap di rumah adalah salah satu perjuangan bagi kemanusiaan dan negara. Menjaga nyawa diri sendiri dan orang lain adalah sebuah kewajiban dalam Islam. Jikalau kita tidak pernah berjasa bagi negara dan orang lain maka saatnya sekarang melakikan hal ini.
  2. Pemerintah harus sekuat tenaga dan menghasilkan program inovatif untuk menahan masyarakat kota agar tidak mudik menjelang ramadahan dan lebaran, misal dengan pembatasan angkutan, kontrol ketat di station dan pool angkutan darat, bandara dan dermaga, dan penyediaan jatah hidup (jadup) bagi warga yang tidak bisa mudik dan tidak bisa mencari nafkah. Koordinasi antar pimpinan daerah dan pusat menjadi sangat penting. Saat ini bukan masanya untuk menonjolkan siapa yang paling berpengaruh, tetapi siapa yang legowo melayani masyarakat agar tidak menjadi pembawa bencana berkepanjangan bagi warga desa pemasok bahan pangan.
  3. Pemerintah perlu menjamin penyediaan pangan yang mudah diakses oleh masyarakat kota yang tetap tinggal di kota/rumah dengan menfungsikan pasar daerah yang lebih terkoordinir dan lebih lebih baik tatakelolanya untuk menyediakan bahan pangan. Kerjasama pemerintah dengan jasa transportasi online menjadi sangat penting, masyarakat dapat memanfaatkan jasa pengiriman bahan pangan lewat secara online, selain memudahkan untuk mendapat bahan pangan juga membantu pelaku jasa transportasi online tetap berpenghasilan. Jika hal ini tidak terwujud makan arus mudik tidak akan terbendung dengan berbagai akibatnya di pedesaan.
  4. Pemerintah perlu mengantisipasi dan memberikan perhatian lebih disaat sekarang untuk memastikan pasokan pangan dari desa ke kota dengan tetap memperhatikan keuntungan bagi petani, peternak dan nelayan. Perlu insentif berupa kemudahan permodalan, pendampingan secara online atau menggunakan media lain, input produksi dan akses pasar bagi para garda pangan ini agar mereka tetap bersemangan berproduksi dalam rangka menyangga suplai import tidak bisa dilakukan. Pemerintah juga harus berupaya agar mereka terjaga kesehatannya sehingga terus bisa beraktivitas di ladang, sawah,kandang dan laut atau danau.
  5. Edukasi segera tentang manajemen kesehatan dan penanganan Covid-19 kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat, ulama, para pimpinan rukun warga melalui berbagai media yang dapat dijangkau oleh mereka tanpa harus berkerumun. Agar masyarakat desa mulai memahami bagaimana mencegah dan menangani wabah ini.

Semoga dengan berbagai ikhtiar ini Allah azza wa jalla melindungi kita semua dan juga para garda pangan di desa, sehingga mereka masih bisa menghasikan bahan pangan untuk dipasok ke kota.

 

Prof Dr Luki Abdulah
Guru Besar IPB
Anggota Dewan Pakar Pusat PUI

Leave a Reply