Kabar Nasional

Ketum PP Pemuda PUI: Pemuda Harus Jadi Pemimpin Perubahan di Era Disrupsi Menuju Indonesia Emas 2045

Indramayu – Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Persatuan Ummat Islam (PUI), U. Palahuddin Assopari, menegaskan bahwa generasi muda harus mengambil peran strategis sebagai pemimpin perubahan dalam menghadapi tantangan era disrupsi dan menyongsong Indonesia Emas 2045. Hal itu disampaikannya saat memberikan materi pada pembukaan Training Intisab I Pengurus Daerah (PD) Pemuda PUI Kabupaten Indramayu, Ahad (11/10/2026), yang diikuti 80 peserta.

Palahuddin menjelaskan bahwa era disrupsi adalah periode perubahan cepat dan mendasar akibat perkembangan teknologi, inovasi, dan perubahan sosial. Kondisi ini ditandai disrupsi teknologi dan regulasi, serta pergeseran karakteristik antargenerasi, termasuk transisi dari generasi milenial ke Generasi Z. Dampaknya terasa di berbagai aspek kehidupan, mulai dari transportasi berbasis digital, transaksi melalui dompet digital (e-wallet) dan QRIS, hingga kemudahan mengakses pendidikan dan informasi secara daring.

Menurutnya, generasi muda perlu memandang perkembangan ini sebagai tantangan sekaligus peluang, terlebih Indonesia sedang berada dalam momentum bonus demografi yang menempatkan pemuda sebagai kekuatan penting penentu arah masa depan bangsa. Generasi Z dan Generasi Alpha yang tumbuh bersama teknologi digital dinilai berpotensi menjadi generasi yang adaptif, kreatif, dinamis, dan kolaboratif, sepanjang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu melahirkan gagasan, inovasi, dan solusi bagi persoalan masyarakat.

“Pemuda adalah kekuatan utama perubahan bangsa, bukan sekadar penonton di negeri sendiri,” tegasnya di hadapan para peserta.

Empat Tantangan Pemuda di Era Disrupsi

Di balik berbagai kemudahan teknologi, Palahuddin mengingatkan empat tantangan utama yang perlu diwaspadai generasi muda.

Pertama, ketergantungan terhadap teknologi, yang dapat menurunkan produktivitas dan interaksi sosial langsung jika tidak digunakan secara bijak. Kedua, banjir informasi (information overload), yang meningkatkan risiko penyebaran hoaks dan mengganggu kemampuan memilah informasi yang benar dan bermanfaat. Ketiga, tantangan kesehatan mental akibat tekanan sosial, perbandingan diri, dan tuntutan pengakuan di ruang digital yang berpotensi memicu kecemasan dan stres. Keempat, kesenjangan adaptasi digital, yakni perbedaan kemampuan dan kesiapan masyarakat mengikuti perkembangan teknologi yang kian cepat.

Meski demikian, era disrupsi juga membuka peluang besar. Akses pendidikan dan pelatihan daring memungkinkan pemuda meningkatkan kompetensi tanpa batas ruang dan waktu. Ekonomi kreatif dan kewirausahaan digital, seperti content creation, perdagangan elektronik (e-commerce), dan pengembangan teknologi, membuka ruang membangun usaha. Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas jejaring, membangun kolaborasi, dan menggerakkan aksi sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tiga Peran Strategis Pemuda PUI

Untuk menjawab tantangan tersebut, Palahuddin mendorong seluruh kader Pemuda PUI menjalankan tiga peran strategis.

Pertama, membangun tanggung jawab digital. Kader diminta menjadi bagian dari solusi dalam melawan hoaks dengan membiasakan verifikasi informasi, bermedia sosial secara bertanggung jawab, dan menyebarkan konten yang positif, edukatif, serta mencerahkan.

Kedua, menjadi inovator yang solutif. Pemuda perlu memanfaatkan teknologi untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Inovasi, katanya, tidak harus dimulai dari hal besar, tetapi bisa berangkat dari gagasan sederhana yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Ketiga, menjaga karakter dan nilai moral. Kemampuan digital harus berjalan beriringan dengan penguatan akhlak, etika, dan tanggung jawab, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya bangsa. Bagi kader Pemuda PUI, kemajuan zaman harus tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan semangat perjuangan organisasi.

Pesan tersebut menjadi relevan dalam Training Intisab I sebagai bagian dari pembinaan kader, yang tidak hanya membangun pemahaman terhadap nilai dan identitas organisasi, tetapi juga mempersiapkan pemuda memiliki kapasitas, karakter, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.

Menutup pemaparannya, Palahuddin mengajak seluruh kader tidak bersikap pasif, melainkan berani mengambil inisiatif, mengembangkan potensi, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan agama.

“Di era disrupsi, pilihan kita hanya dua: beradaptasi dan memimpin perubahan, atau diam dan tergilas oleh zaman. Mari ambil peluang!” pesannya.

Melalui Training Intisab I ini, diharapkan lahir kader-kader Pemuda PUI yang memiliki keteguhan nilai, kecakapan menghadapi perubahan, dan semangat pengabdian untuk berkontribusi mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Related Articles

Back to top button