Wanita PUI

Menua Bersamamu

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI

Masa tua ternyata bukan hanya tentang rambut yang memutih, langkah yang melambat, atau tubuh yang tak lagi sekuat dahulu. Masa tua juga tentang seseorang yang masih duduk di sebelah kita setelah begitu banyak tahun berlalu.

Seseorang yang dahulu kita pilih ketika wajah masih muda dan perjalanan terasa begitu panjang.

Dulu, percakapan dipenuhi rencana. Tentang rumah yang ingin dibangun, anak-anak yang ingin dibesarkan, pekerjaan, pendidikan, dan banyak tempat yang ingin dikunjungi.

Hari-hari kemudian menjadi begitu sibuk. Mencari nafkah, mengurus rumah, membesarkan anak, menghadapi masalah, berbeda pendapat, kecewa, berdamai, lalu kembali menjalani kehidupan.

Tanpa terasa, puluhan tahun berlalu.

Anak-anak yang dahulu memenuhi rumah dengan tangis dan tawa telah dewasa. Mereka memiliki kesibukan, keluarga, dan jalan hidupnya sendiri.

Rumah pun perlahan kembali dihuni dua orang.

Seperti ketika semuanya bermula.

Hanya saja, kini wajah telah berubah. Kacamata lebih sering dicari. Langkah mulai berhati-hati. Nama seseorang terkadang terlupa. Dan percakapan yang dahulu dipenuhi impian besar berubah menjadi kalimat-kalimat sederhana.

“Sudah minum obat?”

“Jangan terlalu capek.”

“Pelan-pelan, lantainya licin.”

Mungkin beginilah cinta setelah puluhan tahun.

Ia tidak selalu datang sebagai bunga atau kata-kata indah. Kadang cinta hanyalah tangan yang spontan terulur ketika pasangannya hendak berdiri. Membukakan tutup botol yang tak lagi kuat dibuka. Mencarikan kacamata yang ternyata sejak tadi berada di atas meja. Atau sengaja memperlambat langkah karena orang di sebelahnya tak lagi mampu berjalan cepat.

Pada usia muda, kita mungkin mengira cinta adalah menemukan seseorang yang membuat jantung berdebar.

Pada masa tua, kita mengerti bahwa cinta adalah tetap ingin menjalani hari bersama orang yang sama, meski kehidupan tak lagi seramai dahulu.

Ia telah melihat kita dalam begitu banyak keadaan. Ketika sehat dan ketika terbaring sakit. Ketika sabar dan ketika sulit dimengerti. Ia mengenal kekurangan kita lebih dekat daripada kebanyakan orang, tetapi tetap memilih merawat kebersamaan itu dari hari ke hari.

Barangkali itulah makna menua bersama.

Bukan kehidupan tanpa luka, melainkan dua manusia yang berkali-kali memilih memperbaiki apa yang retak dan meneruskan perjalanan.

Namun menua bersama bukan berarti dunia harus semakin mengecil.

Ketika pekerjaan telah berakhir dan anak-anak mempunyai kehidupan sendiri, masih ada kehidupan lain yang dapat dijalani. Ada masjid dan majelis taklim, tetangga yang perlu disapa, sahabat lama yang dapat dikunjungi, kegiatan sosial yang bisa diikuti, serta ilmu dan pengalaman yang dapat diwariskan kepada generasi setelahnya.

Barangkali suatu pagi keduanya berjalan pelan menuju pengajian. Pada hari lain menjenguk tetangga yang sakit. Sesekali menghadiri pernikahan anak seorang sahabat, menerima kedatangan cucu-cucu, atau membantu kegiatan di lingkungan.

Sebab masa tua bukan masa untuk sekadar menunggu kehidupan selesai. Usia boleh bertambah, tetapi kesempatan untuk mencintai, berbagi, dan menghadirkan kebaikan tidak harus ikut menua.

Pada masa muda, kita membangun rumah bersama pasangan. Pada masa tua, pasangan menjadi teman untuk tetap membuka pintu rumah itu kepada kehidupan.

Namun menua bersama juga menyimpan satu kesunyian yang jarang dibicarakan.

Dari dua orang yang begitu lama berjalan berdampingan, mungkin akan ada seorang yang harus lebih dahulu belajar berjalan sendiri.

Suatu hari satu kursi bisa kosong. Tak ada lagi suara yang bertanya apakah obat sudah diminum. Tak ada lagi seseorang yang selama puluhan tahun tidur di sisi yang sama.

Mungkin pada saat itulah anak-anak, saudara, sahabat, tetangga, majelis, dan komunitas yang selama ini dirawat menjadi lingkaran kasih yang menemani seseorang menjalani hari-hari senjanya.

Karena itu, selagi masih berdua, jangan habiskan usia hanya dengan menghitung kekurangan pasangan.

Duduklah sedikit lebih lama. Minumlah teh bersamanya. Sesekali tataplah wajah yang telah menua di sebelah kita.

Di balik setiap keriputnya ada tahun-tahun yang telah dilewati bersama. Ada pertengkaran yang akhirnya dimaafkan, kesulitan yang pernah dilalui, anak-anak yang dibesarkan, doa-doa yang diaminkan bersama, dan hari-hari biasa yang kelak mungkin justru paling dirindukan.

Jika Allah memberi umur panjang, barangkali salah satu karunia terindah bukan sekadar menjadi tua.

Melainkan setelah perjalanan yang begitu panjang, ketika langkah telah semakin pelan, kita masih dapat menoleh ke samping—dan menemukan orang yang sama masih berada di sana.

Related Articles

Back to top button